BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Tantangan dalam memperbaiki infrastruktur Pasar Cilongok tampak semakin kompleks seiring dengan berulangnya kerusakan yang terjadi. Atap luar pasar ini, yang telah beberapa kali ambruk, masih belum bisa diperbaiki secara menyeluruh karena terbatasnya anggaran.
Sejak pertama kali atap tersebut roboh pada awal Juni 2025, perbaikan yang dilakukan hanya bersifat sementara.
Agus Mulyono, Kepala UPTD Pasar Wilayah Banyumas Barat, menyatakan bahwa kondisi Pasar Cilongok memang memerlukan banyak pembenahan sejak dikelola oleh Perusahaan Daerah (Perusda).
Setelah insiden pertama pada bulan Juni diperbaiki menggunakan dana dari UPTD dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Banyumas, atap kembali mengalami keruntuhan pada akhir Juli atau awal Agustus.
“Yang ambruk terakhir tidak ada anggaran. Karena angin, hujan, dan bangunan sudah keropos,” jelas Agus.
Kondisi fisik pasar yang terus memburuk membuat pihak pengelola mempertimbangkan usulan untuk menurunkan tipe pasar Cilongok.
Penentuan tipe pasar tidak hanya berdasarkan jumlah pedagang dan luas area tetapi juga kondisi fisik bangunannya. Menurut Keputusan Bupati Banyumas Nomor 158 Tahun 2024, pasar dikategorikan menjadi empat tipe yaitu A, B, C, dan D.
“Secara kelas, Pasar Cilongok masuk kelas dua,” kata Agus.
Di Kabupaten Banyumas sendiri, pengkategorian pasar dibagi menjadi tiga kelas: 1, 2, dan 3. Pasar kelas 1 adalah yang paling besar dan ramai dikunjungi masyarakat, sedangkan pasar kelas 2 dan 3 lebih kecil dengan aktivitas perdagangan yang tidak begitu padat.
Untuk wilayah Banyumas Barat sendiri, Pasar Ajibarang dan Pasar Wangon merupakan contoh dari pasar kelas 1.
Agus mengungkapkan bahwa selama revitalisasi belum dilakukan, pihaknya mengusulkan agar Pasar Cilongok turun dua tipe.
“Termasuk untuk Ajibarang dan Wangon. Selama belum dilakukan revitalisasi, pasar kami usulkan turun dua tipe. Setelah revitalisasi baru naik lagi secara bertahap,” tambahnya.
Tipe pasar juga berhubungan langsung dengan besaran retribusi yang harus dibayarkan oleh para pedagang.
Dalam konteks ini, usulan penurunan tipe bukan hanya sekedar solusi sementara tetapi juga upaya strategis untuk mengurangi beban pedagang terkait retribusi hingga revitalisasi dapat dilaksanakan sepenuhnya.
Situasi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi pemerintah daerah dalam menjaga infrastruktur publik agar tetap berfungsi optimal di tengah keterbatasan anggaran.
Di lapangan, Kepala Pasar Cilongok bersama tim dari Dinperindag Banyumas terus melakukan pemantauan kondisi fisik bangunan guna memastikan keselamatan seluruh penghuni serta pengguna fasilitas publik tersebut sehingga aktivitas perdagangan tetap berjalan lancar meskipun tantangan infrastruktur masih menghantui mereka setiap harinya.
Kondisi cuaca seperti angin kencang dan hujan deras turut memperparah kerusakan bangunan yang memang sudah rapuh tersebut. Hal ini menjadi perhatian utama bagi para pemangku kepentingan karena keselamatan para pedagang dan pengunjung pasar sangat penting untuk dijaga.
Pasar tradisional seperti Cilongok memainkan peran penting dalam ekosistem ekonomi lokal di Banyumas karena menjadi pusat perdagangan bagi masyarakat setempat serta mendukung kegiatan ekonomi mikro hingga menengah. Oleh karena itu upaya perbaikan dan revitalisasi harus segera diprioritaskan untuk memastikan keberlanjutan operasionalnya.
Dalam perjalanan menuju solusi permanen diperlukan kolaborasi antara berbagai pihak termasuk pemerintah daerah dinas terkait serta komunitas pedagang itu sendiri agar dapat menemukan solusi inovatif guna mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.
Sebagai langkah jangka panjang perlu dipertimbangkan pula penggunaan material konstruksi yang lebih tahan lama serta desain struktur bangunan yang dapat bertahan terhadap kondisi cuaca ekstrem demi meminimalisir risiko keruntuhan di kemudian hari. (yda/stch)
















