BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Dari sebuah desa terpencil di Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap, seorang seniman ukir bernama Darlam menorehkan kisah hidup yang menyentuh dan menginspirasi banyak orang.
Berusia 53 tahun, Darlam tinggal di Desa Gunungtelu dan dikenal sebagai perajin seni ukir dengan karya yang khas dan memikat, terutama dari dunia pewayangan dan kaligrafi Arab.
Kecintaan Darlam pada seni dimulai sejak kecil saat ia kerap menonton pertunjukan wayang kulit yang digelar di desanya.
“Awalnya saya gemar nonton wayang, dari situ timbul ide untuk membuat wayang ukir lalu diberi bingkai seperti lukisan,” ujar Darlam mengisahkan awal perjalanannya dalam dunia seni.
Memasuki tahun 2010, ia mulai serius menekuni bidang seni lukis ukir dengan mengangkat tokoh-tokoh wayang seperti Arjuna, Werkudara, dan Semar sebagai objek utama.
Tokoh-tokoh tersebut ia ukir dengan penuh detail dan sentuhan estetika tinggi, menjadikan rumahnya sebagai tempat produksi karya seni yang unik dan bernilai tinggi.
Namun tantangan besar muncul ketika seorang pelanggan memintanya membuat ukiran kaligrafi Arab, padahal saat itu Darlam sama sekali belum bisa membaca Al-Qur’an.
“Saya masih sangat minim pengetahuan bahasa Arab, baca tulis Al-Qur’an juga terbatas. Jadi awalnya saya sempat ragu, takut salah,” kata Darlam dengan jujur.
Meski dihadapkan pada keterbatasan, semangatnya tidak padam. Ia mulai belajar mengenal huruf hijaiyah dan mempelajari makna dari setiap kalimat dalam Al-Qur’an.
Belajar secara perlahan dan tekun, Darlam membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk berkembang dan memperbaiki diri.
“Saya merasa ini menjadi hikmah yang sangat berharga. Sampai sekarang pun saya masih terus belajar, jadi ketika ada pesanan kaligrafi saya tak ragu lagi,” lanjutnya dengan senyum penuh keyakinan.
Kini, karyanya tidak hanya terbatas pada tema pewayangan dan kaligrafi, tetapi juga meluas ke berbagai objek seperti nama pahlawan nasional, bunga, hewan, serta ornamen alam lainnya.
Studio kecil di sudut rumahnya kini menjadi pusat produksi karya ukiran yang diminati banyak kolektor, bahkan sampai ke luar negeri.
Ketekunan dan konsistensinya dalam berkarya menjadikan Darlam sosok yang tak hanya disegani di dunia seni, tapi juga di masyarakat sekitar.
Sebagai Kepala Dusun Gunungtelu, ia tetap aktif menjalankan tugas sosial sambil terus memproduksi karya seni dari hatinya.
Sosoknya yang rendah hati dan tak kenal menyerah menjadikannya panutan dan sumber motivasi bagi warga di desa maupun kalangan seniman lokal.
Darlam membuktikan bahwa keterbatasan dalam kemampuan atau pendidikan formal tidak menjadi halangan untuk menciptakan sesuatu yang bermakna dan bernilai tinggi.
Dengan semangat belajar yang terus menyala dan niat untuk selalu memperbaiki diri, Darlam menjadikan hidupnya sebagai bukti nyata bahwa kerja keras dan kemauan bisa mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.
Dari wayang hingga kaligrafi, karya Darlam bukan hanya menyimpan nilai seni, tapi juga menyuarakan kisah perjuangan dan keteguhan hati yang layak diapresiasi. (jul/*stch)
















