BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Perkembangan peternakan sapi jenis PO (Peranakan Ongole) di Kabupaten Kebumen saat ini menunjukkan kemajuan yang signifikan.
Dari yang awalnya hanya dikenal di tingkat lokal, kini sapi PO Kebumen telah naik level menjadi komoditas nasional yang banyak dicari.
Hal ini terlihat jelas dari meningkatnya permintaan hewan kurban sapi PO tidak hanya dari dalam daerah, tetapi juga dari luar wilayah Kebumen. Kesempatan ini menjadi berkah bagi para peternak di kebupaten tersebut.
Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen mencatat bahwa sapi PO asal kebupaten ini semakin diminati oleh masyarakat luas.
“Sapi jenis ini memiliki postur yang bagus juga karkas (daging)nya lebih banyak,” ujar Drh Eri Wahyu, salah satu personel Dinas Pertanian dan Peternakan.
Kualitas daging yang melimpah membuat sapi PO Kebumen menjadi incaran utama bagi konsumen yang ingin berkurban di Hari Raya Idul Adha.
Penting untuk dicatat bahwa sebelum ditawarkan kepada konsumen, setiap hewan kurban harus melewati pemeriksaan kesehatan oleh tim dokter hewan.
Dengan demikian, para konsumen tidak perlu khawatir mengenai keamanan daging hewan kurban yang mereka beli.
“Keberadaan sapi PO menjadi bagian dari program swasembada daging nasional juga memberikan dampak ekonomi positif bagi peternak di tingkat lokal,” tambah Drh Eri.
Muhibin, salah satu penyedia hewan kurban, mengungkapkan bahwa permintaan untuk sapi PO Kebumen terus meningkat setiap tahunnya.
“Permintaannya terus meningkat dari tahun ke tahun,” kata Muhibin saat ditemui pada tanggal 16 Mei.
Di tahun Idul Adha 2026 ini, ia menerima permintaan untuk mengirimkan sebanyak 31 ekor sapi PO ke Tangerang, jumlah yang mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya sekitar 28 ekor.
Kebangkitan permintaan ini tentu saja memberikan harapan baru bagi peternak.
“Setiap tahun selalu ada permintaan dari Tangerang juga sejumlah daerah lain. Kebanyakan datang dari instansi atau lembaga. Kami kirim 4 hari sebelum hari raya Idul Adha,” ujarnya menjelaskan proses pengiriman.
Tahun lalu, situasi permintaan hewan kurban sempat tertekan akibat wabah Lumpy Skin Disease (LSD), sebuah penyakit kulit pada ternak yang dapat menyebabkan keraguan di kalangan pembeli.
Namun, Muhibin optimis menyampaikan bahwa situasi kini sudah kembali normal dan permintaan mulai menggeliat lagi.
“Alhamdulillah tahun ini situasinya sudah kembali normal. Ada saja permintaan. Kalau terlalu mepet, biasanya kami sudah kehabisan stok,” tuturnya.
Dari sisi harga, para peternak dan penjual sapi kurban di Kebumen pun merasa beruntung karena harga daging sapi cukup stabil dan menguntungkan mereka.
“Harganya tergantung barang. Ada Rp 20 jutaan, Rp 25 juta, Rp 30 juta. Untuk yang beratnya 8 kuintal ke atas bisa mencapai Rp 40 jutaan lebih,” jelas Muhibin mengenai variasi harga sapi PO berdasarkan bobot dan kualitasnya.
Popularitas sapi PO asal Kebumen tidak hanya menarik perhatian masyarakat umum tetapi juga tokoh publik seperti artis Irfan Hakim, yang diketahui beberapa kali membeli sapi dari daerah tersebut untuk dijadikan hewan kurban.
Hal ini tentunya menambah daya tarik dan reputasi sapi PO Kebumen di kalangan masyarakat luas.
Menggali lebih dalam tentang potensi daging sapi yang berkualitas tinggi, kita bisa melihat bahwa keberadaan sapi PO Kebumen berkontribusi besar dalam memenuhi kebutuhan daging nasional di Indonesia.
Dalam konteks swasembada daging, peran serta peternak lokal menjadi sangat penting untuk menjaga ketersediaan pasokan daging berkualitas bagi masyarakat.
Dengan adanya program-program pemerintah yang mendukung pengembangan peternakan lokal serta peningkatan kualitas hewan ternak, harapannya adalah agar peternak bisa mendapatkan dukungan lebih dalam hal pelatihan dan akses terhadap teknologi modern dalam pemeliharaan ternaknya. (cah/stch/dda)
















