BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Jarang sekali ada satuan pendidikan nonformal yang berhasil mencapai prestasi di level nasional.
Namun, SKB Ajibarang telah menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu berawal dari fasilitas mewah, melainkan dari kekuatan karakter dan disiplin yang konsisten.
Pada akhir Mei lalu, SKB Ajibarang mendapat penghargaan bergengsi yang langsung diberikan oleh Dirjen Vokasi Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, di Jakarta.
Mereka dinobatkan sebagai Satuan Pendidikan Non Formal (SPNF) yang ideal, bermitra, dan berdaya.
Penghargaan ini bukan sekadar gelar kosong. Di baliknya terdapat perjalanan panjang penuh perjuangan, kolaborasi dari berbagai pihak, serta, yang paling penting, penguatan karakter dan ibadah sebagai fondasi utama.
Slamet Sularto, Kepala SKB Ajibarang, menegaskan bahwa pencapaian ini bukanlah hasil dari kebetulan atau keberuntungan saja.
“Apa yang diraih SKB Ajibarang tidak lahir dari ruang hampa. Butuh proses. Juga konsistensi yang disiplin,” ujarnya dengan tenang namun penuh ketegasan.
Menurut Slamet, konsep “ideal, bermitra, dan berdaya” diwujudkan dengan pemanfaatan maksimal terhadap potensi yang tersedia.
“Jadi memanfaatkan kondisi yang ada sebaik mungkin,” katanya. Apa yang sekarang dikenal sebagai Gerakan Nasional “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” sudah sejak lama diterapkan di SKB Ajibarang.
Kebiasaan seperti bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, hingga tidur tepat waktu, bukan sekadar slogan di dinding kelas, tetapi diterapkan dalam keseharian.
“Sejak 2016, kami sudah menerapkan literasi dan penguatan karakter. Jauh sebelum program itu diresmikan pusat,” jelas Slamet.
Baginya, pondasi karakter anak-anak harus dibangun dari aktivitas sehari-hari yang konsisten dan nyata. Namun, ia menyadari bahwa tugas ini tidak mudah.
Karakter tidak bisa dibentuk dalam semalam, terutama di lingkungan pendidikan nonformal yang memiliki tantangan unik. Di sinilah peran ibadah menjadi kunci kedisiplinan.
“Wajib ibadah. Hari-hari besar Islam kita maknai dengan action, bersih-bersih masjid,” ucap Slamet.
Ia bahkan tidak segan menegur siswa yang lalai.
“Kalau tidak diingatkan dari dini, nanti akan terbentuk sikap permisif. Padahal karakter dan integritas dibentuk dari hal sederhana seperti ini,” tambahnya.
Pencapaian besar ini bukan hanya milik Slamet, tetapi juga seluruh pegawai SKB Ajibarang, para siswa, masyarakat sekitar, serta dukungan penuh dari jajaran Dinas Pendidikan dan Pemkab Banyumas. Slamet menyebut kerja kolaboratif ini sebagai bahan bakar utama yang mendorong SKB Ajibarang terus melaju.
“Dengan kolaborasi tersebut, program-program yang dijalankan selaras dengan kebijakan nasional dan mengusung mutu atau kualitas dan bukan semata-mata kuantitas,” pungkasnya.
Penghargaan nasional ini menjadi semacam validasi bahwa pendekatan berbasis karakter, kolaborasi, dan kedisiplinan spiritual tetap relevan dan sangat mungkin menjadi tolok ukur pendidikan berkualitas.
Kini, SKB Ajibarang bukan hanya sekadar tempat belajar, melainkan juga menjadi contoh nyata bahwa pendidikan yang bermakna bisa tumbuh di mana saja. Asalkan dijalankan dengan hati, disiplin, dan keyakinan pada nilai-nilai luhur. (*/stch)
















