BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Sebanyak 30 mahasiswa dari Program Studi Teknik Sipil Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen baru-baru ini melaksanakan studi lapangan yang menarik di Markas Kepolisian Sektor (Polsek) Prembun.
Kegiatan ini dipandu oleh dosen pendamping Noor Adi Wibowo ST, M.Eng, yang berperan penting dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada para mahasiswa selama observasi.
Kunjungan ini tidak hanya sekadar aktivitas akademis, tetapi juga merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk mendalami aspek konstruksi dan arsitektur dari bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi, terutama karena dibangun pada era kolonial.
Kedatangan mahasiswa tersebut disambut dengan hangat oleh pihak Polsek Prembun.
Kapolsek, AKP Awaludin Solih, SH, MPd, secara langsung turun tangan untuk menyambut para mahasiswa dan mendampingi mereka dalam melakukan observasi terhadap bangunan bersejarah ini.
Kehadiran Kapolsek menunjukkan dukungan institusi terhadap kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh mahasiswa, sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara dunia akademis dan institusi pemerintah.
Selama proses observasi, para mahasiswa melakukan pengumpulan data yang mendalam mengenai berbagai aspek bangunan tersebut.
Mereka menganalisis jenis-jenis material yang digunakan dalam konstruksi, struktur bangunan secara keseluruhan, serta pemanfaatan ruang di dalamnya.
Hal ini sangat penting mengingat Markas Polsek Prembun bukan hanya sekadar tempat kerja bagi anggota kepolisian, tetapi juga dilindungi sebagai cagar budaya yang memiliki daya tarik tersendiri bagi berbagai kelompok dan komunitas yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang sejarah dan arsitektur bangunan tersebut.
Mahasiswa bernama Arya mengungkapkan kesan positif terhadap kegiatan ini.
Dia menyatakan bahwa studi lapangan seperti ini memberikan perspektif baru baginya tentang dunia teknik sipil.
“Studi lapangan semacam ini menyadarkan kami bahwa Teknik Sipil bukan ilmu yang berdiri sendiri. Di lapangan banyak keputusan yang tidak hanya ditentukan oleh perhitungan angka, namun juga harus memperhatikan aspek ekonomi, sosial bahkan budaya,” ungkapnya pada Kamis (28/5).
Pernyataan Arya mencerminkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya interdisipliner dalam bidang teknik sipil.
Kegiatan ini tidak hanya mengedukasi mahasiswa tentang aspek teknis dari sebuah bangunan, tetapi juga mendorong mereka untuk berpikir kritis mengenai bagaimana faktor sosial dan budaya dapat mempengaruhi desain dan konstruksi suatu proyek.
Dalam konteks Indonesia yang kaya akan warisan budaya, pemahaman semacam ini sangat krusial untuk menghasilkan insinyur-insinyur masa depan yang tidak hanya terampil secara teknis tetapi juga peka terhadap nilai-nilai lokal dan sejarah.
Proses pembelajaran melalui studi lapangan semacam ini merupakan bagian integral dari kurikulum pendidikan teknik sipil di UMNU Kebumen.
Dengan menerapkan teori-teori yang dipelajari di dalam kelas ke dalam praktik langsung di lapangan, mahasiswa dapat melihat dan merasakan tantangan nyata yang dihadapi dalam dunia konstruksi. (mam/stch/dda)
















