Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

BPBD Temanggung Petakan Wilayah Rawan Kekeringan, Siapkan Bantuan Air Bersih untuk Musim Kemarau 2025

Daerah rawan kekeringan dipetakanDaerah rawan kekeringan dipetakan
AIR BERSIH : Petugas BPBD Kabupaten Temanggung saat menyalurkan bantuan air bersih di salah satu desa yang kekurangan air bersih di tahun 2024 lalu

BANYUMASEKSPRES.ID, TEMANGGUNG – Menghadapi potensi bencana kekeringan pada musim kemarau 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung mulai melakukan pemetaan terhadap wilayah-wilayah yang rawan mengalami kekurangan air bersih.

Dari total 20 kecamatan di wilayah ini, diperkirakan ada 12 hingga 14 kecamatan yang masuk dalam kategori rawan terdampak kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Temanggung, Totok Nursetyanto, mengungkapkan bahwa meski saat ini tanda-tanda musim kemarau belum tampak signifikan, pihaknya telah melakukan langkah antisipatif dengan memetakan daerah-daerah yang berpotensi mengalami krisis air, berdasarkan data kekeringan pada tahun sebelumnya.

“Beberapa kecamatan yang kami identifikasi antara lain Kandangan, Pringsurat, Selopampang, Tembarak, Kaloran, Tlogomulyo, Bulu, Bejen, Wonoboyo, hingga Tetep,” jelas Totok, Rabu (21/5).

Ia menegaskan bahwa tidak seluruh desa di kecamatan-kecamatan tersebut akan terdampak. Hanya desa-desa tertentu saja yang tergolong rawan kekeringan dan berisiko tinggi mengalami krisis air bersih saat musim kemarau berlangsung.

Salah satu contohnya adalah Desa Tlogo Pucang di Kecamatan Kandangan, yang sudah berulang kali mengalami kekeringan setiap tahunnya.

“Contohnya di Kecamatan Kandangan, Desa Tlogo Pucang termasuk wilayah yang menjadi langganan kekeringan,” tambahnya.

Untuk mengantisipasi kekurangan air bersih, BPBD Temanggung telah menyiapkan sekitar 90 tangki air yang siap disalurkan ke desa-desa terdampak. Jumlah ini bersifat fleksibel dan bisa ditambah jika kebutuhan di lapangan meningkat.

“Kalau nanti ternyata jumlah itu belum mencukupi, kami akan mengajukan tambahan ke Pemerintah Kabupaten Temanggung,” terang Totok.

Sebagai catatan, pada musim kemarau tahun 2024 lalu, BPBD Temanggung telah mendistribusikan 115 tangki air bersih kepada desa-desa yang mengalami kekeringan. Penyaluran dilakukan berdasarkan permintaan resmi dari masing-masing pemerintah desa.

Meski menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih singkat dibanding tahun lalu, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama di desa-desa yang sudah memiliki riwayat kekeringan berkepanjangan.

“Namun tetap kami waspadai, terutama di desa-desa yang selama ini menjadi langganan kekeringan,” ucap Totok.

Sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana jangka panjang, sejumlah wilayah terdampak pada tahun lalu juga telah menerima bantuan fasilitas penampungan air bersih.

Setidaknya ada 16 titik lokasi yang telah dibantu dengan sarana tersebut, untuk memperkuat kesiapan menghadapi musim kering dan mengurangi ketergantungan pada suplai air tangki.

Pemetaan wilayah rawan kekeringan ini merupakan langkah penting dalam manajemen risiko bencana berbasis data.

Dengan pemetaan yang tepat, distribusi bantuan air bersih dapat dilakukan secara efisien dan tepat sasaran, menghindari pemborosan sumber daya sekaligus memastikan masyarakat yang paling membutuhkan dapat segera terbantu.

Langkah antisipatif yang dilakukan BPBD Temanggung juga menjadi bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim, mengingat pola musim yang makin tidak menentu.

Selain bantuan air, edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan air bersih, pembangunan sumur resapan, serta penggunaan air secara hemat juga terus digencarkan sebagai bagian dari penguatan ketahanan desa terhadap bencana kekeringan. (*)

Berita Sebelumnya
Petani kesulitan persemaian benih

Petani Kebarongan Kesulitan Gunakan Rice Transplanter Secara Optimal Karena Keterbatasan Sarpras

Berita Selanjutnya
Sapi kurban laris di banjarnegara, lesu di banyumas

Penjualan Sapi Kurban Laris di Banjarnegara, Sepi di Banyumas