BANYUMASEKSPRES.ID, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan sejumlah wilayah Indonesia yang masih berpotensi mengalami kekeringan meteorologis di tengah pengaruh El Nino.
Berdasarkan pemantauan pada akhir Agustus 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam periode musim kemarau.
Sebanyak 567 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 81,1 persen wilayah Indonesia tercatat masih mengalami musim kemarau.
Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan BMKG dalam menentukan wilayah yang berpotensi menghadapi kekeringan meteorologis.
Pada periode yang sama, dinamika atmosfer menunjukkan kondisi El Nino dengan intensitas kuat. Hasil pemantauan Dasarian III Agustus 2026 menunjukkan indeks ENSO rata-rata tiga bulanan periode Juni-Juli-Agustus (JJA) berada di angka 2,2.
Sementara itu, nilai anomali suhu muka laut (SSTA) di wilayah Nino3.4 mencapai +2,74, meski sedikit lebih rendah dibandingkan +2,83 pada periode sebelumnya.

Wilayah yang Masuk Peringatan Kekeringan BMKG
Untuk mengantisipasi dampak kondisi kering, BMKG membagi peringatan dini kekeringan meteorologis ke dalam tiga kategori, yaitu Waspada, Siaga, dan Awas.
Cakupan wilayah dalam masing-masing kategori berbeda sesuai hasil pemantauan kondisi cuaca dan iklim. Berikut gambaran wilayah yang masuk dalam peringatan pada Dasarian I September 2026.
Kategori Waspada
Wilayah yang berada dalam kategori Waspada mencakup sejumlah kabupaten di Sumatra bagian selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan bagian tengah hingga utara, serta Sulawesi bagian tengah.
Kategori ini menunjukkan adanya potensi kondisi kering yang perlu diperhatikan berdasarkan indikator kekeringan meteorologis.
Kategori Siaga
Peringatan Siaga mencakup wilayah yang lebih luas. Sejumlah kabupaten di Sumatra bagian selatan, sebagian Jawa dan Nusa Tenggara.
Kemudian, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, serta sebagian besar Papua tercatat masuk dalam kategori tersebut.
Kategori Awas
Sementara itu, kategori Awas mencakup sejumlah kabupaten di Sumatra bagian selatan, sebagian besar Jawa dan Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan, serta sebagian wilayah Sulawesi dan Kepulauan Maluku.
Perbedaan kategori tersebut menunjukkan tingkat potensi kekeringan yang perlu menjadi perhatian di masing-masing daerah.
Curah Hujan Rendah Masih Mendominasi
Ancaman kekeringan juga terlihat dari distribusi curah hujan pada akhir Agustus 2026. Dalam pemantauan Dasarian III Agustus, sekitar 92,80 persen wilayah Indonesia tercatat mengalami curah hujan dalam kategori rendah.
Sementara itu, wilayah dengan curah hujan kategori menengah mencapai 6,99 persen dan kategori tinggi hanya sekitar 0,21 persen.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa hujan dengan intensitas rendah masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia pada periode tersebut.
Keadaan inilah yang menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan potensi kekeringan meteorologis. Untuk itu, masyarakat perlu mengetahui tentang potensi kekeringan tersebut.
Potensi Curah Hujan di Bawah 50 Milimeter per Bulan
BMKG juga memprakirakan kondisi curah hujan rendah masih dapat ditemukan hingga beberapa bulan setelah periode pemantauan tersebut.
Namun, cakupan wilayah yang berpotensi mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan diperkirakan semakin menyempit.
Pada September 2026, wilayah yang berpeluang mengalami curah hujan di bawah 50 milimeter per bulan antara lain Bengkulu bagian selatan, Sumatra Selatan, dan Kepulauan Bangka Belitung.
Kemudian, ada juga provinsi Lampung, Jawa, Bali, NTB, NTT, sejumlah wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua.
Memasuki Oktober 2026, cakupan wilayah tersebut diperkirakan berkurang. Potensinya masih terdapat di Sumatra Selatan bagian selatan, Lampung, Jawa, Bali, NTB, sebagian besar NTT.
Kemudian, sampai ke Kalimantan Selatan bagian selatan, beberapa wilayah Sulawesi, Maluku bagian selatan, dan Papua Selatan bagian selatan.
Pada November 2026, wilayah dengan peluang curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan semakin terbatas. Sejumlah sumur di Temanggung mengalami kekeringan sehingga masyarakat andalkan bantuan air bersih.
Potensinya antara lain berada di sebagian Jawa Timur, terutama Madura, NTB bagian timur, sebagian NTT, Sulawesi Selatan bagian selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, serta sebagian kecil Papua Selatan.
Kondisi Diprakirakan Berubah pada Awal 2027
Untuk periode Desember 2026 hingga Februari 2027, BMKG tidak memprakirakan adanya wilayah dengan peluang tinggi mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa potensi kondisi sangat kering yang sebelumnya masih ditemukan di sejumlah daerah diprakirakan semakin berkurang menuju akhir 2026 dan awal 2027.
Informasi mengenai kekeringan meteorologis perlu dibaca berdasarkan periode pemantauan dan prakiraan yang dikeluarkan BMKG.
Perubahan dinamika atmosfer, pola hujan, serta kondisi El Nino dan fenomena iklim lainnya dapat memengaruhi perkembangan cuaca di setiap wilayah. (*/nds)














