Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Petani Kebarongan Kesulitan Gunakan Rice Transplanter Secara Optimal Karena Keterbatasan Sarpras

Petani kesulitan persemaian benihPetani kesulitan persemaian benih

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Para petani di Desa Kebarongan, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas menghadapi tantangan serius dalam menerapkan teknologi modern pertanian berupa rice transplanter atau mesin penanam padi.

Meski teknologi ini menjanjikan efisiensi dan solusi terhadap krisis tenaga kerja, penerapannya masih terganjal minimnya sarana dan prasarana pendukung, terutama dalam proses persemaian benih.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kemranjen, Sugiyanto, mengatakan bahwa sebenarnya minat petani terhadap rice transplanter masih cukup tinggi.

Pengalaman di musim tanam sebelumnya menunjukkan bahwa alat ini cukup membantu mengurangi beban kerja petani, khususnya dalam proses tanam padi.

“Akan tetapi petani masih ribet untuk membuat persemaian dan nampan juga terbatas,” ujar Sugiyanto, Rabu (21/5).

Keterbatasan nampan sebagai media utama untuk persemaian menjadi hambatan krusial. Rice transplanter membutuhkan persemaian khusus dalam nampan yang ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan mesin. Semakin luas lahan yang dikelola petani, semakin banyak pula jumlah nampan yang dibutuhkan, yang pada kenyataannya tidak mudah dipenuhi oleh sebagian besar petani di desa tersebut.

Menurut Sugiyanto, pada musim tanam kedua ini, hanya Ketua Kelompok Tani Cungkring yang masih konsisten menggunakan sistem persemaian dengan nampan sebagai persiapan penggunaan rice transplanter. Ini menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas dan kurangnya dukungan infrastruktur telah menghambat adopsi teknologi secara lebih luas di kalangan petani lokal.

Menariknya, untuk melindungi persemaian dari serangan hama, terutama tikus, para petani mulai mencari solusi alternatif. Jika biasanya pelindung persemaian dibuat dari plastik, kini petani mencoba menggunakan seng sebagai pelindung utama. Cara ini dianggap lebih efektif karena tikus kerap merusak benih sebelum proses pemindahan ke lahan sawah dilakukan.

“Di wilayah Kecamatan Kemranjen, baru Desa Kebarongan yang mengaplikasikan rice transplanter,” tambah Sugiyanto.

Kondisi ini menegaskan bahwa meskipun rice transplanter diakui sangat membantu, adopsi teknologi ini belum merata. Salah satu sebab utama adalah keterbatasan fasilitas pendukung di tingkat desa, mulai dari nampan persemaian, pelindung benih, hingga keterampilan teknis petani dalam mengelola proses persemaian modern.

Teknologi rice transplanter sendiri sejatinya menawarkan keunggulan signifikan di tengah semakin langkanya tenaga kerja pertanian, khususnya buruh tanam (tandur).

Pemerintah daerah dan dinas terkait diharapkan bisa memperkuat dukungan, baik melalui penyediaan nampan dalam jumlah cukup maupun pendampingan teknis yang menyasar seluruh kelompok tani di wilayah Banyumas.

Kendala teknis seperti persemaian seringkali dianggap sepele, namun justru menjadi titik krusial yang menentukan keberhasilan sistem pertanian berbasis mekanisasi. Terlebih di era modern saat ini, efisiensi dan kecepatan tanam menjadi faktor utama dalam meningkatkan produktivitas lahan.

Dengan adanya solusi konkret terhadap hambatan ini, Desa Kebarongan berpotensi menjadi pionir transformasi pertanian modern di Banyumas.

Langkah mereka dapat menjadi contoh untuk desa lain dalam mengadopsi rice transplanter secara berkelanjutan, sekaligus mengatasi ketergantungan pada tenaga kerja manual yang semakin sulit dijangkau. (fij/stch)

Berita Sebelumnya
Ketua dprd jawa tengah, sumanto

Sumanto Desak Pengusaha Jamin Keamanan Pangan dan Obat

Berita Selanjutnya
Daerah rawan kekeringan dipetakan

BPBD Temanggung Petakan Wilayah Rawan Kekeringan, Siapkan Bantuan Air Bersih untuk Musim Kemarau 2025