Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Pasar Wage Purwokerto Akan Disulap Jadi Kawasan Kuliner Pecinan 24 Jam

Pasar Wage Disiapkan Jadi Kawasan 24 JamPasar Wage Disiapkan Jadi Kawasan 24 Jam
REVITALISASI: Jalan Vihara Pasar Wage Purwokerto, Kamis (21/5). Kawasan tersebut akan diubah menjadi kawasan kuliner malam bertema 'Kya-Kya'

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Pemerintah Kabupaten Banyumas tengah mempersiapkan penataan besar-besaran kawasan Pasar Wage yang terletak di Purwokerto.

Sebagai salah satu ikon perdagangan yang telah lama dikenal, pasar tradisional ini direncanakan untuk bertransformasi menjadi kawasan pasar yang hidup 24 jam, lengkap dengan sentra kuliner malam yang mengusung gaya Pecinan.

Wacana revitalisasi ini kembali mencuat, seiring dengan dukungan pendanaan yang direncanakan akan datang dari pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, hingga Kementerian Perdagangan.

Penataan ini diharapkan dapat menghidupkan kembali kawasan perdagangan dan sekaligus mendongkrak sektor pariwisata malam di pusat kota Purwokerto, sebuah langkah strategis dalam meningkatkan daya tarik daerah tersebut.

Penasehat Paguyuban Pedagang Pasar Wage (P3W), Heri Gudeg, menjelaskan bahwa konsep pasar 24 jam sebenarnya bukanlah hal baru bagi masyarakat.

Aktivitas perdagangan di Pasar Wage sudah berlangsung hampir tanpa henti selama bertahun-tahun.

“Dari dulu Pasar Wage memang ikonnya Banyumas. Pak Bupati ingin menghidupkan pasar 24 jam. Sebenarnya aktivitas Pasar Wage memang sudah 24 jam, hanya sekarang lebih dispesifikkan lagi kalau malam untuk kuliner,” ungkapnya pada Kamis (21/5).

Konsep yang sedang disiapkan akan menghadirkan kawasan kuliner malam di sepanjang Jalan Vihara, dengan fokus pada sisi barat depan klenteng dan area sekitarnya yang nantinya akan ditata sedemikian rupa menyerupai pusat kuliner Pecinan modern.

“Pak Bupati menginginkan kawasan Jalan Vihara, terutama yang sebelah barat depan klenteng sampai sana dijadikan kawasan kuliner. Dibikin seperti Pecinan,” kata Heri lebih lanjut.

Gagasan ini sebenarnya bukanlah hal baru. Sekitar sembilan tahun lalu, pernah ada pembahasan mengenai konsep serupa yang dikenal dengan nama “Kya-Kya”.

Namun, saat itu rencana pengembangan kawasan kuliner malam tidak terealisasi di Banyumas.

“Dulu pernah ada wacana namanya Kya-Kya. Saya juga pernah ikut rapat di sini mungkin sampai lima atau enam kali. Konsep pasar Pecinan, tapi malah dilaksanakannya di Purbalingga,” ceritanya.

Istilah “Kya-Kya” sendiri berasal dari dialek Hokkian yang berarti “jalan-jalan”.

Konsep ini identik dengan kawasan wisata malam yang sarat aktivitas kuliner, hiburan, dan keramaian khas dari lingkungan Pecinan.

Heri menambahkan bahwa konsep yang akan diterapkan di Pasar Wage nantinya akan mengadopsi suasana modern dari kawasan Pecinan seperti yang ada di Pasar Gede Solo maupun kawasan Pecinan Semarang.

Penataan kawasan tidak hanya akan difokuskan pada tempat makan saja.

Pemkab Banyumas juga berencana untuk melengkapi penataan tersebut dengan ornamen lampion untuk memperkuat nuansa wisata malam yang menarik minat pengunjung.

“Konsepnya seperti Pecinan, ada lampion-lampion. Mirip di Pasar Gede Solo, di Semarang juga ada,” ucapnya optimis.

Dalam rangka mendukung perubahan wajah Pasar Wage agar lebih menarik dan fungsional, Pemkab Banyumas juga sedang menyiapkan pembebasan lahan untuk mendukung desain baru pasar yang rencananya akan menghadap ke arah selatan.

Pembebasan lahan ini diperkirakan akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Banyumas dan dijadwalkan masuk dalam anggaran perubahan pada tahun 2027.

“Kalau revitalisasi pasar memang kemarin sudah disanggupi oleh Pak Gubernur akan dianggarkan dari dana provinsi sama Kementerian Perdagangan,” pungkas Heri menambahkan informasi penting terkait dukungan anggaran untuk proyek ini.

Revitalisasi ini menunjukkan komitmen Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam mendorong perkembangan ekonomi lokal dan menghidupkan kembali perekonomian masyarakat melalui sektor perdagangan dan pariwisata malam.

Dengan adanya sentra kuliner malam bertema Pecinan ini, harapannya adalah mampu menjadi daya tarik baru sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan ke Purwokerto. (dms/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Maki Otsuki Hadirkan Nuansa One Piece di Marapthon

Penampilan "Memories" dari Maki Otsuki Bikin FESTIVAAAL Marapthon: The Last Tale Penuh Nostalgia

Berita Selanjutnya
Harga Bahan Baku Naik, Ukuran Diperkecil

Harga Kedelai dan Plastik Naik, Pengrajin Tempe di Kebumen Terpaksa Kecilkan Ukuran Produk