BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Warga di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, diminta untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa saat ini dinamika atmosfer sedang aktif, yang berpotensi meningkatkan curah hujan di wilayah barat Jawa Tengah.
Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menjelaskan bahwa ada beberapa fenomena cuaca yang menjadi penyebab utama tingginya curah hujan akhir-akhir ini.
“Dipole Mode Index (DMI) saat ini tercatat negatif 0,94 sehingga berdampak pada meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat, termasuk Banyumas,” jelasnya pada Selasa (19/8).
DMI yang negatif berarti adanya perbedaan suhu permukaan laut antara Samudra Hindia bagian barat dan timur, yang menyebabkan penguapan lebih tinggi dan pembentukan awan hujan.
Selain itu, fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) fase 3 di Samudra Hindia turut memperkuat pembentukan awan hujan. Fenomena MJO adalah gelombang atmosfer yang bergerak dari barat ke timur dan dapat mempengaruhi kondisi cuaca global.
Fase 3 MJO saat ini memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat. Ditambah lagi dengan adanya bibit siklon tropis 90W di Samudra Pasifik sebelah timur Filipina, semakin memperkuat potensi cuaca ekstrem.
“BMKG memprakirakan potensi hujan sedang hingga lebat masih dapat terjadi dalam tiga hari ke depan. Masyarakat Purwokerto kami imbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan bencana hidrometeorologi seperti banjir maupun tanah longsor,” ujar Teguh Wardoyo lebih lanjut.
Hujan dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan aliran sungai meluap dan tanah longsor di daerah-daerah rawan.
Di sisi lain, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Banyumas, Barkah, menekankan bahwa kondisi cuaca saat ini tergolong tidak biasa.
Menurut prakiraan awal BMKG, bulan Agustus seharusnya merupakan puncak musim kemarau. Namun kenyataannya, beberapa wilayah termasuk Banyumas justru mengalami curah hujan yang melebihi normal.
“Anomali seperti ini dapat memicu terjadinya bencana alam seperti banjir dan tanah longsor,” jelas Barkah.
Peningkatan curah hujan secara tiba-tiba dalam periode seharusnya kering bisa memberikan dampak serius bagi masyarakat sekitar.
Kekhawatiran akan datangnya bencana sudah mulai dirasakan oleh warga yang tinggal dekat dengan sungai-sungai besar di daerah tersebut. Budi, seorang warga yang tinggal di sekitar jembatan Sungai Banjaran mengungkapkan kekhawatirannya.
“Setiap kali hujan deras turun, arus sungai di sini menjadi sangat tinggi. Kami yang tinggal di dekat sini jadi takut kalau tiba-tiba datang banjir,” ungkapnya pada Senin (18/8).
Kondisi cuaca yang tidak menentu ini juga membuat banyak aktivitas masyarakat terganggu.
Misalnya saja aktivitas sehari-hari seperti pergi ke pasar atau anak-anak pergi ke sekolah harus dilakukan dengan lebih berhati-hati karena jalanan menjadi licin dan berbahaya akibat genangan air.
Pemerintah daerah melalui BPBD sudah melakukan langkah-langkah antisipatif untuk menghadapi kemungkinan bencana akibat curah hujan tinggi ini.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan sistem peringatan dini kepada masyarakat agar mereka dapat bersiap-siap lebih awal bila terjadi situasi darurat.
Barkah mengingatkan agar warga terus memantau informasi terkini dari BMKG serta mengikuti arahan dari pemerintah setempat apabila terjadi situasi darurat.
Hal ini penting untuk memastikan keselamatan semua pihak dan meminimalisir risiko kerugian baik materiil maupun non-materiil akibat bencana alam.
Dalam situasi seperti sekarang ini sangat penting bagi semua pihak untuk saling bekerja sama dan menjaga komunikasi agar penanganan bencana dapat dilakukan secara efektif dan efisien.
Terutama bagi warga yang tinggal di daerah-daerah rawan bencana seperti bantaran sungai atau lereng-lereng bukit perlu meningkatkan kewaspadaan mereka selama periode cuaca ekstrem ini berlangsung.
Menghadapi tantangan perubahan iklim global memang bukan hal mudah namun dengan kerjasama serta kesiapsiagaan kita bisa melewati masa sulit tersebut bersama-sama tanpa harus mengalami dampak buruk secara berlebihan.
Tidak hanya masyarakat umum saja tetapi dukungan dari berbagai pihak termasuk pemerintah pusat hingga lokal sangat dibutuhkan dalam menangani masalah perubahan iklim serta ancaman hidrometeorologi lainnya demi menciptakan lingkungan hidup yang aman dan nyaman. (jeb/dms/stch)
















