BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Di Kabupaten Cilacap, produksi udang vaname menunjukkan tren stagnan. Namun, meskipun kelesuan produksi sedang terjadi, udang vaname tetap menjadi fokus bagi investasi karena kualitas dan harga jualnya yang tinggi di pasaran. Udang ini masih menjadi komoditas unggulan yang menarik perhatian banyak pihak.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap, Theresia Triastuti, menjelaskan bahwa meskipun banyak tambak udang di wilayah tersebut tidak terisi penuh, potensi pasar untuk udang vaname masih sangat besar.
“Meski mengalami kelesuan produksi dengan penurunan dari 5.379 kg di tahun 2023 menjadi 5.364 kg, udang vaname tetap menjadi primadona ekspor,” ungkap Theresia.
Fenomena ini menunjukkan bahwa permintaan pasar global terhadap udang vaname masih tinggi. Sebagai salah satu komoditas ekspor andalan, nilai transaksi dari udang vaname cukup mengesankan. Pada tahun 2025, nilai transaksi komoditas ini diperkirakan mencapai Rp 424 miliar.
“Angka ini tidak hanya mencerminkan besarnya pasar tetapi juga potensi keuntungan yang bisa didapatkan dari investasi di sektor ini,” tambahnya.
Dalam menghadapi tantangan kelesuan produksi, Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap berusaha keras untuk meningkatkan ekspor ke sejumlah negara di Eropa.
Langkah ini diambil untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus mengoptimalkan potensi yang ada agar sektor perikanan budidaya kembali bergairah.
Udang vaname menjadi pilihan utama bukan hanya karena pasarnya yang luas tetapi juga karena potensi keuntungan yang menjanjikan bagi para investor.
Di sisi lain, kualitas udang vaname dari Cilacap telah mendapat pengakuan secara internasional sehingga mampu bersaing dengan komoditas serupa dari daerah lain.
Pendekatan strategis yang dilakukan oleh Dinas Perikanan juga melibatkan peningkatan kualitas teknologi budidaya serta manajemen sumber daya manusia yang lebih baik dalam pengelolaan tambak-tambak udang tersebut. Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan dan daya saing komoditas unggulan ini di pasar internasional.
Dengan berbagai upaya tersebut, harapan untuk mengatasi stagnasi dalam produksi udang vaname mulai terlihat nyata.
Keberhasilan dalam menembus pasar Eropa akan membuka peluang-peluang baru dan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal serta taraf hidup masyarakat sekitar yang bergantung pada sektor perikanan.
Theresia juga menyampaikan bahwa selain faktor pasar dan investasi, edukasi kepada para petani tambak tentang teknik budidaya yang lebih efektif dan efisien terus dilakukan oleh Dinas Perikanan. Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanpa harus menambah lahan tambak baru.
Tidak dapat dipungkiri bahwa upaya menghidupkan kembali geliat produksi udang vaname membutuhkan sinergi dari berbagai pihak termasuk pemerintah daerah dan pelaku usaha perikanan. Kolaborasi ini penting untuk menciptakan ekosistem bisnis perikanan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Dengan demikian, meski saat ini produksi masih stagnan, optimisme akan kebangkitan sektor budidaya udang vaname tetap tinggi. Dukungan pemerintah dalam bentuk kebijakan pro-investasi dan pembinaan kepada pelaku usaha menjadi kunci utama dalam memaksimalkan potensi besar komoditas unggulan ini.
Di tengah tantangan global ekonomi saat ini, inovasi serta adaptasi terhadap perubahan menjadi hal esensial agar komoditas seperti udang vaname terus berdaya saing dan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat Cilacap dan sekitarnya. (jul/stch)
















