BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Desa Tanjunganom di Kecamatan Rakit, Banjarnegara, menjadi saksi riuhnya ratusan warga yang berkumpul untuk mengikuti tradisi Parak Iwak.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian tradisi ruwat bumi, di mana warga beramai-ramai turun ke kolam besar untuk menangkap ikan lele dengan tangan kosong.
Dua kolam berukuran 20 x 50 meter dipenuhi oleh semangat dan tawa saat para peserta berlomba menangkap ikan tanpa alat bantu apapun.
Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya lokal tetapi juga menghadirkan suasana unik yang penuh keceriaan.
Beberapa warga bahkan menggunakan pakaian yang mereka kenakan sebagai alat bantu menangkap ikan. Salah satu peserta perempuan bernama Romlah berbagi pengalamannya dalam kegiatan tersebut.
“Susah kalau pakai tangan, ini sudah lama tapi belum berhasil. Jadi pakai baju daster aja. Ini sudah dapat lima ekor ikan lele,” kata Romlah sambil tertawa.
Baginya, acara Parak Iwak bukan hanya soal seberapa banyak ikan yang bisa ditangkap, melainkan juga tentang kebersamaan yang tercipta di antara para peserta.
“Ini (lele) nanti mau langsung dimasak, mau digoreng. Semoga tradisi ini terus diadakan karena jadi tambah akrab sesama warga,” tambahnya penuh harap.
Kepala Desa Tanjunganom, Suwahyo, mengungkapkan bahwa setengah ton ikan lele telah disiapkan untuk meramaikan kegiatan ini.
Kolam-kolam tersebut dibagi menjadi dua bagian terpisah yang masing-masing diperuntukkan bagi peserta laki-laki dan perempuan.
“Jenis ikan yang ditabur itu ikan lele sebanyak setengah ton. Ada dua kolam, satu untuk bapak-bapak, satunya untuk ibu-ibu,” ujar Suwahyo kepada Banyumas Ekspres pada Rabu (9/7).
Dia menjelaskan lebih lanjut bahwa Parak Iwak adalah salah satu kegiatan dalam rangkaian ruwat bumi yang memiliki tujuan mulia selain melestarikan budaya lokal.
Tradisi ini juga bertujuan mendorong masyarakat untuk lebih menyukai konsumsi ikan sebagai sumber pangan sehat.
“Jadi ini merupakan rangkaian dari kegiatan ruwat bumi. Dengan adanya tradisi ini harapannya masyarakat jadi suka makan ikan, apalagi di sini banyak warga yang pekerjaannya adalah budidaya ikan dengan berbagai jenis,” jelas Suwahyo dengan penuh harapan.
Tradisi Parak Iwak bukanlah hal baru di desa ini. Namun setiap tahunnya antusiasme warga tidak pernah surut.
Hal ini menunjukkan bahwa kebersamaan dan budaya lokal tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat Banjarnegara.
Parak Iwak tak sekadar tradisi tahunan; ia adalah sarana mempererat tali persaudaraan antarwarga sambil mengingatkan pentingnya konservasi budaya serta gizi seimbang melalui konsumsi ikan.
Semangat gotong royong dan kebersamaan tampak nyata saat seluruh lapisan masyarakat terlibat aktif dalam acara tersebut.
Bagi anak-anak hingga orang tua, momen seperti Parak Iwak menjadi pengalaman berharga dalam memahami nilai-nilai luhur budaya leluhur mereka sekaligus memupuk rasa cinta terhadap tanah kelahiran.
Sementara itu, bagi pelaku usaha budidaya ikan setempat, acara ini dapat menjadi ajang promosi tidak langsung atas produk perikanan lokal mereka kepada masyarakat luas serta pengunjung dari luar daerah yang turut hadir menyaksikan kemeriahan acara tersebut.
Meskipun tantangan modernisasi sering kali membayangi kelestarian tradisi-tradisi lokal seperti Parak Iwak, tekad kuat komunitas untuk mempertahankannya tetap terlihat solid.
Keseluruhan rangkaian acara ruwat bumi termasuk Parak Iwak mengajarkan bahwa warisan budaya bukanlah sesuatu yang hanya tertinggal di belakang, tetapi harus terus dijaga agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya dengan makna dan manfaat yang tetap relevan sepanjang masa. (jud/stch)
















