BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Langit di atas Lapangan Desa Kejawar, Kecamatan Banyumas, tampak berbeda pada Minggu (23/8/2026).
Puluhan layangan berwarna-warni terbang bersamaan, bergerak mengikuti arah angin dan menciptakan pemandangan menarik bagi warga yang datang menyaksikan.
Beragam bentuk layangan menghiasi langit. Mulai dari layangan dua dimensi, tiga dimensi, hingga layangan naga yang tampak meliuk-liuk ketika diterpa angin.
Pemandangan tersebut menjadi bagian dari Festival Layangan Desa Kejawar Banyumas yang tahun ini memasuki penyelenggaraan kelima.
Di bawah layangan yang beterbangan, para peserta terlihat sibuk mengendalikan tali. Mata mereka terus tertuju ke langit untuk memastikan layangan tetap stabil.
Sedikit saja kehilangan konsentrasi, layangan bisa kehilangan keseimbangan, menukik, bahkan jatuh ke tanah.
Festival Layangan Desa Kejawar tidak hanya menjadi ajang menerbangkan layangan.
Para peserta dituntut memiliki kemampuan membaca arah angin dan mengatur tarikan tali agar layangan tetap dapat bertahan di udara.
Teknik tersebut semakin penting karena bentuk layangan yang dilombakan semakin beragam dan memiliki tingkat kesulitan berbeda.
Tahun ini terdapat tiga kategori utama, yakni layangan dua dimensi, tiga dimensi, dan naga.
Setiap kategori memiliki daya tarik tersendiri. Layangan dua dimensi lebih mengandalkan bentuk dan perpaduan warna, sedangkan layangan tiga dimensi membutuhkan struktur yang lebih kompleks.
Sementara itu, layangan naga menjadi salah satu tontonan yang menarik perhatian karena bentuknya dapat terlihat meliuk-liuk mengikuti hembusan angin.
Keseruan festival justru semakin terasa ketika layangan mulai menghadapi perubahan arah angin.
Ada layangan yang mampu melesat tinggi dan tetap stabil. Namun, ada pula yang tiba-tiba kehilangan keseimbangan beberapa saat setelah mengudara.
Bahkan, sejumlah layangan harus jatuh setelah talinya putus. Setiap gerakan layangan tersebut langsung menarik perhatian penonton.
Sorak-sorai terdengar ketika layangan favorit berhasil bertahan di udara, sementara kegagalan peserta juga tak jarang mengundang tawa.
Dalam perlombaan, keindahan bentuk bukan satu-satunya aspek yang diperhatikan.
Peserta juga harus menunjukkan kemampuan menerbangkan layangan dengan baik. Tingkat kerumitan pembuatan menjadi salah satu pertimbangan juri.
Semakin rumit struktur layangan, semakin besar pula tantangan untuk membuatnya tetap stabil ketika diterpa angin.
Festival Layangan Kejawar juga menjadi tempat berkumpulnya para penghobi layangan dari berbagai daerah.
Peserta tidak hanya berasal dari Desa Kejawar dan wilayah sekitar Banyumas. Penggemar layangan dari Purbalingga, Kebumen, hingga Cilacap turut hadir membawa karya mereka.
Ketua Pokdarwis Desa Kejawar Gancang Kuwarto mengatakan, semakin luasnya daerah asal peserta menunjukkan festival tersebut mulai dikenal di luar Banyumas.
Ia berharap Festival Layangan Kejawar dapat berkembang menjadi event yang lebih besar pada masa mendatang.
“Semoga Festival Layangan ini bisa naik level ke provinsi, nasional hingga internasional di tahun-tahun berikutnya karena di Kejawar sarana sudah bertambah, di lapangan ada embung,” kata Gancang.
Camat Banyumas Jakarta Tisam juga berharap Festival Layangan dapat terus dikembangkan.
Setelah lima kali diselenggarakan, event tersebut dinilai memiliki potensi untuk menjadi salah satu daya tarik wisata Desa Kejawar.
Festival layangan bukan hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga memberikan hiburan bagi masyarakat dan mempertemukan para penghobi layangan dari berbagai daerah.
Pada hari pelaksanaan, warga tampak menikmati suasana festival. Anak-anak berlarian mengikuti bayangan layangan, sementara orang dewasa berdiri sambil sesekali mendongak ke langit.
Para peserta sendiri tetap fokus mempertahankan layangan masing-masing agar tidak jatuh.
Dari kejauhan, layangan yang memenuhi langit mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik setiap karya terdapat proses panjang yang harus dilalui pembuatnya.
Mulai dari membuat kerangka, memilih bahan, mengatur keseimbangan, hingga melakukan uji coba berulang kali sebelum layangan benar-benar siap diterbangkan.
Karena itu, Festival Layangan Kejawar bukan semata-mata tentang siapa yang menjadi pemenang.
Ada kepuasan ketika karya yang dibuat dengan tangan sendiri akhirnya berhasil mengudara.
Ada ketegangan ketika arah angin berubah. Ada pula tawa ketika layangan yang sudah dibuat dengan susah payah tiba-tiba jatuh.
Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari keseruan festival.
Lima kali festival digelar, dan setiap penyelenggaraan seolah menghadirkan cerita berbeda di langit Desa Kejawar.
Pada Minggu (23/8), cerita itu hadir melalui puluhan layangan yang menari di antara hembusan angin, para penghobi yang terus mengejar ketinggian, serta warga yang menikmati suasana penuh warna dari bawahnya.
Jika terus dikembangkan, Festival Layangan Desa Kejawar berpeluang menjadi agenda wisata yang tidak hanya dikenal di Banyumas, tetapi juga menarik peserta dan wisatawan dari berbagai daerah. (fij/stch/dda)














