BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Surya Muhammadiyah Kecamatan Tambak terus menggencarkan upaya mengajak anak tidak sekolah (ATS) agar kembali mengenyam pendidikan pada tahun ajaran 2026/2027.
Meski telah menerjunkan puluhan relawan yang bergerak dari rumah ke rumah di 12 desa, jumlah peserta didik baru yang berhasil direkrut masih tergolong rendah.
Hingga pertengahan Juli 2026, baru delapan anak tidak sekolah yang mendaftarkan diri sebagai peserta didik di PKBM Surya Muhammadiyah Tambak.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan mengembalikan anak putus sekolah ke bangku pendidikan masih cukup besar, terutama karena faktor ekonomi dan kondisi sosial yang dihadapi masyarakat.
Sekretaris PKBM Surya Muhammadiyah Kecamatan Tambak, Ragil Suhartono, mengatakan pihaknya terus melakukan berbagai upaya agar lebih banyak ATS bersedia melanjutkan pendidikan melalui program pendidikan kesetaraan.
“ATS yang baru daftar di PKBM jumlahnya delapan murid,” ujar Ragil, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, jumlah tersebut memang mengalami peningkatan dibandingkan pendataan sebelumnya.
Namun, angka itu masih jauh dari harapan mengingat jumlah anak tidak sekolah di wilayah Kecamatan Tambak masih cukup banyak.
Dari delapan calon peserta didik yang telah mendaftar, lima orang memilih mengikuti Program Paket B yang setara dengan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Sementara tiga peserta lainnya mendaftar pada Program Paket C yang setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Adapun Program Paket A yang setara dengan Sekolah Dasar (SD) hingga kini belum memiliki pendaftar.
Untuk meningkatkan jumlah peserta didik, PKBM Surya Muhammadiyah mengerahkan sebanyak 26 relawan yang secara aktif melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat.
Para relawan menyasar anak-anak yang putus sekolah di 12 desa yang berada di wilayah Kecamatan Tambak.
Strategi jemput bola dilakukan dengan mendatangi rumah warga satu per satu.
Melalui pendekatan tersebut, relawan memberikan penjelasan bahwa anak yang telah putus sekolah masih memiliki kesempatan memperoleh pendidikan melalui jalur pendidikan nonformal yang diakui pemerintah.
Selain memberikan informasi mengenai program pendidikan kesetaraan, relawan juga berupaya membangun motivasi agar anak-anak maupun orang tua tidak ragu melanjutkan pendidikan.
Pendekatan secara langsung dinilai lebih efektif karena banyak keluarga yang sebelumnya belum memahami manfaat maupun mekanisme pembelajaran di PKBM.
“Relawan masih terus bergerak, semoga sebelum batas waktu input data Dapodik, calon siswa PKBM tambah terus,” kata Ragil.
Ia menjelaskan bahwa proses penjaringan peserta didik masih akan terus dilakukan hingga batas akhir penginputan Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Karena itu, PKBM berharap jumlah pendaftar masih dapat terus bertambah dalam beberapa waktu ke depan.
Ragil mengakui bahwa mengajak anak putus sekolah kembali belajar bukanlah pekerjaan yang mudah.
Berdasarkan hasil pendampingan di lapangan, sebagian besar ATS berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi sehingga memilih bekerja atau membantu orang tua dibandingkan melanjutkan sekolah.
Selain faktor ekonomi, terdapat pula kendala psikologis, terutama bagi anak tidak sekolah yang merupakan penyandang disabilitas.
Banyak dari mereka merasa minder atau kurang percaya diri untuk kembali mengikuti proses belajar.
Meski menghadapi berbagai tantangan, para relawan tetap berkomitmen memberikan pendampingan kepada masyarakat.
Mereka tidak hanya melakukan pendataan, tetapi juga memberikan motivasi serta meyakinkan keluarga bahwa pendidikan tetap dapat ditempuh melalui jalur pendidikan kesetaraan.
PKBM Surya Muhammadiyah berharap semakin banyak anak tidak sekolah di Kecamatan Tambak memanfaatkan kesempatan tersebut agar dapat memperoleh ijazah yang setara dengan pendidikan formal.
Dengan meningkatnya partisipasi masyarakat, program pendidikan kesetaraan diharapkan mampu menekan angka anak putus sekolah sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Banyumas. (fij/stch/dda)














