BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Tragedi di laut terjadi ketika nahkoda Kapal Mina Karunia Abadi, Sarno (57), meninggal dunia saat kapal sedang berlayar di perairan Pacitan, Jawa Timur.
Kejadian tersebut mengundang perhatian dan respons cepat dari Tim Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Cilacap yang segera melakukan evakuasi.
Koordinator operasi dari Kantor SAR Cilacap, Bima Kalih Kahar, menjelaskan bahwa Sarno adalah warga Tegal Kamulyan, Cilacap Selatan.
Ia mengalami sakit batu empedu yang menjadi penyebab kematiannya saat kapal berlayar pada hari Sabtu (13/6).
“Korban meninggal dunia akibat sakit batu empedu saat kapal berada di perairan Pacitan,” ungkap Bima pada Minggu (14/6).
Informasi terkait insiden ini diterima oleh Kantor SAR Cilacap pada hari yang sama, dan segera setelah itu, satu tim rescue diberangkatkan menuju
Dermaga Pelabuhan Sleko untuk melaksanakan proses evakuasi.
Tim SAR gabungan berhasil tiba di titik pertemuan evakuasi yang terletak di Perairan Karangbolong sekitar pukul 06.12 WIB.
Dalam situasi darurat seperti ini, kecepatan dan ketepatan langkah sangat penting.
Sesampainya di lokasi, jenazah Sarno kemudian dipindahkan dari Kapal Mina Karunia Abadi ke Rigid Inflatable Boat (RIB) 06 milik Basarnas.
Proses pengangkutan jenazah ini dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan tidak ada kendala selama perjalanan.
Setelah itu, jenazah dibawa ke Dermaga PPSC Cilacap sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak RSUD Cilacap untuk penanganan lebih lanjut.
Bima menyampaikan bahwa proses evakuasi berjalan dengan aman dan lancar, tanpa adanya kendala berarti.
“Setelah korban berhasil dievakuasi dan diserahkan untuk penanganan lebih lanjut,” tandasnya.
Operasi evakuasi ini melibatkan berbagai pihak termasuk Kantor SAR Cilacap, Lanal Cilacap, Polairud Cilacap, TPKL, SAR Arnavat, serta dukungan dari keluarga korban dan warga setempat yang turut membantu dalam proses tersebut.
Operasi pencarian dan penyelamatan ini menunjukkan betapa pentingnya koordinasi antara berbagai instansi dalam menangani insiden di laut.
Dalam situasi darurat seperti ini, setiap detik sangat berharga dan dapat mempengaruhi hasil akhir dari operasi yang dilakukan.
Setelah proses evakuasi selesai dilaksanakan dan semua unsur terlibat kembali ke kesatuannya masing-masing, operasi SAR resmi dinyatakan ditutup pada pukul 07.00 WIB.
“Operasi SAR dinyatakan selesai dan seluruh unsur yang terlibat dikembalikan ke kesatuannya masing-masing,” pungkas Bima.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua akan risiko yang dihadapi para pelaut di tengah lautan serta pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat.
Tragedi ini juga menyoroti tantangan kesehatan yang dapat terjadi ketika berada jauh dari fasilitas medis.
Sakit batu empedu adalah kondisi yang serius dan bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat, terutama saat berada di tengah laut.
Oleh karena itu, penting bagi setiap pelaut untuk menjaga kesehatan mereka dengan baik serta memiliki rencana darurat untuk menangani masalah kesehatan mendesak.
Kehilangan Sarno sebagai nahkoda tentu menjadi duka mendalam bagi keluarganya dan komunitas maritim lainnya di Cilacap.
Kehidupan seorang pelaut sering kali penuh risiko dan tantangan, tetapi juga penuh dengan pengabdian terhadap pekerjaan mereka serta tanggung jawab terhadap keselamatan awak kapal lainnya.
Masyarakat perlu lebih menghargai profesi pelaut yang sering kali bekerja dalam kondisi sulit demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Dalam konteks yang lebih luas, kejadian tragis seperti ini juga membangkitkan kesadaran akan pentingnya keselamatan maritim dan perlunya edukasi mengenai kesehatan bagi para pelaut.
Pemerintah daerah bersama dengan instansi terkait seharusnya meningkatkan program-program edukatif mengenai kesehatan dan keselamatan kerja bagi para pekerja di sektor kelautan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Selain itu, upaya peningkatan fasilitas medis darurat di sekitar wilayah pelayaran juga perlu dipertimbangkan guna memberikan respon cepat jika terjadi insiden serupa lagi.
Ketika setiap elemen dalam sistem keselamatan maritim saling bekerja sama dengan baik, maka potensi risiko dapat diminimalisir secara signifikan.
Dengan kegiatan evakuasi yang sukses kali ini oleh Tim Basarnas Cilacap serta dukungan dari berbagai instansi terkait menunjukkan komitmen mereka dalam menjaga keselamatan jiwa manusia di tengah laut. (jul/stch/dda)














