BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Wakil Bupati Banjarnegara, Wakhid Jumali, baru-baru ini melakukan kunjungan kerja ke Kecamatan Madukara dan Pagentan.
Kunjungan ini bertujuan untuk menjaring aspirasi warga desa, memperkuat komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat serta mengevaluasi langsung pelaksanaan program pembangunan desa yang sedang berjalan.
Dalam kunjungan tersebut, ditemukan bahwa produk unggulan desa seperti salak dan kopi Banjarnegara masih memiliki nilai jual yang rendah di pasar.
Di hadapan para kepala desa dan pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Madukara, Wakhid menekankan pentingnya inovasi dalam pengemasan produk unggulan tersebut agar dapat meningkatkan nilai jualnya.
“Produk salak dan kopi Banjarnegara punya potensi, tapi harus dikemas menarik dan dipasarkan dengan strategi. Pemberdayaan ekonomi itu harus dimulai dari desa, karena tanpa desa yang kuat, kemiskinan tidak akan teratasi,” ujar Wakhid dalam pertemuan yang berlangsung pada hari Senin (4/8).
Wakhid juga menyampaikan kekhawatirannya mengenai posisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Banjarnegara yang masih berada di tingkat bawah di provinsi Jawa Tengah.
Menurutnya, tantangan ini menjadi pemicu bagi pemerintah daerah untuk mendorong percepatan pelaksanaan program strategis seperti pembangunan infrastruktur pertanian.
“IPM kita masih berada di posisi dua terbawah di Jawa Tengah. Maka dari itu, kami terus cari peluang anggaran ke pusat,” tegasnya.
Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengalokasikan dana untuk pembangunan Bendungan Clangap. Hingga kini, proyek ini memperoleh alokasi sebesar Rp 48 miliar, naik signifikan dari anggaran semula hanya Rp 9 miliar.
Alokasi dana ini bertujuan untuk mendukung petani agar tidak mengalami gagal panen akibat kekurangan pasokan air untuk irigasi.
Pelaksana Tugas (Plt) Camat Madukara, Hari Arumbinuko, menyoroti berbagai potensi lokal yang belum tergarap secara maksimal. Salah satu masalah utama adalah rendahnya harga komoditas pertanian seperti salak dan durian.
“Harga salak di tingkat petani hanya sekira Rp 2 ribu per kilogram,” ungkap Hari. Situasi ini diperparah dengan adanya anak-anak yang harus ikut Sekolah Rakyat karena kendala ekonomi keluarga mereka. Hari berharap adanya intervensi program dari pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat.
Dari sisi pemberdayaan ekonomi desa, Ketua BUMDes Blitar, Khodirin melaporkan bahwa unit usaha ayam petelur dan kolam ikan yang dikelola oleh BUMDes telah memberikan kontribusi sebesar Rp 70 juta ke kas desa tahun lalu.
Selain kontribusi finansial kepada desa, BUMDes juga menjalankan program sosial seperti ‘Jumat Berkah’ yang bertujuan membantu fakir miskin di komunitas setempat.
“Tahun ini kami mendapat tambahan modal Rp 163 juta untuk ekspansi usaha,” jelas Khodirin.
Kunjungan kerja Wakil Bupati ini tidak hanya sebagai bentuk perhatian terhadap perkembangan ekonomi desa tetapi juga sebagai upaya konkret membangun sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi secara menyeluruh.
Dengan adanya dialog langsung antara aparatur pemerintah dan warga desa, diharapkan berbagai aspirasi dan kebutuhan masyarakat dapat terserap dengan baik sehingga langkah-langkah strategis bisa dirumuskan lebih efektif.
Ke depan tantangan besar bagi Banjarnegara adalah bagaimana memanfaatkan seluruh potensi lokal secara optimal sambil terus memperbaiki indikator pembangunan manusia yang ada saat ini.
Peran aktif semua pihak mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam mengatasi berbagai permasalahan struktural yang ada. (jud/stch)
















