Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
BPBD Banjarnegara Ingatkan Bahaya Sedimentasi Waduk Mrica, Warga Diminta Waspada
Debit Air Irigasi Menyusut Drastis, DPPP Purbalingga Imbau Warga Stop Buang Sampah Sembarangan

Debit Air Irigasi Menyusut Drastis, DPPP Purbalingga Imbau Warga Stop Buang Sampah Sembarangan

Sampah Sumbat Irigasi SlingaSampah Sumbat Irigasi Slinga
BERSIH SALURAN: Petani bersama petugas membersihkan tumpukan sampah di saluran Irigasi Slinga

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Penumpukan sampah rumah tangga di Saluran Irigasi Slinga, Kabupaten Purbalingga, menjadi perhatian serius karena menyebabkan debit air irigasi menyusut hingga 50 persen.

Kondisi tersebut terjadi di tengah musim kemarau ketika kebutuhan air untuk sektor pertanian justru semakin meningkat.

Berkurangnya kapasitas aliran air dikhawatirkan mengganggu pasokan irigasi bagi ribuan hektare lahan pertanian yang tersebar di enam kecamatan.

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian dan hasil panen para petani.

Kepala Bidang Prasarana dan Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Purbalingga, Budi Prayitno, menjelaskan bahwa penumpukan sampah di saluran irigasi sudah berlangsung sejak April 2026.

Sampah yang terus berdatangan setiap hari membuat aliran air terhambat sehingga volume air yang mengalir ke area persawahan semakin berkurang.

Menurut Budi, pada musim kemarau seperti saat ini debit air memang mengalami penurunan secara alami.

Namun, keberadaan sampah memperparah kondisi sehingga kemampuan saluran dalam mengalirkan air ke lahan pertanian turun hingga sekitar 50 persen.

“Karena sampah setiap hari selalu ada, debit irigasi menjadi tidak maksimal. Kalau kita lihat bisa sampai mengurangi 50 persen. Air sedang sulit di musim kemarau, ditambah sampah yang mengurangi debit irigasi tentunya sangat disayangkan,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).

Saluran Irigasi Slinga merupakan salah satu jaringan irigasi penting di Kabupaten Purbalingga.

Air dari saluran tersebut mengairi lahan pertanian di Kecamatan Kaligondang, Kejobong, Bukateja, Kemangkon, Purbalingga, hingga Kalimanah.

Dengan luas wilayah layanan yang cukup besar, terganggunya aliran air dapat berdampak langsung terhadap aktivitas pertanian masyarakat.

Untuk menjaga distribusi air tetap berjalan, DPPP Kabupaten Purbalingga bersama petani dan petugas Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) terus melakukan pembersihan saluran irigasi.

Sebanyak 10 petugas operasional diterjunkan untuk membantu mengangkat tumpukan sampah yang menyumbat aliran air.

Frekuensi kegiatan pembersihan juga ditingkatkan. Jika sebelumnya hanya dilakukan setiap hari Jumat, sejak awal Juli 2026 pembersihan dilakukan setiap hari Senin hingga Jumat.

Bahkan, apabila volume sampah meningkat, kegiatan pembersihan dapat dilaksanakan pada akhir pekan agar aliran air tetap lancar.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga pasokan air irigasi bagi petani selama musim kemarau.

Namun, pemerintah menilai pembersihan rutin saja belum cukup apabila masyarakat masih membuang sampah ke saluran irigasi.

Budi menegaskan bahwa persoalan sampah di jaringan irigasi bukan hanya terjadi di Irigasi Slinga.

Permasalahan serupa juga ditemukan di sejumlah saluran irigasi lainnya di wilayah Kabupaten Purbalingga.

Karena itu, diperlukan kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan saluran air.

Masyarakat diimbau tidak lagi membuang sampah rumah tangga ke sungai maupun saluran irigasi.

Sebagai alternatif, warga dapat memanfaatkan fasilitas pengelolaan sampah yang tersedia di desa masing-masing atau mengolah sampah secara mandiri sesuai jenisnya.

Menjaga kebersihan saluran irigasi menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan daerah.

Aliran air yang lancar tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan irigasi sawah, tetapi juga mengurangi risiko kekeringan pada lahan pertanian saat musim kemarau berlangsung.

DPPP Purbalingga berharap seluruh elemen masyarakat dapat berperan aktif menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Dengan demikian, fungsi saluran irigasi dapat tetap optimal sehingga pasokan air bagi sektor pertanian tetap terjaga dan produktivitas petani tidak terganggu meski menghadapi musim kemarau. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Kapasitas Tampung Waduk Mrica Delapan Persen

BPBD Banjarnegara Ingatkan Bahaya Sedimentasi Waduk Mrica, Warga Diminta Waspada