BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Permintaan kotak budidaya lebah Trigona atau lebah tanpa sengat di Kabupaten Kebumen mengalami peningkatan menjelang musim kemarau 2026.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bangkitnya semangat para peternak lebah setelah pada tahun sebelumnya hasil panen madu menurun akibat musim kemarau yang berlangsung singkat.
Meningkatnya pesanan kotak lebah menunjukkan bahwa prospek budidaya lebah trigona kembali menjanjikan.
Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih stabil dinilai menjadi waktu terbaik bagi peternak untuk mengembangkan koloni sekaligus meningkatkan produksi madu.
Salah satu peternak lebah asal Desa Kebulusan, Kecamatan Pejagoan, Kebumen, Albait, mengatakan permintaan kotak klanceng, khususnya untuk jenis Trigona laeviceps, terus bertambah dalam beberapa waktu terakhir.
“Pesanan kotak klanceng atau lebah Trigona jenis laeviceps juga banyak. Lebah ini meski produktivitas madunya lebih rendah dibanding jenis Apis, tetapi harga madunya lebih mahal,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).
Menurut Albait, saat ini telah memasuki masa pertama hingga kedua dalam pranata mangsa, yang menjadi penanda datangnya musim kemarau.
Kondisi tersebut sangat dinantikan para peternak karena menjadi periode ideal untuk menggembalakan koloni lebah.
Pada musim kemarau, berbagai tanaman mulai berbunga sehingga menghasilkan nektar dan serbuk sari (pollen) dalam jumlah melimpah.
Ketersediaan pakan alami tersebut menjadi faktor utama yang mendukung perkembangan koloni lebah.
“Serbuk sari menjadi kunci dalam budidaya lebah. Jika pollen tersedia melimpah, koloni akan berkembang lebih cepat karena ratu lebah menjadi lebih produktif bertelur,” jelasnya.
Albait menjelaskan, terdapat beberapa jenis lebah trigona yang banyak dibudidayakan masyarakat, di antaranya Itama, Laeviceps, Clypearis, dan beberapa jenis lainnya.
Masing-masing memiliki karakteristik berbeda, baik dari segi produksi madu maupun cita rasa.
Salah satu yang cukup diminati adalah lebah Itama yang berasal dari Kalimantan maupun Jawa.
Menurutnya, madu dari lebah trigona memiliki rasa yang cenderung lebih asam dibanding madu lebah biasa.
Namun, madu tersebut dipercaya memiliki kandungan propolis yang lebih tinggi sehingga banyak dicari masyarakat karena dianggap memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan.
“Rasa madunya memang lebih asam, tetapi kandungan propolisnya lebih tinggi sehingga banyak orang yang mencarinya,” kata Albait.
Meski produksi madu lebah trigona tidak sebanyak lebah Apis mellifera, nilai jualnya justru lebih tinggi.
Kondisi inilah yang membuat semakin banyak peternak tertarik mengembangkan budidaya lebah tanpa sengat.
Selain menerima pesanan kotak untuk lebah Laeviceps, Albait juga melayani pembuatan topping log bagi koloni Itama maupun jenis trigona lainnya.
Tidak hanya itu, permintaan kotak budidaya untuk lebah Apis mellifera dan Apis cerana juga mengalami peningkatan menjelang musim kemarau.
Meningkatnya permintaan perlengkapan budidaya lebah menjadi indikator bahwa sektor peternakan lebah mulai kembali bergairah setelah sempat mengalami penurunan produksi pada tahun sebelumnya.
Para peternak berharap kondisi cuaca yang lebih mendukung tahun ini mampu meningkatkan hasil panen madu sekaligus memberikan keuntungan ekonomi yang lebih baik.
“Mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik dan membawa berkah. Semoga peternakan lebah di Indonesia semakin maju ke depannya,” pungkas Albait.
Dengan kondisi musim kemarau yang diprediksi lebih ideal, budidaya lebah trigona diperkirakan akan terus berkembang.
Selain menghasilkan madu bernilai ekonomi tinggi, usaha ini juga berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui proses penyerbukan berbagai tanaman, sehingga memberikan manfaat bagi sektor pertanian maupun ekosistem secara keseluruhan. (mam/stch/dda)
















