Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Jepara Art Carnival 2025 Kembali Hadir, Meriahkan Hari Jadi ke-80 Jateng
Perjalanan Seni Mbah Gembot, Pelukis Inspiratif dari Cilacap Menembus Panggung Kanvas Dunia
Harga Beras di 191 Daerah Masih Tinggi

Perjalanan Seni Mbah Gembot, Pelukis Inspiratif dari Cilacap Menembus Panggung Kanvas Dunia

Pasar ikan hingga dermaga selalu jadi inspirasiPasar ikan hingga dermaga selalu jadi inspirasi

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Di sebuah rumah sederhana di pinggiran Cilacap, aroma khas cat minyak berpadu dengan angin laut yang menyelinap melalui jendela. Di sudut ruangan, kanvas-kanvas bertumpuk seperti lembaran memori yang menantikan untuk diceritakan.

Di tengahnya duduklah Suhadi Gembot, atau akrab disapa Mbah Gembot, seorang maestro seni rupa yang telah meniti perjalanan panjang di dunia lukis sejak era 1990-an.

Mbah Gembot telah mendedikasikan hidupnya untuk seni rupa selama puluhan tahun. Meski profesi ini tidak selalu menjanjikan kemapanan finansial, ribuan karya telah lahir dari tangannya.

Beberapa di antaranya kini menghiasi ruang tamu para kolektor, tergantung megah di galeri seni ternama, dan bahkan ada yang melintasi samudra untuk terpajang di pameran internasional.

Salah satu momen paling berkesan dalam karier Mbah Gembot adalah ketika beberapa karyanya dipamerkan di Prancis.

Pengakuan internasional ini menjadi titik balik yang menguatkan keyakinannya bahwa karya dari kota kecil seperti Cilacap pun dapat bersaing dan berbicara di panggung dunia.

Namun demikian, bagi Mbah Gembot, nilai seni tidak terletak pada nominal harga. Walaupun beberapa lukisannya terjual hingga Rp 25 juta kepada kolektor-kolektor ternama termasuk seorang jenderal bintang dua, kebahagiaannya lebih besar ketika karyanya mampu ‘berbicara’ kepada hati orang lain.

“Kalau orang bisa merasakan hidup dari lukisan saya, itu lebih dari cukup,” ujarnya lembut sambil mengusap kuas yang baru saja dicelupkan ke warna biru pekat.

Perjalanan seni Mbah Gembot tidak dimulai dari ruang kelas atau sekolah tinggi seni bergengsi. Ia tumbuh di lingkungan Cilacap yang akrab dengan aroma asin laut dan hiruk pikuk pelabuhan.

Sejak muda, ia menghabiskan banyak waktu mengamati manusia, alam sekitar, dan suasana kampungnya. Semua kesan itu terekam di benaknya dan kemudian mengalir dalam bentuk goresan di buku tulis bekas sebelum akhirnya beralih ke kanvas.

Pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, ia mulai bergabung dengan komunitas seniman lokal. Pada saat itu dunia seni rupa di Cilacap masih sepi. Galeri dapat dihitung dengan jari dan pameran adalah acara langka yang hanya dihadiri oleh kalangan terbatas.

Namun justru dari situ Mbah Gembot belajar bahwa berkarya berarti menciptakan ruang sendiri tanpa harus menunggu panggung disediakan orang lain.

“Saya dulu melukis di emperan rumah atau kadang di halaman belakang. Catnya seadanya dan kuas pun buatan sendiri. Tapi rasa ingin melukis itu nggak pernah habis,” kenangnya sambil tertawa kecil.

Baru-baru ini, ia sukses menggelar pameran tunggal keenam sepanjang kariernya kembali di tanah kelahirannya yaitu Cilacap.

Pameran tersebut menghadirkan lima karya bertema Pandawa Lima namun bukan dalam penggambaran klasik tokoh wayang kulit seperti biasanya.

