BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Purbalingga saat ini berada dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan, dengan stok darah golongan O mengalami krisis yang signifikan.
Hingga Selasa, 23 Juni 2026, jumlah persediaan darah golongan O tersisa hanya 23 kantong, yang masuk dalam kategori merah, menandakan bahwa stok tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kurang dari satu hari.
Krisis ini muncul setelah adanya lonjakan permintaan darah golongan O yang meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Kepala UDD PMI Kabupaten Purbalingga, dr Mey Dian Intan Sari, memberikan penjelasan mengenai kondisi ini.
Dia menyatakan bahwa peningkatan kebutuhan akan darah golongan O merupakan penyebab utama penurunan persediaan.
“Terjadi kenaikan permintaan,” ungkapnya kepada awak media pada Selasa (23/6/2026).
Meskipun demikian, dr Mey mengakui bahwa pihak PMI belum dapat mengidentifikasi secara pasti faktor-faktor yang menyebabkan lonjakan kebutuhan darah tersebut.
Hal ini disebabkan karena PMI berfungsi sebagai penyedia stok darah sesuai permintaan dari rumah sakit.
Untuk mengatasi krisis ini dan menormalkan kembali ketersediaan stok darah, PMI melakukan berbagai upaya.
Salah satu langkah yang diambil adalah menyelenggarakan kegiatan donor darah massal.
Selain itu, PMI juga aktif menghubungi para pendonor yang telah memasuki jadwal donor kembali.
“Kami terus melakukan upaya agar stok darah kembali normal,” ujarnya tegas.
Data dari UDD PMI Kabupaten Purbalingga menunjukkan bahwa gejala penurunan stok darah golongan O sebenarnya sudah terlihat sejak dua pekan terakhir.
Pada tanggal 12 Juni 2026, stok darah golongan O tercatat sebanyak 75 kantong dan sudah masuk dalam kategori kuning, yang menunjukkan bahwa stok tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kurang dari dua hari.
Sejak saat itu, persediaan darah golongan O tidak pernah kembali ke kategori aman.
Kondisi ini semakin memburuk pada Sabtu, 20 Juni 2026, ketika stok darah golongan O hanya tersisa 32 kantong dan masuk dalam kategori merah.
Meski pada Senin, 22 Juni 2026, stok sempat meningkat menjadi 55 kantong sehingga kembali masuk kategori kuning, namun peningkatan tersebut tidak bertahan lama.
Hanya dalam waktu sehari setelahnya, tepatnya pada Selasa (23/6/2026), stok darah golongan O merosot kembali menjadi hanya 23 kantong.
Jumlah ini merupakan yang terendah dalam beberapa hari terakhir dan menunjukkan betapa mendesaknya situasi saat ini.
Menghadapi krisis ini, PMI menghimbau kepada masyarakat agar lebih peduli dan berpartisipasi dalam kegiatan donor darah.
Khususnya bagi pemilik golongan darah O yang memenuhi syarat kesehatan untuk mendonorkan darahnya guna membantu menjaga ketersediaan stok bagi pasien-pasien yang membutuhkan transfusi darah.
Krisis pasokan darah adalah isu serius yang perlu mendapatkan perhatian lebih dari semua pihak.
Kegagalan untuk memenuhi kebutuhan transfusi dapat berdampak serius pada keselamatan pasien di rumah sakit.
Oleh karena itu, kolaborasi antara PMI dengan masyarakat sangat penting untuk menciptakan kesadaran akan pentingnya donor darah secara sukarela dan teratur.
Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, pemenuhan kebutuhan akan transfusi darah tidak hanya bergantung pada kesiapan fasilitas kesehatan seperti PMI, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat sebagai pendonor. Ini adalah tanggung jawab bersama yang tidak dapat diabaikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat tentang pentingnya donor darah memang semakin meningkat, namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi.
Misalnya saja stigma atau mitos negatif seputar donor darah yang masih ada di kalangan sebagian orang.
Edukasi dan informasi yang tepat mengenai proses donor serta manfaatnya bagi kesehatan pendonor perlu terus dilakukan agar lebih banyak orang mau berkontribusi.
Selain itu, kegiatan promosi dan kampanye donor darah massal juga menjadi salah satu strategi efektif untuk meningkatkan jumlah pendonor baru.
Kegiatan semacam ini bukan hanya menyediakan kesempatan bagi masyarakat untuk mendonorkan darah mereka tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya membantu sesama melalui tindakan sederhana namun berarti ini.
PMI sebagai lembaga kemanusiaan memiliki peranan krusial dalam menjaga ketersediaan pasokan darah di daerah-daerah khususnya daerah dengan potensi risiko bencana atau kecelakaan tinggi seperti Purbalingga.
Upaya-upaya seperti pembentukan relawan donor dan peningkatan kerjasama dengan organisasi lain juga bisa menjadi jalan keluar untuk menghadapi krisis stok ini. (tya/stch/dda)














