Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Krisis Air Bersih Banyumas Makin Parah, 2,3 Juta Liter Bantuan Disalurkan ke 18 Kecamatan

Warga Gumelar Krisis Air Selama Tiga PekanWarga Gumelar Krisis Air Selama Tiga Pekan
DROPING AIR: Penyaluran air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Kecamatan Gumelar. Total bantuan air bersih yang telah didistribusikan di Banyumas hingga Senin (31/8) mencapai 2.303.000 liter

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Krisis air bersih akibat musim kemarau masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Kondisi tersebut membuat warga di beberapa desa mulai kesulitan memperoleh pasokan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hingga Senin (31/8/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas mencatat distribusi bantuan air bersih selama musim kemarau telah mencapai 2.303.000 liter.

Bantuan tersebut telah disalurkan ke wilayah terdampak yang tersebar di 18 kecamatan.

Jumlah distribusi air bersih diperkirakan masih akan bertambah karena proses penyaluran hingga kini terus dilakukan.

Selain wilayah yang sebelumnya terdampak, terdapat desa-desa lain yang mulai mengalami penurunan ketersediaan air akibat kemarau yang belum berakhir.

Salah satu wilayah yang mengalami kesulitan air bersih adalah Kecamatan Gumelar.

Warga di sejumlah wilayah kecamatan tersebut bahkan telah merasakan keterbatasan pasokan air selama sekitar tiga pekan.

Melihat kondisi tersebut, Polresta Banyumas bersama jajaran Polisi Wanita (Polwan) dan BPBD Banyumas turut menyalurkan bantuan air bersih.

Sebanyak 10 ribu liter air bersih dikirim untuk warga terdampak kekeringan di Kecamatan Gumelar pada Sabtu (29/8/2026).

Penyaluran bantuan tersebut menyasar beberapa wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air.

Kepala Desa Samudra Kulon, Susmono, mengatakan bantuan air bersih sangat membantu masyarakat, terutama karena sumber air yang selama ini digunakan warga mulai mengalami penurunan debit.

Menurutnya, di Desa Samudra Kulon terdapat dua grumbul yang terdampak kekeringan.

Grumbul Mengger dihuni sekitar 35 kepala keluarga atau 80 jiwa, sedangkan Grumbul Tipar dihuni sekitar 30 kepala keluarga atau 70 jiwa.

Kondisi serupa juga dialami warga di Grumbul Tipar, Desa Tlaga. Wilayah tersebut mencakup empat RT di RW 03 dengan jumlah sekitar 120 kepala keluarga atau 360 jiwa.

Penurunan debit sumber air membuat kebutuhan terhadap bantuan air bersih semakin mendesak.

Masyarakat membutuhkan pasokan tambahan untuk berbagai keperluan dasar, terutama konsumsi dan aktivitas rumah tangga sehari-hari.

Kapolresta Banyumas Kombes Pol Petrus P. Silalahi mengatakan, dua unit mobil tangki dikerahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan warga.

Bantuan diberikan setelah debit sumber air Pamsimas mengalami penurunan akibat musim kemarau.

“Bantuan air bersih ini merupakan bentuk kepedulian dan kehadiran Polri untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya warga yang terdampak kekeringan,” kata Petrus.

Penyaluran air bersih tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat bertahan selama kondisi kekeringan masih berlangsung.

Kolaborasi antara kepolisian, BPBD dan berbagai pihak dinilai penting untuk memastikan warga yang terdampak tetap memperoleh akses terhadap air.

Sementara itu, BPBD Banyumas terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang mengalami kekurangan air.

Total bantuan yang telah disalurkan mencapai 2,303 juta liter dan tersebar di 18 kecamatan.

Kabid Darlog BPBD Banyumas Abdul Ladjis mengatakan, jumlah tersebut belum merupakan angka final.

Distribusi air bersih masih dilakukan hingga Senin (31/8), sehingga data bantuan masih dapat bertambah setelah seluruh penyaluran tercatat.

“Setiap harinya kami rutin ada jadwal pengiriman dan juga selalu bertambah desa yang terdampak,” ujar Abdul.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih di Banyumas masih cukup tinggi.

Kemarau yang berkepanjangan menyebabkan sumber air masyarakat mengalami penurunan debit, sementara kebutuhan air untuk aktivitas sehari-hari tetap berjalan.

BPBD bersama pemerintah daerah dan sejumlah pihak terkait terus melakukan distribusi air ke wilayah yang membutuhkan.

Bantuan dilakukan secara bertahap berdasarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat di masing-masing daerah.

Penyaluran air bersih menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi dampak kekeringan.

Terlebih, warga yang mengandalkan sumber air lokal akan lebih rentan terdampak ketika debit mata air, sumur maupun sumber Pamsimas mengalami penurunan.

Dengan distribusi yang terus dilakukan, pemerintah berharap kebutuhan dasar masyarakat tetap dapat terpenuhi selama musim kemarau.

Pemantauan terhadap desa-desa terdampak juga diperlukan agar bantuan dapat segera diarahkan ke wilayah yang mengalami kondisi paling mendesak.

Krisis air bersih di Banyumas sekaligus menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sumber daya air dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.

Masyarakat yang mulai mengalami kesulitan air diharapkan dapat segera berkoordinasi dengan pemerintah desa maupun pihak terkait sehingga kebutuhan bantuan dapat ditangani lebih cepat.

Dengan total distribusi mencapai lebih dari 2,3 juta liter air bersih, penanganan kekeringan di Banyumas masih menjadi pekerjaan bersama.

Apalagi jumlah desa yang terdampak berpotensi terus bertambah apabila musim kemarau berlangsung lebih lama. (zet/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Siswi SMPN 2 Cilacap Raih Juara 1 Poomsae Piala KONI Pusat

Siswi SMPN 2 Cilacap Raih Juara 1 Taekwondo di Piala KONI Pusat 2026

Berita Selanjutnya
Buka Suara Soal Rilis Ulang "Percuma"

Mahalini Buka Suara soal Lagu Percuma, Singgung Kontrak Anggis Devaki dan Legalitas Hak Cipta