BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Puluhan mahasiswa dari berbagai aliansi, yang dipimpin oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap, melaksanakan aksi unjuk rasa di halaman Alun-alun Cilacap pada Selasa, 23 Juni.
Dalam demonstrasi ini, mereka menyampaikan sejumlah tuntutan penting kepada Pemerintah Kabupaten Cilacap, yang dianggap perlu untuk segera ditindaklanjuti demi kesejahteraan masyarakat.
Siti Maryam, Presiden Mahasiswa BEM UNUGHA Cilacap, mengungkapkan bahwa salah satu fokus utama dari tuntutan mereka adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program ini dirasakan memberikan manfaat kepada masyarakat, namun pelaksanaannya masih dianggap perlu diperbaiki.
“Kami tidak menolak Program Makan Bergizi Gratis karena manfaatnya sudah dirasakan masyarakat. Yang kami minta adalah perbaikan tata kelolanya agar pelaksanaannya lebih baik dan tepat sasaran,” jelas Siti Maryam dengan penuh semangat.
Selain mendesak perbaikan dalam program gizi tersebut, para mahasiswa juga meminta agar dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan besar, khususnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Kabupaten Cilacap, dapat lebih banyak dialokasikan untuk mendukung dunia pendidikan.
“Kami berharap CSR perusahaan-perusahaan besar di Cilacap bisa lebih banyak dimanfaatkan untuk pendidikan, sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Tuntutan ini mencerminkan harapan mahasiswa agar pendidikan di daerah tersebut semakin maju dan berkualitas, serta memberikan kesempatan yang setara bagi semua kalangan.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga tidak luput dari perhatian terhadap isu kekerasan yang masih marak terjadi, terutama kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Mereka menyoroti fakta bahwa kasus-kasus seperti ini sering kali terabaikan.
Oleh karena itu, mereka meminta pemerintah untuk menyediakan ruang aman bagi perempuan dan anak serta memberikan perlindungan bagi para pelapor kasus kekerasan.
“Kami meminta pemerintah menyediakan ruang aman bagi perempuan dan anak. Pelapor juga harus mendapat perlindungan agar berani melaporkan kasus yang dialaminya,” tegas Siti Maryam.
Mahasiswa beranggapan bahwa penanganan kasus kekerasan harus dilakukan dengan tegas dan sesuai aturan yang berlaku.
Mereka mendesak agar pelaku kekerasan dihukum secara adil dan tegas untuk memberikan efek jera.
Selain itu, mereka juga menekankan pentingnya pendampingan bagi korban kekerasan, baik dalam bentuk pendampingan psikologis maupun hukum hingga proses penanganan kasus selesai.
Ini menunjukkan komitmen mahasiswa untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak di Cilacap.
Melalui aksi unjuk rasa ini, mahasiswa berharap semua aspirasi yang mereka sampaikan dapat menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Cilacap dan ditindaklanjuti melalui kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.
Mereka ingin memastikan bahwa suara mereka didengar dan direspons dengan tindakan nyata demi kebaikan bersama.
Kegiatan unjuk rasa ini bukan hanya sekadar bentuk protes, tetapi juga merupakan upaya mahasiswa untuk berperan aktif dalam pembangunan sosial di lingkungan mereka.
Dalam konteks ini, mahasiswa menunjukkan kepedulian terhadap isu-isu penting yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari warga Cilacap.
Sebagai generasi penerus bangsa, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk terlibat dalam setiap aspek pembangunan di daerahnya.
Dengan mengusung isu-isu kritis seperti program makan bergizi gratis dan perlindungan terhadap perempuan serta anak-anak, mereka mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan perubahan positif. (jul/stch/dda)
















