BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Siapa sangka sebuah kontainer bekas pengangkut barang dari pelabuhan bisa menjadi simbol harapan dan perjuangan mahasiswa? Di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Saizu Purwokerto, kontainer besi itu bukan sekadar bangunan, melainkan cikal bakal perubahan hidup.
Disebut Kantin Kontainer, tempat ini menjadi bukti bahwa beasiswa tidak harus selalu berupa uang tunai, melainkan bisa hadir dalam bentuk usaha nyata yang dikelola langsung oleh penerimanya.
Kantin Kontainer merupakan program kolaboratif antara Dompet Dhuafa Jawa Tengah dan UIN Saizu. Program ini merupakan bentuk beasiswa kewirausahaan mahasiswa, yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk menjalankan dan mengelola unit usaha secara langsung.
Program ini mulai dikenal sejak 2016 dan telah hadir di sejumlah kampus Islam seperti UIN Salatiga, IAIN Kudus, dan UIN Walisongo Semarang. Di Purwokerto, kantin mulai beroperasi pada awal 2025 dan langsung menarik perhatian sivitas kampus.
Ukuran kontainer sekitar 8×3 meter ini memang tidak terlalu besar, namun memiliki dampak yang luas.
Di dalamnya terdapat etalase makanan, kompor, meja kasir, serta lemari pendingin.
Menunya sederhana: ayam geprek, mie instan, kopi sachet, dan minuman dingin. Tapi nilai utama dari kantin ini bukanlah makanannya, melainkan bagaimana ia menjadi laboratorium kewirausahaan mahasiswa.
“Ini adalah bentuk beasiswa non-tunai. Mahasiswa tidak diberi uang, tapi diberi tanggung jawab untuk mengelola usaha ini. Dari sini mereka belajar langsung bagaimana menjalankan bisnis,” ujar Miftaakhul Amri, dosen FEBI sekaligus pembina program.
Sebanyak delapan mahasiswa dari keluarga kurang mampu dipilih dari 15 pendaftar awal. Mereka dibekali pelatihan intensif mulai dari dasar-dasar manajemen bisnis, pencatatan keuangan sederhana, hingga keterampilan pelayanan pelanggan.
Tidak semua bertahan. Saat ini hanya lima mahasiswa yang masih aktif menjalankan operasional kantin dari pukul 07.00 hingga 16.00 setiap hari.
“Yang rajin akan mendapatkan hasil, tapi yang tidak serius bisa keluar. Ini adalah latihan tanggung jawab,” tegas Amri.
Program ini bukan hanya meringankan beban ekonomi mahasiswa, tetapi juga membekali mereka dengan skill kewirausahaan yang nyata. Menurut Rektor UIN Saizu, Prof. Ridwan, sinergi antara institusi pendidikan dengan lembaga sosial seperti Dompet Dhuafa adalah bentuk inovasi beasiswa yang patut diperluas.
“Ini program strategis. Mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga dilatih menjadi tangguh secara ekonomi,” ujarnya.
Selain aspek ekonomi, keberadaan kantin ini menjadi bentuk implementasi nyata dari program corporate social responsibility (CSR) yang tepat sasaran. Dompet Dhuafa sebagai lembaga filantropi sosial berbasis Islam menegaskan bahwa pemberdayaan mahasiswa adalah salah satu investasi sosial jangka panjang.
Dengan pembinaan yang konsisten, kantin ini tidak hanya menjadi tempat makan, tapi juga tempat tumbuhnya mental wirausaha dan ketangguhan hidup.
Kisah di balik kontainer besi ini memberikan pelajaran bahwa solusi kreatif untuk pendidikan dan ekonomi bisa datang dari mana saja, termasuk dari peti kemas bekas. Dari dapur kecil itu, mimpi-mimpi besar sedang dimasak perlahan—bersama nasi ayam hangat dan harapan yang membumbung tinggi.
















