Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Festival Banyumas Kota Lama Gelar Ruwat Sukerta, Puluhan Peserta Ikuti Tradisi Tolak Bala

20 Orang Buang Sial Lewat Ruwat Sukerta20 Orang Buang Sial Lewat Ruwat Sukerta
BUANG SIAL: Peserta ruwat sukerta dimandikan air dari tujuh sumber di komplek Taman Sari Kecamatan Banyumas, Minggu (19/7/2026)

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Sebanyak 20 peserta mengikuti prosesi ruwat sukerta di kawasan Banyumas Kota Lama, Minggu (19/7/2026).

Tradisi budaya Jawa tersebut digelar sebagai bagian dari rangkaian Festival Banyumas Kota Lama dan menjadi ikhtiar untuk memohon keselamatan, kesehatan, serta kehidupan yang lebih baik.

Peserta yang mengikuti ruwatan tidak hanya berasal dari Kabupaten Banyumas, tetapi juga datang dari daerah lain, seperti Kabupaten Cilacap.

Mereka mengikuti prosesi dengan harapan dijauhkan dari berbagai kesialan dan memperoleh keberkahan dalam kehidupan.

Prosesi ruwat sukerta berlangsung khidmat di kawasan Balai Adipati Mrapat.

Para peserta berasal dari berbagai golongan sukerta, mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Salah satu peserta adalah Bahtiar Sidik Permana (28) asal Cilacap yang mengikuti ruwatan didampingi kedua orang tuanya.

Ibunya, Siti Warsinah, menjelaskan bahwa putranya merupakan anak tunggal atau ontang-anting, yang dalam tradisi Jawa termasuk golongan sukerta sehingga dianjurkan menjalani prosesi ruwatan.

“Anak saya hanya satu laki-laki, jadi mengikuti ruwat sukerta ini,” ujar Siti.

Ia berharap ritual tersebut menjadi ikhtiar agar putranya memperoleh keselamatan, kesehatan, kelancaran rezeki, serta kemudahan dalam meraih cita-cita.

“Semoga cita-cita anak saya juga tercapai dan enteng jodoh,” katanya.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Junaidi, menjelaskan bahwa ruwat sukerta merupakan tradisi budaya Jawa yang bertujuan membuang kesialan atau menolak bala.

Melalui prosesi tersebut, peserta diharapkan memperoleh keselamatan, ketenteraman, kesehatan, keberuntungan, dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan.

Menurutnya, tradisi ini masih terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal Banyumas.

Peserta yang mengikuti ruwat sukerta tidak hanya berasal dari golongan ontang-anting, tetapi juga berbagai kategori lain dalam tradisi Jawa.

Di antaranya kembang sepasang, uger-uger lawang, kedana kedini, kedini kedana, sendang kapit pancuran, serta pancuran kapit sendang.

Seluruh peserta menjalani rangkaian prosesi sesuai tata cara adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Junaidi menjelaskan bahwa rangkaian ruwat sukerta telah dimulai sehari sebelumnya dengan prosesi pengambilan air suci dari tujuh sumber mata air.

Air tersebut kemudian digunakan dalam prosesi penyiraman atau pemandian peserta sebagai simbol penyucian diri dan harapan agar berbagai kesialan dapat dilepaskan.

“Rangkaian ruwat sukerta sudah dimulai dari kemarin yaitu pengambilan air suci di tujuh sumber mata air,” jelas Junaidi.

Ruwat sukerta menjadi salah satu agenda dalam kalender kegiatan Dinporabudpar Kabupaten Banyumas yang dipadukan dengan Festival Banyumas Kota Lama.

Selain menjaga kelestarian tradisi Jawa, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung ke kawasan bersejarah Banyumas, termasuk Museum Wayang dan Balai Adipati Mrapat.

Melalui penyelenggaraan rutin kegiatan budaya seperti ini, Pemerintah Kabupaten Banyumas berharap warisan tradisi tetap lestari sekaligus memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat. (fij/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Pemuda Madiun Kabur Saat Open Trip

Pemuda Madiun Kabur Saat Open Trip Korea Selatan, Ibunya Ditagih Ganti Rugi Rp50 Juta

Berita Selanjutnya
Dokumen Kependudukan (2)

Tak Semua Layanan Dukcapil Perlu Surat Pengantar RT/RW, Ini Daftarnya