BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Pemerintah Kabupaten Banyumas tengah mengusung langkah strategis dengan mempersiapkan pembangunan dry port atau pelabuhan darat. Inisiatif ini diharapkan dapat mempercepat dan mempermudah proses ekspor komoditas unggulan dari daerah tersebut.
Ada tiga lokasi yang sedang dipertimbangkan untuk menjadi tempat pembangunan dry port ini, yakni Kebasen, Notog, dan area bekas Semen Bima. Dari ketiga opsi ini, Kebasen dianggap sebagai lokasi yang paling potensial.
“Di antara tiga lokasi, Kebasen memiliki tingkat visibilitas tertinggi. Kami telah melakukan pengecekan bersama Dinas Pekerjaan Umum (DPU) terkait akses menuju lokasi tersebut,” ungkap Gatot Eko, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Banyumas.
Tujuan utama dari pembangunan dry port ini adalah untuk mendorong pelaku usaha lebih aktif dalam kegiatan ekspor. Selain itu, keberadaan fasilitas ini akan membuat proses ekspor menjadi lebih efisien karena terintegrasi langsung dengan jalur logistik nasional. Dengan adanya dry port, Banyumas berpotensi menjadi pusat kegiatan ekspor dengan infrastruktur yang mendukung.
“Kemarin, Bupati telah berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Ada keinginan dari Pak Bupati untuk memiliki titik pengiriman khusus untuk ekspor. PT KAI juga menyediakan beberapa stasiun yang bisa dijadikan lokasi dry port,” jelas Gatot.
Pemerintah daerah juga sedang mempersiapkan berbagai data pendukung yang dibutuhkan, termasuk volume ekspor dari Banyumas.
Data ini akan menjadi bagian penting dalam studi kelayakan serta koordinasi antara instansi terkait. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya data dalam mendukung keputusan strategis yang diambil oleh pemerintah.
“Kami sudah diminta data volume ekspornya,” tambah Gatot, menegaskan betapa pentingnya data tersebut dalam pengambilan keputusan.
Saat ini, berbagai komoditas dari Banyumas sudah rutin diekspor ke beberapa negara. Produk-produk yang diekspor antara lain minyak atsiri, kayu olahan, dan gula kelapa.
“Volume ekspor terbesar adalah kayu olahan, diikuti oleh gula kelapa,” tutup Gatot, memberikan gambaran tentang potensi ekspor yang ada di Banyumas.
Rencana pembangunan dry port ini menunjukkan keseriusan Banyumas dalam meningkatkan daya saing ekonomi lokal di pasar global. Dengan adanya dry port, Banyumas dapat memperkuat posisinya sebagai sentra produksi dan ekspor di wilayah selatan Jawa Tengah.
Hal ini juga membuka peluang besar bagi pelaku usaha lokal untuk lebih berdaya saing di kancah internasional.
Dalam jangka panjang, dry port ini tidak hanya akan membawa manfaat bagi pelaku usaha tetapi juga bagi perekonomian daerah secara keseluruhan.
Infrastruktur yang memadai dan dukungan dari berbagai pihak akan menjadi kunci sukses dari proyek ini. Dengan demikian, Banyumas bisa menjadi model bagi daerah lain dalam mengembangkan infrastruktur pendukung ekspor.
Keseriusan pemerintah dalam proyek ini juga terlihat dari upaya mereka dalam menjalin kerja sama dengan berbagai stakeholder terkait, termasuk PT KAI yang berperan penting dalam menyediakan akses logistik. Ini adalah contoh nyata dari sinergi antara pemerintah dan BUMN dalam mendukung pengembangan ekonomi daerah.
Dengan segala persiapan yang tengah dilakukan, Banyumas optimis bahwa pembangunan dry port ini akan membawa dampak positif bagi ekonomi daerah dan mampu meningkatkan daya saing komoditas lokal di pasar global.
Proyek ini tidak hanya menjadi solusi untuk tantangan logistik tetapi juga menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Banyumas secara keseluruhan. (res/stch)
















