Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Pemkab Purbalingga Catat SiLPA 103,77 Miliar dan PAD Tembus 2,131 Triliun di Tahun Anggaran 2025
Pedagang Ikan Hias Purwokerto Tertekan Biaya Genset Akibat Listrik Sering Padam

Pedagang Ikan Hias Purwokerto Tertekan Biaya Genset Akibat Listrik Sering Padam

Pedagang Ikan Hias Masih Waswas Listrik PadamPedagang Ikan Hias Masih Waswas Listrik Padam
CEK AIR: Pedagang ikan hias di Pasar Ikan Hias Mina Restu Purwokerto mengecek kondisi air salah satu akuariumnya

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Meskipun PT PLN (Persero) mengonfirmasi bahwa situasi kelistrikan di Pulau Jawa mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, para pedagang ikan hias di Pasar Mina Restu Purwokerto tetap dibayangi kekhawatiran yang mendalam.

Mereka khawatir akan terjadinya pemadaman listrik yang dapat kembali mengancam ribuan ikan hias yang sangat bergantung pada pasokan oksigen serta sistem filtrasi akuarium yang berfungsi memelihara kualitas air.

Ketua Paguyuban Pasar Ikan Hias Mina Restu Purwokerto, Saeful Bahri, akrab disapa Ipung, menegaskan bahwa listrik merupakan kebutuhan vital bagi pedagang ikan hias.

Ketika listrik padam, aerator dan sistem filtrasi otomatis yang berfungsi menjaga kesehatan ikan akan berhenti beroperasi, sehingga berpotensi mengancam kelangsungan hidup ikan-ikan tersebut.

“Terdampak, tapi ada genset jadi tidak terlalu berpengaruh. Cuma menambah biaya operasional untuk beli bahan bakar genset. Sekali isi sekitar Rp100 ribu,” ujarnya saat ditemui di lapaknya pada Selasa (23/6/2026).

Pengalaman pahit bagi para pedagang terjadi saat pemadaman listrik tanpa pemberitahuan berlangsung selama sekitar tiga jam pada sore hingga malam hari.

Dalam situasi tersebut, pedagang harus bertindak cepat untuk mencegah kerugian yang lebih besar terhadap ikan-ikan peliharaan mereka.

“Pertama kali tanpa pemberitahuan, terjadi dari sore sampai malam sekitar tiga jam. Langsung kami nyalakan genset, padahal waktu itu saya sudah pulang ke rumah. Kalau yang kemarin sudah ada pemberitahuan sebelumnya,” ungkapnya.

Proses pengoperasian genset tidak selalu cukup untuk menjamin keselamatan ikan-ikan mereka.

Para pedagang juga harus mempersiapkan langkah darurat jika genset mengalami kerusakan mendadak.

Salah satu caranya adalah dengan memindahkan ikan ke dalam kantong plastik yang berisi oksigen.

Namun, langkah ini dianggap sangat merepotkan karena jumlah ikan yang dipelihara cukup banyak.

“Kalau listrik mati dan genset rusak, ikan-ikan harus dikantongi semua pakai oksigen. Itu cukup ribet,” tambahnya.

Di Pasar Mina Restu terdapat sekitar 30 pedagang aktif yang bergantung pada kelangsungan pasokan listrik untuk menjalankan usaha mereka.

Biaya operasional genset ditanggung secara bersama melalui iuran dari para pedagang.

“Kalau pakai genset tentu ada tambahan biaya operasional. Solar genset dibayar pedagang melalui iuran. Kalau genset menyala penuh bisa sekitar Rp100 ribu,” jelas Ipung.

Kekhawatiran terbesar bagi Ipung dan rekan-rekannya muncul ketika pemadaman terjadi pada malam hari saat pasar telah tutup dan para pedagang sudah pulang ke rumah masing-masing.

Padahal, peralatan pendukung akuarium harus tetap beroperasi selama 24 jam untuk menjaga keberlangsungan hidup ikan hias tersebut.

“Yang saya khawatirkan, kalau pemadaman saat malam, saat pasar sudah tutup, pedagang sudah pada pulang. Padahal mesin akuarium seperti aerator dan filter udara harus tetap menyala 24 jam,” katanya dengan nada penuh kecemasan.

