Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

MTs Negeri 8 Kebumen Gelar Pelatihan Kehumasan, Siswa Belajar Menulis Berita yang Menarik

MTsN 8 Dorong Siswa Sampaikan Informasi PositifMTsN 8 Dorong Siswa Sampaikan Informasi Positif
ANTUSIAS: Siswa MTs Negeri 8 Kebumen antusias mengikuti kegiatan Pelatihan Kehumasan

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – MTs Negeri 8 Kebumen memberikan pembekalan keterampilan jurnalistik kepada para siswanya melalui Pelatihan Kehumasan.

Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi siswa untuk mengenal lebih jauh dunia jurnalistik sekaligus memahami bagaimana kemampuan menulis berita dapat diterapkan dalam bidang kehumasan.

Sebanyak 20 siswa mengikuti pelatihan dengan antusias. Mereka mendapatkan materi mengenai dasar-dasar penulisan berita, cara menemukan sudut pandang atau angle, hingga penggunaan bahasa jurnalistik yang sederhana dan mudah dipahami pembaca.

Waka Kurikulum MTs Negeri 8 Kebumen, Dian Inugrah Wijayanti, berharap kegiatan tersebut dapat memperluas wawasan siswa sekaligus mendorong mereka untuk ikut berperan dalam menyampaikan informasi positif mengenai berbagai kegiatan di lingkungan madrasah.

Menurut Dian, keterampilan menulis dapat menjadi salah satu kemampuan yang bermanfaat bagi siswa.

Terlebih, perkembangan media digital membuat kemampuan menyampaikan informasi secara tepat dan menarik semakin dibutuhkan.

“Menulis berita tidak cukup hanya mencatat nama kegiatan. Seorang penulis perlu mampu menemukan cerita di balik peristiwa agar informasi terasa lebih hidup dan menarik bagi pembaca,” ujar Dian, Minggu (30/8).

Dalam pelatihan kehumasan MTs Negeri 8 Kebumen tersebut, Faozan Bakhtiar, Humas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, hadir sebagai narasumber.

Faozan mengajak para siswa memahami pentingnya menentukan angle atau sudut pandang sebelum mulai menulis berita.

Menurutnya, sebuah berita tidak hanya menarik karena kegiatan yang dilaporkan, tetapi juga karena cerita manusia yang terdapat di balik peristiwa tersebut.

“Pembaca tidak selalu mencari acara. Pembaca mencari cerita. Mereka ingin tahu siapa orangnya, apa kejadiannya, apa sisi menariknya, serta apa pelajaran dari cerita tersebut,” jelas Faozan.

Penjelasan tersebut memberikan perspektif baru bagi siswa. Dalam praktik jurnalistik, sebuah kegiatan yang sama dapat menghasilkan tulisan dengan sudut pandang berbeda.

Hal itu bergantung pada sisi peristiwa yang dianggap paling menarik dan memiliki nilai informasi bagi pembaca.

Faozan kemudian memberikan contoh melalui tugas meliput acara pelepasan murid. Para peserta tidak langsung diminta membuat judul berita.

Mereka terlebih dahulu diajak mencari kemungkinan cerita dengan mengajukan sejumlah pertanyaan.

Pertanyaan tersebut dapat membantu siswa menemukan bagian paling menarik dari sebuah peristiwa.

Setelah angle ditentukan, penulis akan lebih mudah menyusun judul, menentukan informasi utama, serta mengembangkan isi berita.

Faozan menjelaskan bahwa satu kegiatan tidak selalu hanya memiliki satu cerita.

Sebuah acara dapat dilihat dari berbagai sisi sehingga berpotensi menghasilkan beberapa berita.

Misalnya, dalam acara pelepasan siswa, penulis dapat mengangkat kisah siswa berprestasi, perjuangan seorang guru, pengalaman orang tua, perubahan yang dialami siswa selama bersekolah, atau pesan yang disampaikan dalam acara tersebut.

Kemampuan menemukan angle menjadi penting karena menentukan apakah sebuah tulisan memiliki daya tarik atau hanya menjadi laporan kegiatan biasa.

