BANYUMASEKSPRES.ID, Perusahaan financial technology (fintech) Amartha kembali menegaskan komitmennya memperkuat layanan keuangan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di wilayah pedesaan Indonesia.
Memasuki tahun 2026, Amartha terus mengembangkan ekosistem layanan keuangan digital yang inklusif, salah satunya melalui penguatan dompet digital AmarthaFin yang terintegrasi dengan jaringan AmarthaLink.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Amartha untuk menjawab kebutuhan masyarakat akar rumput yang masih menghadapi keterbatasan akses layanan keuangan formal.
Dengan memanfaatkan teknologi digital dan pendekatan berbasis komunitas, Amartha menargetkan pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus berdampak langsung bagi perekonomian desa.
Pengembangan Dompet Digital AmarthaFin untuk UMKM Pedesaan
AmarthaFin dikembangkan sebagai dompet digital yang dirancang khusus berdasarkan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan, permasalahan, dan solusi yang diharapkan oleh UMKM akar rumput.
Melalui aplikasi ini, pengguna dapat mengakses berbagai layanan keuangan mulai dari investasi mikro, pembayaran digital, hingga pengajuan pinjaman modal kerja secara cepat dan efisien.

Founder dan CEO Amartha, Andi Taufan, menyampaikan bahwa pengembangan produk Amartha selalu berangkat dari realitas di lapangan.
Menurutnya, karakteristik UMKM pedesaan membutuhkan layanan yang sederhana, mudah diakses, dan terjangkau.
Oleh karena itu, AmarthaFin hadir untuk menjembatani kesenjangan akses keuangan digital di wilayah nonperkotaan.
Perkembangan UMKM bisa meluas ke berbagai pelosok desa, salah satunya dengan cara melakukan transaksi sampai keluar negeri dengan myBCA melalui QRIS.
Tata Kelola dan Mitigasi Risiko Jadi Fondasi Pertumbuhan
Seiring dengan pengembangan produk dan layanan, Amartha juga memperkuat tata kelola perusahaan serta sistem mitigasi risiko.
Kombinasi antara pemahaman pasar, produk yang relevan, tata kelola yang kuat, serta kemitraan dengan institusi global menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan Amartha secara berkelanjutan.
Andi Taufan menegaskan bahwa pertumbuhan perusahaan yang sehat menjadi prioritas utama.
Sejak berdiri pada 2010, Amartha telah menyalurkan dana lebih dari Rp37 triliun sebagai modal kerja kepada UMKM.
Dari jumlah tersebut, sebesar Rp13,2 triliun disalurkan sepanjang tahun lalu, menjangkau sekitar 3,7 juta UMKM yang tersebar di lebih dari 50.000 desa di seluruh Indonesia.
Pemanfaatan Teknologi AI untuk Jaga Kualitas Portofolio
Keberhasilan Amartha dalam menjaga kualitas portofolio pembiayaan tidak terlepas dari pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Teknologi ini digunakan untuk menganalisis perilaku masyarakat pedesaan serta memitigasi risiko pembiayaan secara lebih akurat.
Menurut Taufan, pemahaman mendalam terhadap perilaku dan kebutuhan masyarakat desa, yang dikombinasikan dengan penggunaan AI secara tepat guna, menjadi faktor kunci dalam menjaga kualitas portofolio Amartha.
Pendekatan ini memungkinkan perusahaan tetap tumbuh meski melayani segmen yang selama ini dianggap berisiko tinggi oleh lembaga keuangan konvensional.
Izin Dompet Digital dari BI Perkuat Ekosistem Amartha
Pada tahun ini, Amartha resmi mengantongi izin dompet digital dari Bank Indonesia (BI) untuk penggunaan aplikasi AmarthaFin.
Izin tersebut menjadi tonggak penting dalam pengembangan ekosistem layanan keuangan digital Amartha.
Melalui AmarthaFin, pengguna tidak hanya dapat berinvestasi dalam skala mikro, tetapi juga melakukan pembayaran digital, memanfaatkan jaringan AmarthaLink, serta mengajukan pinjaman modal secara cepat.
Layanan ini dinilai sangat sesuai dengan kebutuhan UMKM akar rumput yang membutuhkan akses pembiayaan dan transaksi keuangan yang praktis tanpa prosedur rumit.
Selain itu, AmarthaFin juga menghadirkan layanan pembayaran digital seperti pembelian pulsa dan fasilitas cicilan bagi komunitas yang membutuhkan.
AmarthaLink Dorong Akses Keuangan Digital di Desa
Untuk memperluas jangkauan layanan, Amartha mengembangkan jaringan AmarthaLink sebagai infrastruktur distribusi layanan keuangan digital di pedesaan.
Hingga akhir 2025, AmarthaFin tercatat telah memiliki sekitar 50.000 pengguna yang tergabung dalam program AmarthaLink.
Program ini memberikan kemudahan bagi masyarakat desa untuk mengakses layanan keuangan digital kapan saja dan di mana saja.
Kehadiran AmarthaLink diharapkan mampu mendorong literasi keuangan sekaligus mempercepat adopsi teknologi digital di wilayah perdesaan.
Fintech Jadi Alternatif Pembiayaan UMKM di Indonesia
Tahun 2026 menjadi momentum bagi Amartha untuk semakin fokus memperluas jangkauan UMKM akar rumput sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Andi Taufan menegaskan bahwa Amartha ingin memperkuat posisinya sebagai fintech yang konsisten melayani segmen akar rumput melalui produk keuangan terintegrasi.
Di sisi lain, sektor fintech di Indonesia juga semakin menarik perhatian investor global. Data menunjukkan pendanaan global ke sektor fintech mencapai US$549 juta pada 2024.
Kondisi ini sejalan dengan kebutuhan UMKM akan sumber pembiayaan alternatif, mengingat penyaluran kredit UMKM dari perbankan cenderung mengalami kontraksi.
Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, mengungkapkan bahwa tingginya kebutuhan modal usaha mendorong pelaku UMKM mencari sumber pembiayaan alternatif, termasuk pinjaman daring.
Dalam konteks inilah peran fintech seperti Amartha menjadi semakin relevan dalam mendukung pertumbuhan UMKM dan perekonomian nasional.(*/nds)
















