BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 ditetapkan sebesar 5,4 persen. Optimisme terhadap pencapaian ini diungkapkan oleh Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso.
Menurutnya, proyeksi perbaikan ekonomi global serta langkah-langkah strategis pemerintah dalam memperkuat stimulus domestik akan menjadi pendorong utama tercapainya target tersebut.
Susiwijono menjelaskan bahwa sejumlah lembaga internasional telah memprediksi peningkatan pertumbuhan ekonomi dunia. Pada tahun 2026, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan mencapai 3,1 persen, naik dari 3,0 persen pada tahun sebelumnya.
“Dengan program-program pemerintah yang kita andalkan, pemerintah sangat optimistis target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen pada 2026 bisa kita capai bersama-sama,” ujarnya pada Selasa (19/8).
Selain itu, risiko global yang selama ini menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi dinilai mulai terkendali. Beberapa isu geopolitik seperti ketegangan antara Rusia dan Ukraina serta konflik Israel-Palestina mulai mereda.
Kebijakan tarif perdagangan yang diterapkan oleh Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump juga tidak lagi memberikan dampak besar seperti sebelumnya.
Di dalam negeri sendiri, konsumsi masyarakat yang merupakan salah satu indikator penting bagi perekonomian menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sebesar 4,97 persen.
Pemerintah berkomitmen untuk terus melanjutkan pemberian insentif dan stimulus ekonomi guna menjaga daya beli masyarakat serta mendorong aktivitas ekonomi lebih lanjut.
Perjanjian dagang strategis juga diperkirakan akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pada tahun 2026, sejumlah perjanjian penting seperti Indonesia–EU CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement), Eurasia FTA (Free Trade Agreement), dan kesepakatan perdagangan dengan Kanada akan mulai berlaku penuh.
Perjanjian ini bertujuan untuk membuka akses pasar dan menurunkan tarif ekspor hingga 0 persen ke Eropa.
Susiwijono menyatakan bahwa dengan adanya perjanjian ini, pemerintah memperkirakan ekspor ke Uni Eropa dapat meningkat hingga 50 persen.
“Banyak sekali kesepakatan ekonomi dan perdagangan kita, sehingga peluang untuk masuk ke pasar-pasar global, terutama untuk mendorong ekspor akan jauh lebih tinggi lagi pada 2026,” tambahnya.
Implementasi dari berbagai kebijakan perdagangan tersebut tidak hanya akan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional tetapi juga mendukung upaya diversifikasi pasar ekspor.
Dengan demikian, Indonesia tidak hanya bergantung pada beberapa negara mitra dagang utama tetapi juga dapat memperluas jangkauan pasarnya secara global.
Pemerintah menyadari bahwa tantangan yang dihadapi masih cukup besar. Namun dengan strategi yang tepat dan kolaborasi semua pihak terkait, tantangan tersebut dapat diatasi.
Selain itu, ada keyakinan bahwa perbaikan infrastruktur dan inovasi teknologi akan turut mendukung pencapaian target ekonomi ini.
Inovasi teknologi terutama dalam sektor industri dan perdagangan diharapkan mampu meningkatkan efisiensi serta produktivitas yang berujung pada peningkatan daya saing produk-produk Indonesia di pasar internasional.
Pemerintah juga mendorong sektor swasta untuk aktif berpartisipasi dalam pengembangan teknologi guna mendukung kegiatan ekspor.
Sebagai bagian dari upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut, pemerintah juga merencanakan peningkatan investasi terutama di sektor-sektor strategis seperti energi terbarukan dan teknologi informasi.
Investasi ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dalam konteks regional ASEAN sendiri, Indonesia terus berupaya memperkuat kerjasama dengan negara-negara tetangganya guna menciptakan kawasan yang stabil dan sejahtera secara ekonomi.
Kerja sama ini meliputi berbagai bidang mulai dari perdagangan hingga pendidikan dan kebudayaan yang semuanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat ASEAN secara keseluruhan.
Pada akhirnya, pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen bukan hanya tentang angka statistik saja tetapi juga tentang upaya mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia.
Susiwijono menekankan pentingnya kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah serta dukungan dari masyarakat luas dalam mewujudkan visi tersebut.
Kerjasama lintas sektoral antara pemerintah dengan dunia usaha serta masyarakat sipil dinilai sangat krusial dalam mengatasi berbagai tantangan yang muncul sepanjang perjalanan menuju tahun 2026 ini.
Pemerintah berharap kolaborasi ini dapat berjalan harmonis demi tercapainya tujuan bersama yaitu kesejahteraan rakyat dan kemajuan bangsa.
Dalam menghadapi dinamika perekonomian global maupun domestik ke depan tentu diperlukan kebijakan-kebijakan adaptif yang responsif terhadap perubahan situasi agar pembangunan nasional tetap berada pada jalur yang benar sesuai dengan rencana jangka panjang pembangunan nasional.
Dengan demikian optimisme terhadap masa depan perekonomian Indonesia tetap terjaga karena didukung oleh kebijakan-kebijakan strategis serta kerjasama semua pihak terkait sehingga cita-cita mencapai kesejahteraan bersama dapat terwujud sesuai dengan harapan kita semua pada tahun-tahun mendatang. (*/stch)
















