Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Persemaian Padi Diserang Hama Tikus, Petani di Sumpiuh Terpaksa Semai Ulang

Persemaian diserang tikusPersemaian diserang tikus

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Hama tikus kembali menjadi momok bagi petani di Gerumbul Simelik, Desa Selanegara, Kecamatan Sumpiuh. Serangan tikus yang menyasar area persemaian padi membuat para petani terpaksa melakukan penyemaian ulang, memicu kekhawatiran akan terganggunya ketahanan pangan dan jadwal tanam musim kedua.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Selanegara, Suparmin, mengungkapkan bahwa serangan ini terjadi secara masif dan merusak benih padi yang baru saja ditanam. Dirinya pun turut merasakan dampaknya.

“Benih padi di persemaian dimakan tikus, banyak petani yang harus semai ulang,” ujar Suparmin, Selasa (20/5).

Menghadapi situasi ini, Kepala Desa Selanegara, Imam Susanto, langsung berkoordinasi dengan penyuluh pertanian dan unsur muspika untuk melakukan aksi pengendalian hama secara manual.

Langkah awal yang diambil yakni melakukan gropyokan tikus —teknik tradisional dengan cara mengusir dan menangkap tikus di sawah secara massal.

Kegiatan ini melibatkan petani, TNI, Polri, penyuluh pertanian, hingga siswa sekolah dasar. Tak disangka, keterlibatan siswa justru menjadi momen edukatif dan menyenangkan bagi mereka.

“Asyik banget, seru juga bisa ikut menangkap tikus di sawah bersama teman-teman dari kelas satu sampai lima,” kata Ahmad Rifai Ramadan, siswa kelas 3 SD yang antusias mengikuti aksi gropyokan.

Namun, sebagian petani menilai aksi gropyokan belum cukup. Suharno, salah satu petani setempat, mengatakan bahwa populasi tikus saat ini terlalu tinggi sehingga dibutuhkan metode tambahan, seperti penggunaan obat hama tikus untuk menekan perkembangbiakannya.

“Gropyokan masih ada tikus yang bisa lolos. Kami kelompok tani membahas untuk pengendalian hama ini ditambah dengan obat,” ujarnya.

Serangan tikus ini tidak hanya merugikan secara ekonomi, tapi juga mengancam target ketahanan pangan di wilayah tersebut. Jika tidak segera ditangani, keterlambatan tanam dapat berakibat pada mundurnya panen dan penurunan produktivitas.

Para petani berharap pemerintah desa dan dinas terkait dapat segera mengalokasikan bantuan, baik berupa pestisida maupun edukasi pengendalian hama terpadu agar serangan tikus bisa dikendalikan secara berkelanjutan.

“Kami ingin solusi jangka panjang, bukan cuma sekali gropyokan, tapi ada tindak lanjutnya,” pungkas Suparmin.

Aksi kolektif seperti ini diharapkan dapat memicu kesadaran bersama pentingnya menjaga ekosistem pertanian dari serangan hama, sembari tetap melibatkan generasi muda dalam edukasi pertanian sejak dini. (fij/stch)

Berita Sebelumnya
Insentif mobil listrik akan dievaluasi

Insentif Mobil Listrik Akan Dievaluasi, Pemerintah Pertimbangkan Skema Emisi dan Dukungan ke Mobil Hybrid

Berita Selanjutnya
Budidaya ular ranjau darat albino pertama di dunia

Sukses Budidaya Ular Ranjau Darat Albino Pertama di Dunia, Kisah Menginspirasi dari Banjarnegara