BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Sekolah Rakyat akan menggunakan tiga kurikulum pembelajaran yang unik dan komprehensif, tidak hanya berfokus pada aspek akademik tetapi juga karakter siswa.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat, M Nuh, yang menjelaskan bahwa kurikulum ini dirancang secara khusus agar proses pendidikan dapat berjalan optimal dan menyeluruh.
M Nuh memaparkan bahwa ada tiga jenis kurikulum dalam Sekolah Rakyat. Pertama adalah kurikulum persiapan yang akan diterapkan sebelum proses belajar mengajar resmi dimulai pada pertengahan Juli 2025.
Kurikulum ini berfungsi sebagai tahap awal untuk melakukan pemetaan kondisi dan posisi siswa secara menyeluruh.
“Kurikulum persiapan diarahkan untuk pemetaan awal terkait kondisi dan posisi para murid, sehingga berbagai tes dan upaya perbaikannya dilakukan pada sesi ini. Mulai dari persiapan terhadap kondisi fisik, kedisiplinan, kesetiakawanan, kesehatan, hingga ukuran kemampuan akademik masing-masing dari mereka,” ujarnya di kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Selasa (20/5).
Nuh juga menekankan pentingnya aspek psikometrik dan psikologis dalam tahap awal ini, guna menggali potensi setiap siswa secara mendalam.
“Semua kita ukur, kita bangun di situ. Nanti tak kalah penting psikometrinya, psikologisnya. Kita ingin tahu betul (potensinya, red),” tambah mantan Menteri Pendidikan Nasional tersebut.
Calon siswa Sekolah Rakyat rencananya akan mulai masuk asrama pada bulan Juni untuk memulai masa pelatihan intensif sebagai bagian dari persiapan menghadapi pembelajaran formal.
Kurikulum kedua yang akan diterapkan adalah Kurikulum Nasional, yang sudah disusun oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen). Kurikulum ini siap pakai dan menjadi fondasi utama pembelajaran siang hari bagi para siswa Sekolah Rakyat.
Sedangkan kurikulum ketiga disebut sebagai kurikulum malam hari. Kurikulum ini difokuskan pada penguatan karakter siswa, pendidikan kebangsaan, nilai keagamaan, dan keterampilan hidup (life skill) yang esensial untuk membentuk pribadi yang mandiri dan berdaya.
“Jadi siang itu belajar pakai Kurikulum Nasional, malam pakai Kurikulum ini. Kan ini boarding (jadi kegiatan sampai malam, red),” jelas Nuh.
Selain persiapan kurikulum, proses seleksi calon kepala sekolah dan guru pun mulai digelar.
Dari sekitar 600 calon kepala sekolah, 190 orang sudah lolos seleksi tahap wawancara yang berlangsung minggu ini. Sementara untuk seleksi calon guru dijadwalkan mulai pada minggu depan.
Sebagai mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Nuh optimis Sekolah Rakyat yang akan dimulai pada tahun ajaran baru nanti bisa berjalan lancar meskipun ini merupakan program baru.
“Tentu, meski program ini baru, persiapannya sudah matang. Kualitas akan tetap dijaga,” ungkapnya.
Target pembukaan 100 Sekolah Rakyat pada tahun ini dianggap realistis dan bukan hal yang mustahil, mengingat kebutuhan yang sangat besar. Menurut Nuh, skala yang besar diperlukan karena jumlah keluarga miskin yang tersebar tidak hanya sedikit.
“Yang terpenting adalah span of control. Karena yang miskin bukan 100-200 orang saja. Jadi memang butuh untuk dibuka dalam jumlah banyak. Kalau hanya satu dua yang dibuka, yang lain harus menunggu giliran dan lama lagi dong,” paparnya.
Sementara itu, Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mengungkapkan sebanyak 65 Sekolah Rakyat sudah siap beroperasi tahun ini. Sekolah-sekolah ini diperkirakan mampu menampung sekitar 6.800 siswa dari keluarga kurang mampu.
Jumlah tersebut mengalami peningkatan dari rencana awal sebanyak 53 titik sekolah yang dijadwalkan buka pada Juli mendatang.
“Sekarang terus berproses, masih ada sekitar 35 lagi yang sedang didalami dan kemungkinan lebih dari 30 dinyatakan layak,” kata Gus Ipul.
Kementerian Pekerjaan Umum tengah melakukan proses penilaian kelayakan lokasi sekolah tambahan ini. Jika semua lolos uji kelayakan, maka kapasitas siswa yang akan bersekolah bisa mencapai 10 ribu orang.
“Kemensos bersama Kementerian PU sedang bekerja keras agar pada Juli 2025 bisa memenuhi target 100 titik,” tambahnya.
Dalam mendukung implementasi Sekolah Rakyat, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah.
Ia sudah melakukan koordinasi dengan berbagai pemerintah daerah guna memastikan kelancaran pembukaan sekolah di wilayahnya masing-masing.
Setidaknya, terdapat 351 usulan lokasi Sekolah Rakyat dari 24 provinsi dan 298 kabupaten/kota yang telah terdata.
“Sebab, Sekolah Rakyat sangat erat kaitannya dengan Pemda khususnya soal lahan, perizinan, akses jalan, air hingga listrik. Kemudian juga berkaitan dengan guru, anak muridnya, perlu kerja sama dengan Pemda,” jelas Tito.
Selain itu, pemerintah daerah juga telah disiapkan draf Peraturan Daerah dan perjanjian kerja sama dengan Kementerian Sosial terkait pemanfaatan aset daerah untuk Sekolah Rakyat. (*)
















