Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Nathalie Holscher Resmi Menikah dengan Arifat, Mahar Rp2.272.026 Jadi Sorotan
18 Desa di Banyumas Alami Kekeringan, BPBD Prediksi Puncak Krisis Air Terjadi Agustus

18 Desa di Banyumas Alami Kekeringan, BPBD Prediksi Puncak Krisis Air Terjadi Agustus

Kekeringan di Banyumas MeluasKekeringan di Banyumas Meluas
DISTRIBUSI AIR BERSIH: Petugas BPBD Banyumas mengisi truk tangki di hydrant Teluk, Purwokerto Selatan, sebelum mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan di sejumlah wilayah Banyumas, Kamis (23/7)

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Banyumas mulai memberikan dampak yang semakin luas terhadap kehidupan masyarakat.

Dalam waktu sekitar satu pekan, jumlah desa dan kelurahan yang mengalami krisis air bersih meningkat hingga dua kali lipat.

Kondisi ini membuat ribuan warga harus bergantung pada bantuan air bersih yang didistribusikan oleh pemerintah dan berbagai instansi terkait untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas hingga Kamis (23/7), sebanyak 18 desa telah terdampak kekeringan.

Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan pekan sebelumnya yang baru mencatat sembilan desa mengalami kesulitan air bersih.

Bertambahnya wilayah terdampak juga diikuti dengan meningkatnya jumlah masyarakat yang membutuhkan bantuan.

Secara keseluruhan, sebanyak 4.814 kepala keluarga atau sekitar 15.575 jiwa kini mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung dan belum mencapai puncaknya.

Kepala Bidang Darurat dan Logistik BPBD Banyumas, Abdul Ladjis, mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan distribusi bantuan air bersih ke berbagai wilayah yang mengalami kekeringan.

Hingga saat ini, total air bersih yang telah disalurkan mencapai sekitar 363 ribu liter.

Menurutnya, distribusi bantuan tidak hanya dilakukan oleh BPBD Banyumas.

Berbagai lembaga turut berpartisipasi dalam membantu masyarakat, di antaranya Perumda Air Minum Tirta Satria, BPJS Kesehatan, Balai Wilayah Sungai (BWS) Serayu, serta Palang Merah Indonesia (PMI).

Kolaborasi tersebut dilakukan agar kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi secara lebih cepat dan merata.

Pada Kamis (23/7), BPBD kembali mengirim bantuan air bersih ke dua wilayah yang mulai mengalami kesulitan memperoleh pasokan air, yaitu Desa Kediri di Kecamatan Karanglewas dan Desa Karangsalam di Kecamatan Kemranjen.

Bantuan tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat hingga sumber air kembali tersedia.

BPBD memperkirakan jumlah wilayah yang mengalami kekeringan masih akan terus bertambah dalam beberapa pekan ke depan.

Berdasarkan prediksi kondisi cuaca, puncak musim kemarau diperkirakan baru akan terjadi pada bulan Agustus.

Oleh karena itu, pemerintah terus meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan bantuan air bersih.

Perkembangan kondisi kekeringan di Banyumas tergolong cukup cepat.

Berdasarkan pembaruan data sebelumnya, pada pertengahan Juli jumlah warga terdampak masih sekitar 10.628 jiwa yang tersebar di sembilan desa.

Namun hanya dalam kurun waktu sekitar satu minggu, jumlah tersebut meningkat menjadi 15.575 jiwa dengan wilayah terdampak mencapai 18 desa.

Kondisi ini menunjukkan bahwa cadangan air di sejumlah wilayah mulai menurun seiring berkurangnya curah hujan.

Sumur-sumur warga di beberapa desa mulai mengering sehingga masyarakat tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan air secara mandiri.

Akibatnya, distribusi air bersih melalui truk tangki menjadi solusi utama untuk memenuhi kebutuhan minum, memasak, hingga keperluan rumah tangga lainnya.

BPBD Banyumas juga mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah rawan kekeringan agar segera melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah desa maupun langsung kepada BPBD apabila mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Dengan adanya laporan lebih awal, distribusi bantuan dapat dilakukan lebih cepat sehingga masyarakat tidak mengalami kekurangan air dalam waktu yang lama.

Selain penyaluran bantuan, pemerintah daerah terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan ketersediaan sumber air di berbagai wilayah.

Langkah tersebut dilakukan agar penanganan dampak musim kemarau dapat dilakukan secara lebih efektif, terutama apabila jumlah desa terdampak terus bertambah hingga memasuki puncak musim kemarau pada Agustus mendatang.

Dukungan berbagai instansi dan partisipasi masyarakat diharapkan mampu membantu mengurangi dampak kekeringan yang saat ini semakin meluas di Kabupaten Banyumas. (zet/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Lepas Status Janda

Nathalie Holscher Resmi Menikah dengan Arifat, Mahar Rp2.272.026 Jadi Sorotan