Dampak pemadaman listrik terhadap kesehatan ikan hias tidak bisa dianggap sepele.

Kadar oksigen dalam akuarium dapat turun dengan cepat tanpa adanya pasokan listrik yang stabil.

“Kalau listrik mati, ikan bisa K.O. Satu jam tanpa listrik bisa mati. Kalau isi akuarium padat, paling cuma setengah jam saja sudah bisa mati semua,” tegasnya.

Di tengah ketidakpastian ini, para pedagang juga menghadapi tantangan lain berupa penurunan angka penjualan yang signifikan.

Ipung menjelaskan bahwa periode antara bulan Juni hingga Agustus biasanya menjadi masa sepi bagi para pedagang ikan hias karena masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan pendidikan anak menjelang tahun ajaran baru sekolah.

“Sekarang memang agak sepi. Banyak masyarakat fokus kebutuhan anak naik kelas atau masuk sekolah. Biasanya Juni, Juli, Agustus memang rada anyep penjualannya,” ungkapnya.

Kondisi ini turut berdampak pada omzet harian para pedagang yang kini jauh dari kondisi normal sebelumnya.

“Sekarang sehari paling sekitar Rp150 ribuan,” tambahnya dengan nada kecewa.

Hal serupa juga disampaikan oleh Heru, seorang pedagang ikan sekaligus pembuat aquascape di Pasar Mina Restu.

Ia menuturkan bahwa sejumlah jenis ikan bernilai tinggi sangat bergantung pada pasokan oksigen yang stabil untuk bertahan hidup dengan baik dalam akuarium mereka.

“Ikan arwana dan koi, oksigennya tidak boleh berhenti,” kata Heru menekankan pentingnya kestabilan oksigen bagi beberapa spesies ikan.

Heru juga menambahkan bahwa jenis-jenis tertentu seperti ikan koki dan arwana termasuk dalam kategori paling rentan terhadap gangguan pasokan oksigen yang mendesak ini.

“Ikan yang tidak boleh kekurangan oksigen itu seperti ikan koki dan arwana. Kebutuhan oksigennya tinggi,” paparnya lebih lanjut.

Sebelumnya, PT PLN (Persero) menyatakan bahwa kondisi sistem kelistrikan di Pulau Jawa mulai membaik sejak Minggu (21/6/2026).

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan bahwa pemadaman bergilir berhasil diminimalisir setelah pasokan energi primer kembali normal dan salah satu pembangkit besar yang sempat mengalami gangguan berhasil dipulihkan kembali ke kondisi semula.

Di tingkat regional, Manajer Komunikasi PLN UID Jawa Tengah Prayudha Fasya Perdana memastikan bahwa sistem kelistrikan di Jawa Tengah saat ini beroperasi dengan baik meskipun masih menerapkan manajemen beban terbatas dan terukur di sejumlah wilayah akibat gangguan pada dua unit pembangkit besar lainnya.

PLN menegaskan bahwa langkah-langkah manajeman beban ini bersifat sementara dan akan dihentikan secara bertahap seiring dengan membaiknya kondisi pasokan sistem kelistrikan secara keseluruhan.

Namun demikian bagi para pedagang ikan hias di Purwokerto, proses pemulihan sistem kelistrikan belum sepenuhnya meredakan rasa waswas mereka terhadap kemungkinan terjadinya pemadaman listrik sewaktu-waktu yang dapat mengancam keberlangsungan usaha mereka sehari-hari.

Dengan tantangan besar ini, harapan agar PLN dapat terus memperbaiki infrastruktur kelistrikan serta memberikan informasi tepat waktu mengenai situasi kelistrikan menjadi semakin mendesak demi menjaga keberlangsungan usaha para pedagang ikan hias di Pasar Mina Restu Purwokerto agar tetap berjalan lancar meski dalam kondisi sulit sekalipun. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Pendapatan 2025 Tembus Rp 2,13 Triliun

Pemkab Purbalingga Catat SiLPA 103,77 Miliar dan PAD Tembus 2,131 Triliun di Tahun Anggaran 2025