Dalam karya Mbah Gembot Yudistira Bima Arjuna Nakula dan Sadewa hidup dalam bahasa visual modern dengan warna-warna kontras guratan ekspresif serta simbol-simbol yang memancing tafsir mendalam.

Lima lukisan tersebut diberi judul Sang Air Sang Api Sang Angin dan Sang Pancer masing-masing menggambarkan elemen dalam diri manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Yudistira melambangkan ketenangan Bima adalah kekuatan Arjuna memancarkan keindahan sementara Nakula dan Sadewa mewakili harmoni serta kesetiaan.

“Mereka itu bukan cuma tokoh pewayangan saja. Dalam setiap orang ada sifat Pandawa dan semua sifat itu perlu seimbang,” jelasnya penuh makna.

Meskipun persiapan pameran terbilang singkat Mbah Gembot tetap menjaga kualitas setiap karya hingga menemukan ‘suara’ yang tepat bagi dirinya sendiri melukis bukan sekadar memindahkan ide ke kanvas tetapi menanti momen ketika lukisan tersebut seolah ‘menyapa balik’ sang pelukis.

Pencapaiannya di tingkat internasional tidak membuat Mbah Gembot meninggalkan kampung halamannya.

Ia tetap memilih Cilacap sebagai pusat kegiatan seninya karena menurutnya dari sinilah ia menemukan bahan cerita yang tak pernah habis mulai dari pasar ikan wajah-wajah nelayan anak-anak bermain di dermaga hingga pohon kelapa yang berdiri tegak di garis pantai semuanya adalah ‘model’ sejati dalam karyanya.

Meski pernah menikmati sorotan media internasional keseharian Mbah Gembot tetap sederhana baginya pameran adalah ajang silaturahmi bukan sekadar transaksi ekonomi semata.

Ia meyakini bahwa seni merupakan jembatan antargenerasi lewat pameran pula ia mengajak anak muda untuk mengenal serta melestarikan seni rupa sebagai bagian penting dari peradaban kita.

“Kalau tidak ada yang melanjutkan kita bisa kehilangan jati diri seni itu bagian dari peradaban,” tegasnya penuh harapan akan masa depan seni rupa tanah air.

Melalui karya-karya Mbah Gembot para pengunjung seolah diajak masuk ke ruang sunyi namun penuh warna terdapat ketegangan kelembutan hingga misteri yang memanggil mata.

Tak heran jika banyak kolektor jatuh hati bukan hanya pada estetika tetapi juga cerita dibalik setiap karya tersebut baginya melukis adalah cara berdialog dengan diri sendiri.

“Kanvas itu seperti cermin kadang saya melukis untuk memahami perasaan saya sendiri,” ungkapnya reflektif.

Perjalanan panjang Mbah Gembot membuktikan bahwa seni dapat berkembang meski jauh dari pusat industri kreatif asalkan ada kesetiaan serta cinta terhadap proses kreatif itu sendiri.

Dari Cilacap ia berhasil menembus batas bahasa dan budaya membawa pesan universal bahwa warna serta bentuk dapat bicara kepada siapa saja dimana saja kapanpun diperlukan.

Di ruang kerjanya yang sederhana beliau terus berkarya mungkin suatu hari nanti sebuah kanvas lagi akan menyeberangi lautan membawa cerita baru seperti kisah sebelumnya namun bagi Mbah Gembot hal paling penting adalah agar lukisan tersebut sampai ke hati orang karena disitulah sebenarnya tempat dimana seni benar-benar hidup. (jul/stch)

Berita Sebelumnya
Jepara art carnival 2025 kembali hadir, meriahkan hari jadi ke 80 jateng

Jepara Art Carnival 2025 Kembali Hadir, Meriahkan Hari Jadi ke-80 Jateng

Berita Selanjutnya
Harga beras di 191 daerah masih tinggi

Harga Beras di 191 Daerah Masih Tinggi