Bagi siswa yang sedang belajar jurnalistik pelajar, pemahaman mengenai angle dapat menjadi dasar untuk menghasilkan tulisan yang lebih hidup.

Mereka tidak sekadar mencatat siapa yang hadir, kapan kegiatan berlangsung, dan apa saja rangkaian acaranya, tetapi juga mencari cerita yang memiliki nilai bagi pembaca.

Pelatihan tersebut sekaligus memperkenalkan kepada siswa bahwa pekerjaan jurnalistik membutuhkan rasa ingin tahu.

Seorang penulis harus mampu mengamati lingkungan sekitar, menemukan informasi penting, mengajukan pertanyaan, dan kemudian menyusun informasi secara sistematis.

Selain angle, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai penggunaan bahasa jurnalistik.

Faozan mengingatkan bahwa berita tidak harus menggunakan bahasa yang rumit untuk terlihat profesional.

Justru, informasi jurnalistik harus disampaikan dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan langsung pada persoalan.

Dengan demikian, pembaca dapat memahami informasi yang disampaikan tanpa harus menebak maksud penulis.

“Berita yang baik tidak harus memakai bahasa sulit. Gunakan kalimat sederhana, jelas, dan langsung pada persoalan,” katanya.

Materi tersebut penting bagi siswa karena kemampuan menulis tidak hanya dibutuhkan ketika membuat berita.

Keterampilan menyampaikan informasi secara jelas juga dapat diterapkan dalam berbagai aktivitas sekolah, termasuk membuat pengumuman, laporan kegiatan, artikel, maupun konten informasi untuk media sosial madrasah.

Kegiatan pelatihan kehumasan di MTs Negeri 8 Kebumen diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teori.

Para siswa dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dengan mengikuti berbagai kegiatan jurnalistik di lingkungan madrasah.

Kemampuan tersebut juga dapat menjadi bekal untuk mengembangkan kreativitas siswa di era digital.

Saat ini, informasi mengenai kegiatan sekolah dapat disampaikan melalui berbagai platform.

Namun, informasi yang dipublikasikan tetap harus akurat, jelas, dan memiliki nilai bagi pembaca.

Karena itu, siswa perlu memahami bahwa membuat konten bukan sekadar mengambil foto atau menuliskan nama kegiatan.

Mereka perlu mengetahui konteks peristiwa serta mampu menyampaikan informasi secara bertanggung jawab.

Bagi MTs Negeri 8 Kebumen, pelatihan tersebut menjadi salah satu upaya memberikan pengalaman praktis kepada siswa.

Dengan belajar jurnalistik dan kehumasan sejak di bangku madrasah, siswa diharapkan semakin percaya diri dalam berkomunikasi dan menyampaikan informasi.

Antusiasme 20 peserta menunjukkan bahwa materi jurnalistik cukup menarik bagi kalangan pelajar.

Melalui kegiatan semacam ini, siswa tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar mengamati, bertanya, berpikir kritis, dan memahami berbagai peristiwa di sekitarnya.

Ke depan, keterampilan tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga siswa mampu menghasilkan karya jurnalistik yang informatif dan menarik.

Pada saat yang sama, mereka dapat ikut membantu madrasah menyampaikan berbagai informasi positif kepada masyarakat.

Pelatihan kehumasan akhirnya bukan sekadar kegiatan belajar menulis berita.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk belajar bagaimana sebuah informasi dikemas dengan baik, bagaimana cerita ditemukan di balik sebuah peristiwa, serta bagaimana menyampaikannya kepada pembaca menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Dengan bekal tersebut, siswa MTs Negeri 8 Kebumen diharapkan dapat menjadi generasi pelajar yang tidak hanya aktif menerima informasi, tetapi juga mampu menghasilkan dan menyebarkan informasi positif secara bertanggung jawab. (cah/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Diisukan Hamil

Luna Maya Diisukan Hamil Saat Rayakan Ultah ke-43 di Bali

Berita Selanjutnya
WhatsApp Ubah PIN Jadi Password

WhatsApp Ubah Sistem Keamanan, PIN 6 Digit Bakal Diganti Password Lebih Kuat