BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), terutama hama penggerek batang, masih menjadi ancaman serius bagi produktivitas tanaman cengkeh di Kabupaten Banjarnegara.
Hama tersebut tidak hanya menurunkan hasil panen, tetapi juga berpotensi menyebabkan kematian tanaman apabila tidak segera dikendalikan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, dilakukan Gerakan Pengendalian (Gerdal) OPT di Desa Pesangkalan sebagai upaya melindungi tanaman cengkeh sekaligus meningkatkan pengetahuan petani mengenai teknik pengendalian yang ramah lingkungan.
Program pengendalian tersebut melibatkan petani, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), serta Balai Proteksi Tanaman (BPT) Provinsi Jawa Tengah.
Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap kerusakan tanaman dapat ditekan sehingga produktivitas perkebunan cengkeh di Banjarnegara tetap terjaga.
Koordinator Kelompok Kerja Tanaman Hortikultura dan Perkebunan BPT Provinsi Jawa Tengah, Didik Yuswandriyo, menjelaskan bahwa hama penggerek batang menjadi salah satu penyebab utama menurunnya produktivitas kebun cengkeh di berbagai wilayah.
Serangan hama tersebut mampu merusak jaringan batang tanaman hingga menyebabkan tanaman mati.
Menurutnya, serangan hama dan penyakit pada tanaman cengkeh cukup beragam, namun penggerek batang menjadi ancaman paling serius karena dampaknya sangat besar terhadap keberlangsungan tanaman.
Oleh sebab itu, gerakan pengendalian dilakukan secara terpadu agar penyebaran hama tidak semakin meluas ke lahan perkebunan lainnya.
Didik mengungkapkan bahwa tingkat kerusakan tanaman akibat serangan penggerek batang diperkirakan telah mencapai sekitar 25 hingga 30 persen.
Angka tersebut menunjukkan perlunya langkah cepat dan berkelanjutan agar kerugian petani tidak semakin besar.
Dalam kegiatan Gerakan Pengendalian OPT, petani diarahkan menggunakan agen hayati sebagai solusi pengendalian yang lebih aman bagi lingkungan.
Beberapa agen hayati yang dimanfaatkan antara lain Beauveria, Metarhizium, dan Trichoderma.
Ketiga mikroorganisme tersebut dikenal efektif membantu mengendalikan hama maupun penyakit tanaman tanpa menimbulkan dampak negatif seperti penggunaan pestisida kimia secara berlebihan.
Selain penggunaan agen hayati, petani juga memperoleh bantuan pupuk yang dipadukan dengan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria).
Kombinasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesehatan tanaman, memperkuat daya tahan terhadap serangan penyakit, serta mendukung pertumbuhan tanaman cengkeh agar lebih optimal. (far/stch/dda)














