BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Gelombang penutupan gerai ritel kembali menghantam sektor perdagangan Indonesia. Kali ini, perusahaan ritel asing seperti GS Supermarket dan LuLu Hypermarket turut menyusul deretan gerai yang menghentikan operasionalnya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di skala kecil, tetapi juga melibatkan pusat perbelanjaan besar yang dikelola perusahaan luar negeri.
Ketua Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budiharjo Iduansjah, mengungkapkan bahwa perubahan tren belanja dan dinamika bisnis yang cepat memaksa banyak pelaku ritel untuk mengevaluasi format bisnis mereka.
Salah satu contohnya adalah LuLu Hypermarket yang dinilai perlu melakukan transformasi.
“Jadi retail tutup memang posisi kita di retail besar yang kayak LuLu, itu formatnya harus diubah. Kalau retail seperti GS itu memang kan sudah akan di-takeover,” kata Budiharjo, Minggu (18/5).
Ia menjelaskan, penutupan gerai tentu memiliki dampak langsung terhadap para pekerja di sektor tersebut. Pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.
Namun, ia optimistis para pekerja ritel yang terkena PHK memiliki peluang besar untuk kembali terserap ke sektor yang sama, mengingat karakteristik pekerjaan ritel yang cukup spesifik dan membutuhkan keterampilan tertentu.
“Sektor retail memang sudah banyak melakukan penutupan sehingga ada PHK. Tapi biasanya tenaga kerja di retail itu akan diserap oleh retail yang lain. Karena pengalaman di retail itu susah,” ujar Budiharjo.
Lebih lanjut ia menekankan bahwa karyawan di bidang ritel memiliki keunggulan kompetensi yang cukup luas.
Tak hanya menguasai pelayanan pelanggan dengan senyum, salam, dan sapa, mereka juga dibekali kemampuan teknologi seperti penggunaan sistem kasir digital, pemindai barcode, hingga kemampuan menjual secara daring.
“Orang retail itu harus skill-nya selain senyum-salam-sapa, sabar, nggak boleh marah-marah, tapi juga mengerti pakai sistem. Mengerti komputer, scanner, jadi teknologi juga. Bahkan jualan online, jual pulsa juga semua. Nah ini biasanya akan terserap cepat ke sektor retail yang lain yang buka toko di sebelahnya atau di provinsi tersebut,” jelasnya.
Namun demikian, tidak semua karyawan yang terkena dampak penutupan gerai bisa segera terserap kembali. Budiharjo menyebut bahwa posisi non-layanan atau back office sering kali tidak mudah untuk langsung dipindahkan ke perusahaan ritel lainnya, karena sifat pekerjaannya yang tidak berinteraksi langsung dengan pelanggan.
“Tapi kalau yang biasanya kami tidak lanjutkan kontraknya adalah yang memang lebih cocoknya mungkin di industri yang back office. Artinya dia nggak berada depan orang,” ujarnya.
Untuk saat ini, Hippindo masih melakukan pendataan menyeluruh mengenai skala penutupan gerai dan jumlah karyawan yang terdampak. Proses tersebut, menurut Budiharjo, ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2025.
“Kami lagi melakukan pendataan. Sejak pleno kemarin, bulan lalu, kami melakukan pendataan banyaknya toko buka, banyaknya toko tutup, banyaknya tenaga kerja. Nah ini data lagi dikerjakan oleh direktur eksekutif kami. Deadline-nya sih Juni ya. Itu saya juga mau tahu gitu,” kata Budiharjo menambahkan.
Tantangan yang kini dihadapi sektor ritel modern di Indonesia mencerminkan perlunya adaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen, dominasi e-commerce, serta efisiensi model bisnis. Meski tekanan cukup besar, peluang inovasi dan penyerapan tenaga kerja tetap terbuka lebar bagi pelaku ritel yang mampu bertransformasi secara cepat dan tepat. (*stch)
















