Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Makna Lagu “Tumbal Proyek” Band Sukatani yang Jadi Soundtrack Film Angkara Murka

Memahami makna lagu tumbal proyek bank sukatani yang dipilih jadi soundtrack film angkara murkaMemahami makna lagu tumbal proyek bank sukatani yang dipilih jadi soundtrack film angkara murka
Memahami makna lagu Tumbal Proyek Bank Sukatani yang dipilih jadi soundtrack film Angkara Murka.

BANYUMASEKSPRES.ID, Makna lagu “Tumbal Proyek” Band Sukatani menjadi sorotan setelah dipilih sebagai soundtrack film horor Angkara Murka yang akan tayang pada 22 Mei 2025.

Makna lagu “Tumbal Proyek” Band Sukatani menggambarkan kritik sosial terhadap praktik pembangunan yang sering kali mengorbankan nyawa manusia demi kepentingan proyek infrastruktur. Bukan hanya sekadar lagu punk dengan tempo cepat dan suara bising yang khas, karya ini menyimpan lapisan makna yang mendalam yang relevan dengan kondisi sosial masyarakat modern.

Band asal Purbalingga ini, yang terdiri dari Twister Angel (vokalis) dan Alectroguy (gitaris), dikenal dengan lirik-lirik tajam yang menyoroti isu-isu sosial. Mereka bukan hanya sekadar musisi yang bernyanyi, melainkan juga aktivis suara yang menyuarakan ketidakadilan yang kerap terabaikan.

Dalam lagu ini, mereka mengangkat cerita dari mitos masa kecil tentang orang-orang yang dijadikan tumbal dalam proyek pembangunan, seperti jembatan atau gedung, yang sering terdengar di desa-desa. Mitos tersebut bukan hanya dongeng pengantar tidur, tetapi cerminan nyata bagaimana ketakutan masyarakat terhadap pembangunan yang merusak dan memakan korban masih berakar kuat.

Makna Lagu “Tumbal Proyek” Band Sukatani

Makna lagu “Tumbal Proyek” Band Sukatani tidak hanya berhenti pada mitos, tetapi juga mengaitkan tema lagu dengan peristiwa sejarah, yaitu kerja paksa Romusha pada masa penjajahan, di mana manusia dijadikan korban demi kelangsungan suksesnya proyek pembangunan.

Lagu ini menghidupkan kembali trauma kolektif tentang bagaimana pembangunan, baik di masa lalu maupun sekarang, bisa menjadi senjata yang melukai bukan hanya fisik, tetapi juga martabat manusia.

Bagi Sukatani, pembangunan yang dilakukan tanpa memperhatikan etika dan kemanusiaan tidak layak disebut sebagai kemajuan.

Lagu ini menyoroti praktik pembangunan yang sering kali menelan korban jiwa, namun tetap dimaklumi demi kemajuan infrastruktur. Bahkan, dalam banyak kasus, korban jiwa tersebut dianggap sebagai bagian dari “risiko proyek”, padahal setiap nyawa adalah harga yang tak bisa ditukar dengan apapun.

Dalam wawancara, Alectroguy menyatakan bahwa lagu ini bicara tentang proyek-proyek pembangunan yang mubazir dan justru menimbulkan banyak korban, baik manusia, hewan, maupun lingkungan. Kritik ini dilontarkan dengan cara yang satir namun menghujam, menggambarkan ironi di balik pembangunan yang katanya demi masyarakat, tetapi justru menyingkirkan masyarakat itu sendiri.

Lirik lagu “Tumbal Proyek” menggambarkan bagaimana orang yang mati dianggap tak punya harga diri, orang tak bernyawa dianggap tak berguna hingga lebih baik ditumbalkan saja.

Hal ini bisa diartikan sebagai sindiran terhadap bagaimana manusia diperlakukan layaknya alat atau objek dalam sistem kapitalistik, di mana untung rugi menjadi tolok ukur utama, bahkan dalam hal-hal yang menyangkut kehidupan dan kematian.

Ilustrasi lagu tumbal proyek oleh bank sukatani
Ilustrasi lagu Tumbal Proyek oleh Bank Sukatani.

Makna lagu “Tumbal Proyek” Band Sukatani hadir sebagai alarm keras yang mengingatkan bahwa pembangunan yang manusiawi seharusnya menempatkan manusia sebagai pusat, bukan sekadar angka dalam laporan proyek.

Lagu “Tumbal Proyek” dipilih menjadi original soundtrack (OST) untuk film horor Angkara Murka karena temanya selaras dengan cerita film yang mengangkat kisah kehidupan para buruh tambang batu dan isu-isu sosial yang kerap terjadi di balik industri tambang.

Film Angkara Murka bukan hanya menawarkan ketegangan horor, tetapi juga menyajikan kritik terhadap ketimpangan sosial dan ketidakadilan yang dialami oleh kelas pekerja.

Lagu ini, dengan kekuatan lirik dan emosinya, menjadi pendamping narasi yang tepat untuk membangun atmosfer film yang kelam dan menggugah.

Sutradara Eden Junjung merasa bahwa lagu ini memiliki kekuatan tematik yang cocok dengan film garapannya. Ia menyatakan bahwa musik punk dengan pesan sosial yang kuat sangat membantu membangun suasana film yang tidak hanya menyeramkan secara visual, tetapi juga emosional.

Keputusan menjadikan lagu ini sebagai OST merupakan bentuk pengakuan terhadap kekuatan musik sebagai media narasi dan kritik. Gitaris Band Sukatani, Alectroguy, mengungkapkan bahwa mereka merasa ada benang merah antara lirik lagu “Tumbal Proyek” dengan cerita Angkara Murka.

Setelah membaca naskah film, mereka melihat kesamaan secara tema, sehingga kolaborasi ini menjadi momen penting bagi mereka untuk kembali unjuk gigi setelah sempat menghilang dari dunia musik akibat kontroversi lagu sebelumnya.

Bagi Sukatani, ini bukan sekadar comeback musikal, tetapi juga bentuk konsistensi mereka dalam menyuarakan hal-hal yang sering dilupakan oleh arus utama media dan hiburan.

Makna lagu “Tumbal Proyek” Band Sukatani menggambarkan kritik tajam terhadap praktik pembangunan yang mengorbankan nyawa manusia dan lingkungan. Kehadiran lagu ini sebagai soundtrack film Angkara Murka semakin memperkuat pesan tersebut. (fam)

Berita Sebelumnya
Akibat story wa berujung penganiayaan

Cemburu Buta, Seorang Pemuda di Cilacap Aniaya Kekasihnya Sendiri

Berita Selanjutnya
Ancam korban pakai golok, pria diamankan

Pria Warga Purwokerto Timur Diamankan Polisi Usai Ancam Korban dengan Golok