BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang, saat ini menjadi momentum krusial untuk melakukan reorganisasi kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ajang penting ini biasanya memunculkan berbagai dinamika suksesi, di mana para kader akan berebut posisi di dalam struktur organisasi.
Selain itu, muktamar ini juga akan menentukan arah gerakan jam’iyah selama lima tahun ke depan.
Menyikapi fenomena tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hasani Jatimulyo Alian, Gus Fachrudin Ahmad Nawawi mengingatkan bahwa reorganisasi seharusnya dipahami sebagai bagian dari mekanisme organisasi yang bersifat periodik.
Ia menekankan pentingnya seluruh kader untuk tidak berlebihan dalam menyikapi proses tersebut.
“Reorganisasi ini sebenarnya hanya estafet kepemimpinan. Ini rutinitas periodik yang sudah menjadi tradisi di NU sejak dulu. Siapapun yang terpilih, pada hakikatnya hanya melanjutkan amanah jam’iyah, bukan memulai dari nol,” ujar Gus Fachrudin saat ditemui di kompleks Ponpes Al Hasani pada Minggu (10/5).
Gus Fachrudin menjelaskan bahwa ada hal yang jauh lebih signifikan daripada sekadar pergantian ketua atau penyusunan struktur baru.
Ia menggarisbawahi visi dan misi NU sebagai organisasi keagamaan sekaligus sosial terbesar di Indonesia.
Dalam pandangannya, hiruk-pikuk kontestasi pemilihan justru berpotensi mengaburkan tujuan besar yang telah diemban oleh NU sejak didirikan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1926.
“Jangan sampai kegiatan rutinitas mengalihkan visi besar NU. Kalau energi kita habis untuk berebut posisi, siapa yang memikirkan pesantren kecil di pelosok, ekonomi warga nahdliyin yang masih lemah, atau dakwah digital yang masih perlu dikejar?” katanya dengan nada prihatin.
Dalam menghadapi proses reorganisasi ini, Gus Fachrudin juga menyampaikan harapannya agar semua pihak dapat menjalankannya dengan akhlak yang sesuai dengan nilai-nilai NU, yaitu musyawarah, tawadhu, dan mengutamakan kemaslahatan bersama.
Ia meyakini bahwa perbedaan pilihan adalah hal yang wajar dalam organisasi sebesar NU.
Namun demikian, ia memperingatkan agar perbedaan tersebut tidak sampai menimbulkan perpecahan di antara para kader.
“Silakan berproses, tapi setelah selesai, semua harus kembali satu barisan. Kepemimpinan boleh berganti, tetapi khidmah untuk umat, bangsa, dan agama tidak boleh berhenti,” ucapnya penuh keyakinan.
Penting untuk dicatat bahwa Muktamar NU ke-35 bukan hanya sekadar agenda internal organisasi semata.
Lebih dari itu, muktamar ini memiliki dampak luas terhadap masyarakat Nahdliyin dan Indonesia secara keseluruhan.
Sebagai salah satu ormas terbesar di Tanah Air, keputusan-keputusan yang diambil dalam muktamar ini akan berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan sosial dan keagamaan.
Gus Fachrudin juga menyoroti pentingnya membangun solidaritas di antara sesama kader NU selama proses reorganisasi ini berlangsung.
Dalam suasana kompetitif seperti ini, sering kali muncul potensi konflik atau ketegangan antarpendukung calon pengurus baru.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh kader untuk tetap menjaga sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan pendapat.
“Di dalam tubuh besar NU ini terdapat banyak pemikiran dan pandangan berbeda. Mari kita jadikan perbedaan sebagai kekuatan kita untuk saling melengkapi daripada sebagai alasan untuk terpecah belah,” tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, Gus Fachrudin juga menyinggung tantangan-tantangan yang dihadapi oleh umat Islam saat ini.
Terutama dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat.
Menurutnya, dakwah digital merupakan salah satu fokus utama yang harus diperhatikan oleh pengurus baru nanti.
Dengan hadirnya platform digital baru-baru ini seperti media sosial dan aplikasi berbagi video, ada peluang besar bagi NU untuk menjangkau generasi muda dan memperluas pengaruhnya.
“Kita perlu menjadikan dakwah digital sebagai salah satu prioritas utama agar pesan-pesan Islam bisa tersampaikan dengan baik kepada masyarakat luas,” ujarnya.
Gus Fachrudin juga berharap agar pengurus baru nanti dapat berkolaborasi dengan berbagai pihak guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nahdliyin secara umum.
Dia mengingatkan tentang pentingnya memberdayakan pesantren-pesantren kecil serta membantu masyarakat dalam bidang ekonomi agar bisa lebih mandiri.
Dalam konteks ini penting bagi setiap anggota jam’iyah untuk memahami bahwa peran mereka sangat vital dalam memastikan keberlanjutan misi NU sebagai organisasi yang peduli terhadap umat dan bangsa.
“Kita harus ingat bahwa tujuan kita terlebih dahulu adalah untuk memberikan manfaat bagi orang lain,” katanya menegaskan kembali prinsip dasar dari gerakan Nahdlatul Ulama.
Melihat ke depan menuju Muktamar ke-35 mendatang, Gus Fachrudin optimis bahwa proses reorganisasi kali ini akan berjalan lancar jika semua pihak mau berkomitmen untuk menjaga persatuan dan kesatuan serta menjalankan nilai-nilai akhlakul karimah dalam setiap langkah mereka.
“Saya percaya dengan komitmen dan niat baik kita semua untuk membangun NU menjadi lebih baik lagi ke depannya,” tutupnya penuh harapan.
Dengan persiapan matang serta dukungan dari seluruh elemen jam’iyah Nahdlatul Ulama, Gus Fachrudin meyakini bahwa muktamar mendatang akan menjadi titik balik bagi kemajuan umat Islam Indonesia secara keseluruhan. (mam/stch/dda)
















