BANYUMASEKSPRES.ID, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau perkembangan musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia.
Berdasarkan salah satu analisis perkembangan musim kemarau 2026, sebagian besar Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki periode kemarau dengan kondisi kekeringan yang tingkatnya berbeda-beda.
Data BMKG pada periode pemantauan tersebut menunjukkan bahwa musim kemarau telah mencakup sekitar 72,8 persen wilayah Zona Musim atau sebanyak 509 ZOM.
Kondisi ini menggambarkan bagaimana musim kemarau dapat berkembang secara bertahap dan tidak selalu berlangsung dengan pola yang sama di seluruh wilayah Indonesia.
Selain meningkatnya jumlah wilayah yang memasuki musim kemarau, BMKG juga mencatat adanya daerah dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) yang berlangsung cukup panjang.
Dalam pemantauan tersebut, durasi tanpa hujan terlama mencapai 80 hari. Kondisi seperti ini perlu menjadi perhatian.
Hal ini dikarenakan periode kering yang berkepanjangan dapat memengaruhi ketersediaan air, pertanian, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Musim Kemarau Tidak Terjadi Bersamaan di Seluruh Indonesia
Indonesia memiliki karakteristik iklim yang beragam sehingga awal dan perkembangan musim kemarau dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Pada periode pemantauan BMKG, wilayah yang telah memasuki musim kemarau tersebar mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Sejumlah wilayah yang tercatat telah mengalami musim kemarau antara lain Aceh bagian utara, sebagian Sumatera Utara, Riau bagian selatan, Sumatera Barat bagian selatan, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, serta Lampung.
Di Pulau Jawa, kondisi kemarau telah mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur.
Sementara itu, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur juga menjadi wilayah yang mengalami perkembangan musim kemarau.
Kondisi serupa juga terpantau di sejumlah wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta Papua. Perbedaan waktu masuk musim kemarau ini menjadi alasan masyarakat perlu memperhatikan informasi cuaca.
Hal ini tentunya berdasarkan wilayah masing-masing, bukan hanya mengandalkan kondisi cuaca secara nasional. Selain itu, inilah daftar daerah yang terancam kekeringan selama El Nino menurut BMKG.
Hari Tanpa Hujan Terpanjang Mencapai 80 Hari
Salah satu indikator yang digunakan untuk memantau kondisi kekeringan adalah Hari Tanpa Hujan atau HTH. Indikator ini menggambarkan lamanya suatu wilayah tidak mengalami hujan dalam periode tertentu.
Pada pemantauan BMKG tersebut, kondisi HTH di Indonesia berada pada kategori yang beragam, mulai dari sangat pendek hingga ekstrem panjang. Durasi tanpa hujan terlama tercatat mencapai 80 hari.
Catatan tersebut terjadi di Pos Hujan RPH Katerban, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Periode panjang tanpa hujan menunjukkan bahwa dampak musim kemarau dapat terasa cukup berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya.
Hari tanpa hujan yang berlangsung lama berpotensi menyebabkan berkurangnya cadangan air permukaan.
Kondisi ini juga dapat memberikan tekanan pada sektor pertanian, terutama bagi wilayah yang mengandalkan air hujan untuk kebutuhan irigasi.
Waspadai Risiko Kekeringan Meteorologis
BMKG sebelumnya juga mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis dengan beberapa tingkat status, yaitu Waspada, Siaga, dan Awas.
Peringatan tersebut diberikan berdasarkan kondisi curah hujan dan perkembangan musim di wilayah terkait.
Wilayah dengan status Waspada tersebar di sejumlah provinsi, termasuk Bali, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, serta beberapa wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
Sementara itu, status Siaga juga pernah mencakup sejumlah kabupaten dan kota di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku.
Untuk tingkat Awas, perhatian lebih besar diberikan kepada beberapa wilayah di DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Status tersebut penting dipahami sebagai bentuk peringatan terhadap potensi dampak kekeringan, bukan berarti seluruh wilayah dalam satu provinsi mengalami kondisi yang sama.
Karena itu, informasi detail dari BMKG dan pemerintah daerah tetap diperlukan untuk mengetahui situasi terkini di setiap lokasi.
Dampak Musim Kemarau yang Perlu Diantisipasi
Musim kemarau dan periode tanpa hujan yang panjang dapat memunculkan sejumlah risiko. Salah satu dampak utama adalah menurunnya ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian.
Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang perlu melakukan penyesuaian, terutama dalam mengatur pola tanam dan kebutuhan irigasi.
Selain itu, kondisi vegetasi dan lahan yang semakin kering dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap aktivitas yang dapat memicu kebakaran, termasuk pembakaran sampah atau pembukaan lahan dengan cara membakar.
Upaya pencegahan menjadi sangat penting karena api dapat lebih cepat meluas ketika kondisi lingkungan sangat kering.
Meski musim kemarau mendominasi, hujan lokal tetap dapat terjadi di sejumlah daerah. Oleh sebab itu, masyarakat sebaiknya terus mengikuti informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini terbaru.
Pemantauan perkembangan musim kemarau menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kekeringan.
Dengan memperhatikan informasi resmi BMKG serta melakukan langkah antisipasi sejak dini, masyarakat dan pemerintah daerah lebih siap menghadapi dampak perubahan kondisi cuaca dan musim di berbagai wilayah Indonesia. (*/nds)














