Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

TP PKK Kebumen Kenalkan Agribisnis di Lahan Sempit untuk Dukung Ketahanan Pangan

TP PKK Kenalkan Agribisnis di Lahan SempitTP PKK Kenalkan Agribisnis di Lahan Sempit
PELATIHAN: Suasana pelatihan yang digelar Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Kebumen di Gedung PKK Kabupaten Kebumen

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Keterbatasan lahan sering menjadi salah satu kendala bagi masyarakat yang ingin melakukan budidaya pertanian.

Luas pekarangan yang terbatas membuat sebagian warga menganggap kegiatan bercocok tanam sulit dilakukan.

Padahal, dengan kreativitas, pemilihan metode yang tepat, dan ketekunan dalam perawatan, lahan sempit tetap dapat dimanfaatkan menjadi area pertanian yang produktif.

Pemanfaatan lahan terbatas tersebut menjadi salah satu materi dalam pelatihan usaha agribisnis yang diselenggarakan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Kebumen di Gedung PKK Kabupaten Kebumen, Jumat (29/8).

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Koordinator BPP Kabupaten Kebumen, praktisi pertanian asal Prembun Mutejo, serta akademisi Fakultas Pertanian dan Peternakan (Faperta) Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen, Umi Barokah MP.

Dalam pelatihan tersebut, Umi Barokah menyampaikan materi bertema “Optimalisasi Pengelolaan Pekarangan Berbasis Agribisnis untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Keluarga”.

Materi tersebut menekankan bahwa pekarangan rumah tidak harus memiliki luas yang besar untuk bisa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

Masyarakat dapat menyesuaikan jenis tanaman dan metode budidaya dengan kondisi lahan yang tersedia.

Menurut Umi, keterbatasan lahan seharusnya tidak menjadi alasan bagi keluarga untuk berhenti memanfaatkan pekarangan.

Hal yang lebih penting adalah menentukan model budidaya, komoditas, serta pola perawatan yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan kemampuan keluarga.

“Lahan sempit sebenarnya bukan masalah utama. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana memilih model budidaya, komoditas, dan cara perawatan yang sesuai dengan kondisi lahan, lingkungan, serta kemampuan keluarga,” jelas Umi, Senin (31/8).

Dalam pelatihan usaha agribisnis tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai metode yang dapat diterapkan untuk mengoptimalkan pekarangan dengan luas terbatas.

Beberapa metode yang dapat digunakan antara lain budidaya menggunakan polybag, karung, vertikultur, hingga hidroponik sederhana.

Penggunaan polybag dan karung dapat menjadi pilihan bagi keluarga yang tidak memiliki lahan luas.

Wadah tersebut memungkinkan tanaman dibudidayakan secara lebih fleksibel dan dapat ditempatkan di berbagai sudut pekarangan.

Sementara itu, metode vertikultur dapat diterapkan dengan memanfaatkan ruang secara vertikal.

Cara ini memungkinkan masyarakat menanam sejumlah tanaman dalam area yang relatif kecil sehingga penggunaan lahan menjadi lebih efisien.

Metode lainnya adalah hidroponik sederhana. Sistem tersebut dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin bercocok tanam tanpa bergantung sepenuhnya pada lahan tanah.

Pemilihan metode budidaya tentu perlu disesuaikan dengan jenis tanaman, kondisi lingkungan, ketersediaan air, kemampuan perawatan, serta anggaran yang dimiliki keluarga.

Pemanfaatan pekarangan melalui kegiatan pertanian tidak hanya berkaitan dengan penghijauan lingkungan rumah.

Jika dikelola secara tepat, pekarangan juga dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Tanaman yang dibudidayakan dapat dipilih berdasarkan kebutuhan rumah tangga.

Dengan begitu, hasil pertanian dari pekarangan bisa dimanfaatkan untuk konsumsi sehari-hari.

Konsep tersebut juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan pangan keluarga.

Masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar karena sebagian kebutuhan pangan dapat dipenuhi melalui hasil budidaya sendiri.

“Bagi keluarga, pekarangan bukan sekadar ruang kosong, tetapi dapat menjadi ruang produktif untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan apabila dikelola secara tepat dan berkelanjutan,” kata Umi.

Pengelolaan pekarangan secara produktif juga dapat memberikan manfaat tambahan apabila hasil budidaya dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi.

Komoditas yang memiliki nilai jual dapat dipasarkan ketika produksinya sudah mencukupi.

Dengan demikian, kegiatan bercocok tanam di rumah dapat berkembang dari sekadar memenuhi kebutuhan keluarga menjadi bagian dari usaha agribisnis rumahan.

Pengembangan pertanian di lahan sempit membutuhkan kreativitas. Masyarakat perlu melihat ruang yang tersedia dan menentukan bagaimana ruang tersebut dapat digunakan secara maksimal.

Pekarangan, teras, maupun area kosong di sekitar rumah dapat dimanfaatkan dengan mempertimbangkan kebutuhan cahaya matahari, sirkulasi udara, sumber air, serta kemudahan dalam melakukan perawatan.

Selain pemilihan metode, jenis komoditas juga menjadi faktor penting. Tanaman yang dipilih sebaiknya disesuaikan dengan luas tempat, kondisi lingkungan, serta tujuan budidaya.

Bagi keluarga yang baru memulai, budidaya tanaman dalam polybag atau karung dapat menjadi pilihan sederhana.

Setelah memiliki pengalaman, metode lain seperti vertikultur atau hidroponik sederhana dapat dikembangkan.

Pelatihan yang digelar TP PKK Kabupaten Kebumen tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai cara mengoptimalkan pekarangan.

Pengetahuan tersebut dapat diterapkan sesuai kondisi masing-masing keluarga.

Pemanfaatan lahan sempit pada akhirnya tidak hanya memberikan manfaat dari sisi lingkungan, tetapi juga berpotensi mendukung kebutuhan pangan dan kesejahteraan keluarga.

Melalui pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan, pekarangan rumah dapat berubah menjadi lahan produktif.

Keterbatasan luas bukan lagi menjadi penghalang untuk menjalankan kegiatan budidaya pertanian, selama masyarakat mampu memilih metode, tanaman, dan pola perawatan yang sesuai.

Konsep tersebut sekaligus menunjukkan bahwa usaha agribisnis tidak selalu membutuhkan lahan luas.

Dengan memanfaatkan teknologi sederhana dan mengoptimalkan ruang yang tersedia, masyarakat dapat mulai membangun kegiatan pertanian dari lingkungan rumah sendiri. (cah/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Pemerintah Kaji Kenaikan Gaji Dokter

Gaji Dokter 2026 Jadi Sorotan, IDI Usulkan Pendapatan Minimum hingga Rp110,9 Juta

Berita Selanjutnya
Diskon Layanan E Commerce Belum Jalan

Diskon 50 Persen Biaya Layanan E-Commerce untuk UMKM Belum Berlaku, Ini Penyebabnya