BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Banyumas, Dukha Ngabdul Wasih, menyoroti meningkatnya degradasi moral di kalangan pelajar.
Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah minimnya pengawasan penggunaan gawai oleh orang tua.
Ia menegaskan bahwa pembentukan karakter anak tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah.
Keluarga memiliki peran yang sama penting dalam mendidik serta mengawasi perilaku anak, baik di rumah maupun di lingkungan sosial.
“Ini menjadi fokus kita semua. Memang terkait krisis moral yang kita hadapi adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Dukha mengajak para orang tua untuk lebih aktif mendukung penerapan disiplin di sekolah.
Selain mengawasi penggunaan gadget, ia juga menilai komunikasi yang baik antara orang tua dan guru harus terus diperkuat agar proses pendidikan berjalan optimal.
Menurutnya, sinergi antara keluarga dan sekolah menjadi kunci utama dalam membentuk karakter peserta didik yang berakhlak baik dan bertanggung jawab.
Selain menyoroti perilaku siswa, Dukha juga menilai perlindungan terhadap guru masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Ia menyebut masih ada orang tua yang belum memahami aturan sekolah sehingga kerap menolak tindakan pendisiplinan yang dilakukan guru.
“Karena ternyata masih banyak orang tua yang memang tidak terima, atau sebenarnya orang tua ini kurang memahami aturan di sekolah. Orang tua murid juga perlu dididik dan diberikan edukasi,” jelasnya.
Menurut Dukha, teguran maupun hukuman yang diberikan guru merupakan bagian dari proses pembelajaran ketika siswa melanggar tata tertib sekolah.
Karena itu, ia berharap orang tua tidak langsung menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk perlakuan yang merugikan anak.
Sebaliknya, orang tua diharapkan memahami bahwa tujuan utama guru adalah membina kedisiplinan dan membentuk karakter siswa menjadi lebih baik.
“Anak didik di sekolahan, kena hukuman atau kena marah oleh guru, pihak sekolah. Ini orang tua masih tidak bisa memahami dan menerima bahwa itu adalah hukuman karena memang ada kesalahan yang dilakukan oleh anaknya,” katanya.
Dukha menekankan pentingnya membangun komunikasi yang intens antara guru dan wali murid.
Dengan komunikasi yang baik, berbagai persoalan yang dihadapi siswa dapat diselesaikan bersama tanpa menimbulkan kesalahpahaman.
Ia menilai hubungan yang harmonis antara sekolah dan keluarga akan menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat dan kondusif.
“Interaksi guru dan orang tua itu penting, dan perlu dijalin secara intens,” ujarnya.
Untuk memperkuat kerja sama tersebut, Dukha mengusulkan agar sekolah mengadakan pertemuan rutin antara guru dan orang tua siswa.
Forum tersebut tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga tempat membahas berbagai persoalan pendidikan, termasuk kasus perundungan (bullying) yang hingga kini masih sering terjadi di lingkungan sekolah.
Menurutnya, upaya mencegah perundungan maupun krisis moral siswa harus dilakukan secara bersama-sama oleh sekolah, keluarga, dan masyarakat.
“Kasus perundungan di sekolah ternyata masih banyak juga. Penanganan perundungan bukan hanya tanggung jawab sekolah melainkan semua pihak,” pungkasnya. (res/stch/ddal
















