Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

47 Korban Korban KMP Tunu Pratama Jaya Berhasil Dievakuasi

47 korban berhasil dievakuasi47 korban berhasil dievakuasi

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Tim SAR gabungan melanjutkan upaya pencarian korban tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya dengan mengevakuasi dua jenazah pada Jumat (11/7). Informasi ini disampaikan oleh Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Ribut Eko Suyatno.

Jenazah pertama ditemukan mengambang di sekitar Perairan Muncar, Banyuwangi pada pukul 09.30 WIB.

“Jenazah kemudian kami evakuasi ke darat melalui pelabuhan perikanan Muncar dengan RIB Pos SAR Banyuwangi sekitar pukul 09.50 WIB,” ujarnya pada awak media.

Selang waktu tak begitu lama, tim KN SAR 249 Permadi melaporkan penemuan satu jenazah lainnya di Perairan Blimbingsari, Banyuwangi sekitar pukul 11.19 WIB. Setelah ditemukan, jenazah tersebut dievakuasi menggunakan sekoci menuju darat melalui Pantai Boom.

“Kedua jenazah yang diduga kuat merupakan korban dari KMP Tunu Pratama Jaya kemudian dibawa ke RSUD Blambangan untuk proses identifikasi lebih lanjut oleh tim DVI Polri,” tambah Eko yang juga berperan sebagai Koordinator Misi SAR pada operasi ini.

Eko menjelaskan bahwa KRI Spica 934 dan tim ahli PUSHIDROSAL telah melakukan tiga fase pencitraan bawah air menggunakan teknologi canggih seperti Magnetometer, Multibeam Echosounder, dan Side Scan Sonar dalam upaya mencari bangkai kapal serta korban lainnya.

Selain itu, KRI Pulau Fanildo 732 dan KAL Sembulungan bersama tim penyelam dipersiapkan untuk melakukan pencarian di bawah air dengan bantuan ROV (Remotely Operated Vehicle), sebuah perangkat yang dapat menjelajah dasar laut secara lebih efektif.

Insiden tragis ini bermula ketika Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya dilaporkan terbalik dan tenggelam di Selat Bali saat dalam perjalanan dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk di Bali.

Operasi pencarian ini telah memasuki hari kesepuluh sejak kejadian pertama kali dilaporkan.

Upaya penyelamatan dan evakuasi terus dilakukan demi menemukan seluruh korban yang masih hilang serta memberikan kepastian bagi keluarga yang menunggu kabar tentang nasib kerabat mereka.

Pencarian ini melibatkan berbagai instansi dan peralatan canggih guna mempercepat proses penemuan. Tim SAR gabungan bekerja tanpa kenal lelah meski menghadapi kondisi cuaca yang bisa berubah sewaktu-waktu di perairan lepas Selat Bali.

Kapal-kapal besar seperti KRI Spica 934 dilengkapi alat pemindai bawah air untuk membantu menemukan bagian-bagian kapal atau barang-barang lain yang mungkin bisa memberikan petunjuk mengenai lokasi tepat kapal karam tersebut.

Sementara itu, peralatan ROV digunakan untuk menyelam hingga kedalaman tertentu tanpa membahayakan nyawa personel penyelam manusia.

Bagi keluarga korban yang menunggu kabar dari operasi pencarian ini, setiap penemuan jenazah membawa harapan sekaligus kesedihan.

Harapan bahwa mereka dapat segera mengetahui nasib orang tercinta meski dalam keadaan tak lagi bernyawa, serta kesedihan karena kehilangan anggota keluarga dalam musibah tragis ini.

Kecelakaan laut seperti yang terjadi pada KMP Tunu Pratama Jaya kembali mengingatkan pentingnya keselamatan pelayaran terutama di jalur-jalur sibuk seperti Selat Bali.

Pemerintah dan otoritas terkait diharapkan meningkatkan pengawasan serta prosedur keselamatan agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.

Sementara itu, masyarakat maritim juga didorong untuk terus waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem serta mengikuti aturan keselamatan pelayaran dengan ketat demi menciptakan lingkungan pelayaran yang lebih aman bagi semua pihak yang terlibat.

Dengan ditemukannya dua jenazah terbaru ini, jumlah total korban tewas akibat tragedi KMP Tunu Pratama Jaya bertambah. Meski demikian, tim SAR gabungan tetap optimistis akan menemukan semua korban meskipun tantangan medan pencarian cukup berat dan kompleks.

Di tengah duka mendalam ini, upaya terbaik terus dilakukan oleh seluruh pihak yang terlibat dalam operasi pencarian dan evakuasi sebagai bentuk tanggung jawab kemanusiaan terhadap para korban beserta keluarganya.

Evaluasi terhadap prosedur keselamatan pelayaran juga menjadi agenda penting agar tragedi serupa dapat diminimalisir atau bahkan dicegah sepenuhnya di masa depan. (*stch)

Berita Sebelumnya
Carlo ancelotti

Carlo Ancelotti Divonis 1 Tahun Penjara Pengadilan Spanyol karena Penggelapan Pajak

Berita Selanjutnya
Diduga meninggal sejak 2024

Humaira Asghar Ali Diduga Meninggal Sejak Oktober 2024, Ini Faktanya