BANYUMASEKSPRES.ID, Klub raksasa Italia, AC Milan dan Juventus harus menghadapi kenyataan pahit pada akhir musim Serie A 2025/2026.
Keduanya gagal mengamankan tempat di zona Liga Champions setelah mengalami persaingan yang ketat pada pekan terakhir kompetisi.
Dalam perkembangan yang mengejutkan, Como 1907 berhasil meraih posisi keempat di klasemen akhir Serie A, yang sekaligus memastikan tiket Liga Champions pertama dalam sejarah klub tersebut.
Keberhasilan ini menjadi sorotan utama dalam dunia sepak bola Italia, terutama mengingat latar belakang Como yang sebelumnya berkutat di divisi bawah.
AC Milan menutup musim dengan finis di posisi kelima klasemen akhir.
Rossoneri kehilangan poin penting saat menghadapi Cagliari Calcio dalam laga penentuan yang sangat menentukan nasib mereka.
Pertandingan tersebut menjadi titik balik bagi AC Milan, yang sebelumnya sempat berada dalam jalur aman untuk mendapatkan tiket Liga Champions.
Kegagalan ini tentu menjadi pukulan berat bagi tim yang memiliki sejarah panjang dan prestisius di pentas Eropa.
Sementara itu, situasi yang dialami oleh Juventus jauh lebih dramatis. Klub asal Turin ini hanya mampu menyelesaikan musim di posisi keenam, sebuah pencapaian yang merupakan salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Kegagalan Juventus kali ini terasa semakin menyakitkan karena mereka mencatat posisi akhir terburuk dalam 15 musim terakhir.
Dalam konteks sejarah klub, absennya Juventus dari Liga Champions kali ini bukan hanya disebabkan oleh buruknya performa tim, tetapi juga oleh isu-isu internal seperti hukuman pengurangan poin akibat kasus plusvalenza yang pernah membayangi mereka.
Akhir musim Serie A kali ini menandai catatan langka dalam sepak bola Italia.
Untuk pertama kalinya sejak format baru Liga Champions dimulai pada musim 1992/1993, baik AC Milan maupun Juventus gagal lolos ke kompetisi elite Eropa tersebut.
Hal ini menggambarkan perubahan signifikan dalam peta kompetisi sepak bola Italia, terutama dengan munculnya tim-tim baru yang siap bersaing di level tertinggi.
Kegagalan kedua raksasa Italia ini juga menciptakan tekanan besar untuk melakukan pembenahan total menjelang musim baru.
Perubahan dalam struktur klub, manajemen olahraga hingga komposisi skuad diperkirakan akan menjadi fokus utama bagi kedua tim demi bangkit kembali di musim depan.
Pelatih Juventus Massimiliano Allegri pun tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas hasil buruk ini.
“Musim ini menjadi pelajaran besar bagi kami. Klub sebesar Juventus harus kembali berada di Liga Champions,” ujar Allegri usai laga terakhir musim ini.
Di tengah keterpurukan dua raksasa Italia tersebut, Como justru mencuri perhatian dengan pencapaian luar biasa mereka.
Klub promosi ini berhasil menunjukkan bahwa mereka siap bersaing di kasta tertinggi sepak bola Italia dengan performa gemilang sepanjang musim.
Como tidak hanya berhasil meraih tiket Liga Champions, tetapi juga mencatat fakta unik bahwa mereka adalah tim pertama di Serie A yang lolos ke Liga Champions tanpa mencetak satu pun gol melalui pemain Italia.
Keberhasilan Como menjadi cerita terbesar Serie A musim ini dan memberikan harapan baru bagi para penggemar sepak bola Italia yang mendambakan kehadiran tim-tim baru yang kompetitif.
Sementara itu, AS Roma juga menikmati akhir musim yang positif dengan kembali tampil di Liga Champions setelah penantian selama tujuh tahun.
Ini merupakan momen bersejarah bagi klub ibu kota Italia tersebut dan menunjukkan bahwa meskipun ada raksasa yang terpuruk, selalu ada peluang bagi tim lain untuk bersinar.
Kondisi saat ini menuntut AC Milan dan Juventus untuk merefleksikan diri dan mengambil langkah-langkah strategis agar tidak terjebak dalam pola negatif yang terus berulang.
Sebuah evaluasi menyeluruh terhadap skuad serta filosofi permainan tampaknya menjadi hal krusial untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan musim depan.
Baik Rossoneri maupun Bianconeri kini berada di persimpangan jalan; apakah mereka akan belajar dari kesalahan atau terjerumus lebih jauh ke dalam keterpurukan?
Reaksi dari para pendukung kedua klub pun bervariasi. Ada rasa kecewa mendalam atas hasil akhir musim sekaligus harapan agar manajemen klub segera mengambil tindakan tepat untuk mengembalikan kejayaan masing-masing tim.
Bagi para suporter setia AC Milan dan Juventus, melihat rivalitas tradisional antara kedua tim tetap bergelora seperti sedia kala adalah harapan terbesar mereka.
Melihat ke depan, tinggal bagaimana kedua klub besar ini dapat memanfaatkan momentum pergeseran kekuatan dalam Serie A untuk melakukan perubahan konstruktif di tubuh klub masing-masing.
Dengan banyaknya talenta muda berbakat di Italia saat ini serta peluang untuk membangun skuat yang lebih kuat dan lebih beragam secara taktik, ada harapan bahwa AC Milan dan Juventus tidak akan lama lagi kembali ke jalur kesuksesan. (*/stch/dda)
















