BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Sejak tahun 2019, Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja Cilacap telah mencatat pencapaian luar biasa dalam usaha pelestarian penyu di pesisir pantai Cilacap.
Hingga tahun 2025, lebih dari 7.000 telur penyu berhasil diselamatkan dan sekitar 6.400 tukik sukses menetas, sebuah prestasi yang tidak hanya membanggakan tetapi juga menarik perhatian dunia internasional.
Keberhasilan ini bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah atau instan. Perjalanan panjang yang penuh tantangan dimulai dengan keterbatasan sumber daya dan akses pada garis pantai sepanjang 25 kilometer tersebut.
Koordinator Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja Cilacap, Jumawan, mengenang kembali masa-masa awal yang penuh perjuangan itu.
“Dulu tahun 2019 sampai 2023 kami patroli jalan kaki sejauh 12 kilometer, bolak-balik setiap malam,” ujar Jumawan mengenang betapa beratnya medan yang harus dilalui timnya demi menjaga kelangsungan hidup penyu-penyu tersebut.
Pada masa-masa awal, dukungan bagi kegiatan konservasi ini sangat minim. Tim konservasi hanya mampu menjangkau sebagian kecil dari area pantai karena keterbatasan tenaga dan sarana transportasi.
Namun demikian semangat untuk melestarikan penyu tidak pernah surut. Dengan dedikasi, kelompok ini terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat setempat terutama para nelayan mengenai pentingnya melindungi telur-telur penyu.
“Kami tidak membeli telur penyu, tapi mengganti dengan ucapan terima kasih,” tambah Jumawan, menjelaskan pendekatan persuasif yang mereka gunakan untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam upaya konservasi tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli telur dari nelayan.
Titik balik bagi kelompok ini terjadi pada akhir tahun 2023 ketika bantuan motor trail dari pemerintah datang sebagai angin segar yang memperluas jangkauan patroli hingga mencakup seluruh bentangan pantai dari Pantai Sodong di Adipala hingga Pantai Jetis di Nusawungu.
“Kalau dulu hanya sebagian, sekarang kita bisa pantau seluruh bentangan pantai hingga 25 kilometer,” ungkap Jumawan dengan penuh optimisme.
Tidak berhenti sampai di situ, Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja juga menjalankan program edukasi Konservasi Penyu untuk anak-anak sekolah di pesisir selatan.
Program ini bertujuan menanamkan kesadaran pentingnya pelestarian lingkungan sejak dini kepada generasi muda terutama anak-anak nelayan.
“Anak-anak nelayan kami edukasi. Harapannya ketika orang tuanya menemukan telur penyu mereka bisa mengingatkan agar diserahkan ke konservasi,” jelas Jumawan.
Keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam kegiatan konservasi ini berbanding lurus dengan hasil yang dicapai yaitu penyelamatan lebih dari 7.000 telur dan penetasan sekitar 6.400 tukik sejauh ini.
Meski demikian perlu ditekankan bahwa proses konservasi tetap memerlukan biaya operasional tinggi serta ketekunan dalam merawat tukik-tukik tersebut selama masa inkubasinya yang berlangsung antara 47 hingga 67 hari.
“Setiap hari kami harus memberi pakan dari kerang kupas serta mengganti air laut di bak penampungan,” kata Jumawan lagi menceritakan rutinitas harian timnya dalam merawat tukik-tukik tersebut agar dapat tumbuh sehat dan siap dilepasliarkan ke habitat aslinya kelak.
Komitmen kuat para relawan dalam mendukung upaya pelestarian penyu tercermin dari inisiatif mereka menggunakan dana pribadi untuk keperluan seperti pompa air dan pakan saat anggaran terbatas atau bahkan habis sama sekali.
Namun kondisi ini tidak menyurutkan semangat kelompok untuk terus mencari solusi efisiensi biaya salah satunya adalah menemukan alternatif pakan tukik yang lebih murah namun tetap berkualitas baik.(rey/dda)
















