BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Banjir bandang yang melanda Kecamatan Karangreja dan Mrebet pada Sabtu (24/1/2026) memberikan dampak signifikan, tidak hanya bagi permukiman tetapi juga terhadap sistem irigasi di kawasan tersebut.
Salah satu infrastruktur yang terkena dampak adalah Bendung Sipetel dan Bendung Slinga, yang sempat tersumbat oleh lumpur serta gelondongan kayu, mengancam aliran irigasi ke area pertanian.
Bendung Sipetel, yang terletak di aliran Sungai Soso di perbatasan Desa Gandasuli dan Lambur, Kecamatan Mrebet, mengalami kerusakan parah.
Kolam olaknya rusak, sementara sayap kanan hulu dan hilir tergerus oleh arus deras air.
Selain itu, saluran sepanjang sekitar 300 meter tertimbun sedimen akibat banjir ini.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Purbalingga, Hafidhah Khusniyati, menyatakan bahwa sedimentasi telah mengubah arah aliran sungai sehingga terbentuk aliran baru selebar enam meter di sisi kanan bendung.
“Akibat pintu air yang tersumbat, irigasi tidak dapat mengalir. Saluran ini krusial karena mengairi 62 hektare sawah di Desa Kradenan. Jika tidak segera dibersihkan, bisa berpotensi menyebabkan gagal panen,” ujar Hafidhah pada Rabu (28/1/2026).
Menanggapi situasi ini, DPPP langsung berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR).
Pada hari Senin (27/1/2026), personel dikerahkan untuk melakukan pembersihan bendung yang diperkirakan memakan waktu sekitar satu minggu.
“Kami juga meminta Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Mrebet untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa agar petani turut membantu proses ini. Sementara teknis pekerjaan ditangani personel bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR,” lanjut Hafidhah.
Kondisi serupa terjadi di Bendung Slinga, di mana pintu masuk air sempat tertutup oleh lumpur dan kayu gelondongan sehingga aliran irigasi menuju sawah-sawah di Kecamatan Kaligondang terhenti.
Dampaknya cukup luas dengan sawah terdampak mencapai sekitar 425 hektare yang tersebar di Desa Kalikajar, Penaruban, Kembaran Wetan, Kaligondang, Sempor Lor, dan Brecek.
Kehadiran lumpur dan kayu yang menyumbat membuat para petani harus turun tangan langsung dalam kegiatan kerja bakti.
“Senin siang dilakukan kerja bakti oleh petani di enam desa. Kemudian Selasa dilanjutkan dengan pembersihan oleh personel DPUPR yang dibantu oleh para petani. Alhamdulillah sekarang sudah mengalir lancar,” kata Hafidhah.
Ia berharap tidak terjadi banjir susulan yang kembali membawa material lumpur ke bendung.
Dalam pandangan Hafidhah, wilayah pertanian di daerah Sangkanayu dan Serang relatif aman dari kerusakan sarana irigasi.
“Di wilayah atas seperti Serang dan Sangkanayu lebih diprioritaskan bantuan kemanusiaan karena mayoritas lahannya kering. Kerusakan hanya terjadi pada jalan usaha tani sementara kami fokus menangani sarpras pertanian di wilayah bawah,” jelasnya.
Langkah cepat penanganan bencana ini menegaskan pentingnya koordinasi antarlembaga dalam merespon bencana alam yang berdampak pada sektor pertanian.
Kerugian ekonomi akibat terhentinya aktivitas irigasi dapat mempengaruhi ketahanan pangan masyarakat setempat apabila tidak segera dilakukan normalisasi saluran air.
Selain itu ancaman banjir bandang perlu menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk melakukan penanganan jangka panjang seperti perbaikan tata kelola lingkungan agar kejadian serupa dapat diminimalisir di masa mendatang. (alw/dda)
















