BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Sungai Gintung di Desa Jembangan, Kecamatan Punggelan, menjadi pusat perhatian ribuan orang. Sekitar 11 ribu warga dari berbagai wilayah memadati aliran sungai sepanjang 500 meter tersebut untuk mengikuti ritual tahunan Gramak Iwak.
Tradisi ini merupakan perebutan ikan tanpa alat bantu dalam rangka Ruwat Bumi yang diselenggarakan untuk menyambut Tahun Baru Islam, 1 Muharam 1447 Hijriah.
Tidak hanya ikan air tawar seberat total 600 kilogram yang menjadi sasaran para peserta, tetapi juga masyarakat berbondong-bondong ke lapangan desa untuk berebut gunungan hasil bumi yang tersusun dari sayuran, buah-buahan, dan palawija hasil panen warga setempat.
Tradisi ini berhasil menyedot antusiasme yang luar biasa dari berbagai kalangan. Dari anak-anak hingga lansia, semuanya terjun langsung ke dalam sungai. Ada yang menyelam, ada pula yang bersorak gembira serta saling berdesakan demi menangkap ikan dengan tangan kosong.
Ketua Panitia acara ini, Jawardi, menekankan bahwa tradisi Gramak Iwak bukan semata-mata hiburan rakyat.
“Tradisi ini memiliki nilai edukatif dan kultural yang kuat,” ujarnya.
Gramak Iwak kali ini menebarkan sebanyak 600 kilogram ikan di Sungai Gintung dengan tujuan tidak hanya untuk memeriahkan ruwat bumi tapi juga guna mengajak masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan dan ekosistem sungai.
“Sungai adalah sumber kehidupan yang harus dijaga,” tegas Jawardi pada Selasa (22/7).
Menurutnya, antusiasme warga yang datang dari berbagai desa hingga luar Banjarnegara menunjukkan bahwa tradisi ini memiliki daya tarik kuat sebagai potensi wisata budaya berbasis kearifan lokal.
Anggota DPRD Jawa Tengah, Saiful Hadi, turut hadir dalam prosesi ruwatan tersebut dan memberikan apresiasi kepada masyarakat Jembangan atas usaha mereka melestarikan tradisi warisan leluhur ini. Menurut Saiful Hadi, Gramak Iwak bukan hanya sebuah tradisi namun juga pernyataan identitas budaya.
“Ini adalah tradisi yang sangat bagus dan harus terus dilestarikan. Selain bentuk syukur di bulan Sura, kegiatan ini juga mempererat solidaritas warga serta memperkuat jati diri budaya Banjarnegara,” ujarnya.
Adanya partisipasi dari berbagai kalangan menunjukkan bahwa acara ini sudah menjadi bagian integral dari kehidupan sosial masyarakat setempat.
Tradisi Gramak Iwak sendiri telah dikenal luas sebagai salah satu wujud rasa syukur atas berkah alam sekaligus ajang silaturahmi bagi warga sekitar. Keberlanjutan acara ini diharapkan dapat terus menguatkan hubungan antarwarga serta menjaga nilai-nilai kebudayaan lokal.
Kehadiran begitu banyak orang dari berbagai latar belakang usia dalam acara tersebut juga mencerminkan keberhasilan panitia dalam mengemas acara agar tetap relevan dan menarik bagi generasi muda maupun tua.
Dengan meningkatnya minat terhadap kegiatan berbasis kearifan lokal seperti ini, potensi pengembangan pariwisata budaya di Banjarnegara pun semakin terbuka lebar.
Pemandangan semarak di Sungai Gintung saat pelaksanaan Gramak Iwak benar-benar menggambarkan bagaimana kebudayaan lokal dapat menggerakkan massa dan menciptakan ikatan sosial yang kuat antarwarga.
Keberhasilan penyelenggaraan acara tahun ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk lebih mengeksplorasi dan mempromosikan kearifan lokal masing-masing sebagai daya tarik wisata.
Jawardi berharap ke depannya tradisi semacam ini tidak hanya dipandang sebagai sekadar hiburan tahunan saja namun juga mendapatkan dukungan lebih dari pihak terkait agar bisa menjadi salah satu ikon wisata budaya andalan daerah tersebut.
Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat setempat diharapkan kegiatan seperti Gramak Iwak dapat terus berkembang serta memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sekitar.
Pentingnya menjaga keberlanjutan acara seperti Gramak Iwak terletak pada upayanya dalam mempromosikan kesadaran lingkungan kepada generasi mendatang sambil tetap merayakan warisan budaya nenek moyang mereka dengan penuh rasa syukur dan kebanggaan. (jud/stch)
















