BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kebumen tidak henti-hentinya melakukan berbagai langkah strategis untuk mengantisipasi potensi bencana yang dapat terjadi di wilayahnya.
Sebagai daerah yang dipetakan sebagai rawan bencana, Kabupaten Kebumen memiliki tantangan besar dalam menghadapi beragam ancaman yang datang dari alam.
Dengan sedikitnya 14 jenis bencana yang teridentifikasi, mulai dari banjir, longsor, hingga kekeringan, BPBD Kebumen menyadari pentingnya kesiapan dan keterlibatan masyarakat dalam mitigasi bencana.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kebumen, Udy Cahyono, menjelaskan bahwa berdasarkan data terbaru dari BPBD Jawa Tengah hingga 4 Mei 2026, terdapat 179 kejadian atau titik bencana yang terjadi akibat cuaca ekstrem.
Kejadian tersebut mencakup bencana seperti banjir, longsor, kebakaran, dan gempa bumi.
Melihat kondisi ini, Udy menegaskan bahwa kesiapan seluruh pihak sangatlah krusial dalam upaya menghadapi potensi bencana yang mengancam keselamatan masyarakat.
Untuk itu, BPBD Kabupaten Kebumen telah melaksanakan serangkaian program peningkatan kapasitas mitigasi bencana baik bagi masyarakat umum maupun bagi personel penanggulangan bencana.
Salah satu program yang baru saja dilaksanakan adalah Peningkatan Kapasitas Linmas se-Kecamatan Pejagoan.
Dalam kegiatan ini, sebanyak 51 peserta dari berbagai perwakilan desa mengikuti pelatihan yang diadakan oleh BPBD Kebumen.
Pelatihan ini melibatkan sejumlah narasumber dari instansi terkait seperti Polsek dan Koramil setempat serta Damkar.
Udy menyampaikan bahwa materi pelatihan tersebut meliputi berbagai aspek penting dalam penanggulangan bencana.
“Khusus dari BPBD, peserta mendapatkan pelatihan tentang bongkar pasang tenda serta mountaineering dan evakuasi,” ungkap Udy.
Hal ini menunjukkan komitmen BPBD Kebumen dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat terkait penanganan bencana.
Tidak hanya itu, BPBD Kabupaten Kebumen juga menggelar peningkatan kapasitas bagi Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC PB) pada tanggal 12 Mei 2026.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan yang lebih mendalam kepada petugas TRC PB mengenai penanganan bencana.
“Materi pelatihan kali ini kami ambil dari pengalaman dan best practices yang ada di BPBD Jawa Tengah,” kata Udy menambahkan.
Udy Cahyono menggarisbawahi bahwa kegiatan-kegiatan semacam ini bukan hanya sekadar formalitas belaka.
Dalam situasi darurat, setiap detik sangat berharga dan kemampuan relawan dalam menangani situasi krisis menjadi sangat penting.
“Bencana bersifat dinamis sehingga para relawan dituntut terus meningkatkan kemampuan mereka,” ujarnya.
Dengan demikian, upaya penanganan dapat dilakukan dengan lebih efektif dan sesuai dengan harapan masyarakat yang membutuhkan pertolongan. (*/stch/dda)
















