BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Stok cadangan beras pemerintah (CBP) Indonesia mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah sejak berdirinya Perum Bulog pada 1969. Hingga 31 Mei 2025, CBP berhasil menembus angka 4 juta ton, menjadikannya sebagai capaian tertinggi dalam 56 tahun terakhir.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa lonjakan cadangan beras ini merupakan cerminan kuatnya ketahanan pangan nasional saat ini.
Dalam situasi global yang penuh tekanan akibat krisis iklim, ketidakstabilan geopolitik, dan terganggunya rantai pasok internasional, Indonesia kini dinilai siap mengambil peran lebih besar dalam sistem pangan dunia.
“Dengan angka serapan seperti ini, Indonesia secara tidak langsung siap mengambil peran lebih besar dalam sistem pangan dunia,” ujar Amran, Senin (2/6).
Capaian luar biasa ini tak lepas dari strategi kebijakan yang digagas Presiden Prabowo Subianto, yang langsung menyentuh sektor hulu dan hilir pertanian.
Pemerintah meningkatkan kuota pupuk subsidi hingga dua kali lipat, membenahi sistem distribusi pupuk agar tepat sasaran, dan menetapkan harga gabah petani sebesar Rp 6.500 per kilogram, yang terbukti memberikan kepastian dan semangat baru bagi para petani dalam meningkatkan produksi.
Kebijakan tersebut memberikan efek langsung terhadap peningkatan drastis serapan beras lokal.
Per 31 Mei 2025 pukul 12.14 WIB, Bulog telah menyerap 2,429 juta ton beras dari hasil panen petani. Angka ini mengalami lonjakan lebih dari 400 persen dibandingkan dengan rata-rata periode yang sama dalam lima tahun terakhir.
“Keberhasilan ini berasal dari panen petani kita sendiri, tanpa campur tangan impor sama sekali,” tegas Amran.
Tidak hanya stok yang meningkat, produksi nasional juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Indonesia pada periode Januari hingga Mei 2025 tercatat mencapai 16,55 juta ton. Angka tersebut mengalami peningkatan sebesar 11,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan produksi ini turut mendongkrak kinerja ekonomi nasional. Dalam laporan BPS terbaru, sektor pertanian menyumbang 10,52 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada triwulan pertama 2025 secara year on year. Persentase ini tercatat sebagai kontribusi tertinggi sektor pertanian terhadap PDB dalam sejarah.
Dengan produksi yang terus meningkat dan cadangan yang stabil, pemerintah membuka peluang besar untuk ekspor beras.
Sejumlah negara sahabat, termasuk Malaysia, telah menunjukkan minat terhadap beras produksi Indonesia. Namun pemerintah menegaskan bahwa prioritas tetap pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri sebelum membuka keran ekspor secara luas.
Langkah strategis ini dinilai tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam ketahanan pangan nasional, tetapi juga membuka potensi besar dalam peta perdagangan pangan global. Indonesia kini berdiri di posisi yang lebih percaya diri dalam mengelola surplus produksi beras demi kemakmuran petani dan stabilitas ekonomi nasional.
Dengan capaian 4 juta ton cadangan dan peningkatan produksi yang signifikan, ketahanan pangan bukan lagi sekadar target, tetapi telah menjadi realitas yang menopang kemandirian Indonesia di tengah dinamika global. (*/stch)
















