Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Kemenag Kebumen Dorong Madrasah Aktif Publikasi Prestasi untuk Tingkatkan Kepercayaan Masyarakat
Mahasiswa UIN Saizu Purwokerto Raih Medali Nasional Lewat Inovasi Tong Sampah Pintar Bertenaga Surya

Mahasiswa UIN Saizu Purwokerto Raih Medali Nasional Lewat Inovasi Tong Sampah Pintar Bertenaga Surya

Ciptakan Tong Sampah Pintar Bertenaga SuryaCiptakan Tong Sampah Pintar Bertenaga Surya
INOVASI: Shofia Hafshah Nisa Arrohmah dan Handaka Laila Yekti menunjukkan SOLTRASH, tong sampah pintar bertenaga panel surya yang mengantarkan keduanya meraih Bronze Medal pada ajang nasional Idea Festival 5 (IDF 5) 2026

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Permasalahan sampah yang terus meningkat di berbagai wilayah perkotaan mendorong lahirnya inovasi kreatif dari kalangan mahasiswa.

Berangkat dari keresahan terhadap tumpukan sampah yang sering meluber karena terlambat diangkut, dua mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto berhasil menciptakan tong sampah pintar bertenaga surya bernama SOLTRASH.

Inovasi ramah lingkungan tersebut mengantarkan Shofia Hafshah Nisa Arrohmah dan Handaka Laila Yekti, mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Saizu, meraih Bronze Medal pada ajang Idea Festival 5 (IDF 5) 2026 tingkat nasional.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi tepat guna yang sederhana, efisien, sekaligus berkelanjutan.

Shofia mengungkapkan bahwa ide membuat SOLTRASH muncul setelah melihat kondisi tempat sampah di sejumlah kawasan perkotaan yang sering penuh dan meluber karena keterlambatan proses pengangkutan.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya mengganggu kebersihan lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan.

“Dari kondisi tersebut, kami berpikir bahwa teknologi sederhana yang dipadukan dengan energi terbarukan dapat menjadi solusi,” ujarnya.

Menurut Shofia, meningkatnya volume sampah setiap tahun membutuhkan sistem pengelolaan yang lebih modern.

Selain keterbatasan lahan tempat pembuangan, proses pemantauan tempat sampah juga masih banyak dilakukan secara manual sehingga kurang efisien.

Melalui SOLTRASH, mereka mencoba menghadirkan solusi berbasis teknologi yang mampu membantu petugas kebersihan mengetahui kondisi tempat sampah secara real time tanpa harus melakukan pengecekan satu per satu.

Tong sampah pintar ini dilengkapi berbagai teknologi pendukung. Salah satunya adalah sensor ultrasonik yang memungkinkan tutup tong terbuka secara otomatis ketika pengguna mendekat dan kembali menutup setelah sampah dibuang.

Sistem tersebut membuat penggunaan tempat sampah menjadi lebih praktis sekaligus lebih higienis karena pengguna tidak perlu menyentuh tutup tong secara langsung.

Selain itu, SOLTRASH juga memiliki sensor berat yang berfungsi mendeteksi kapasitas sampah di dalam tong.

Ketika volume sampah mulai penuh, sistem akan memberikan informasi sehingga petugas dapat segera melakukan pengangkutan sebelum sampah meluber.

Seluruh perangkat elektronik pada SOLTRASH memperoleh sumber energi dari panel surya, sehingga tidak bergantung pada listrik konvensional.

Pemanfaatan energi matahari membuat alat ini lebih hemat energi sekaligus mendukung konsep pembangunan berkelanjutan dan penggunaan energi terbarukan.

Keunggulan lainnya, kondisi tong sampah dapat dipantau melalui aplikasi Blynk.

Melalui platform tersebut, data mengenai kapasitas sampah dapat diakses secara real time sehingga proses pengelolaan menjadi lebih efektif dan efisien.

Meski berhasil meraih penghargaan nasional, perjalanan pengembangan SOLTRASH tidak berlangsung mudah.

Shofia mengaku bersama tim membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk menyelesaikan perangkat utama, belum termasuk tahap pengujian dan penyempurnaan sistem.

Di tengah kesibukan menjalani perkuliahan, mereka juga harus menghadapi berbagai kendala teknis, mulai dari kesalahan pada pemrograman (coding) hingga gangguan pada rangkaian perangkat keras (hardware).

“Sekitar satu bulan belum termasuk uji coba karena banyak terhambat aktivitas lain. Bahkan saat lomba kami belum bisa memperlihatkan prototype yang benar-benar sempurna. Kendala lainnya ada pada coding yang masih error serta rangkaian hardware yang sempat bermasalah,” jelasnya.

Namun berbagai hambatan tersebut justru menjadi pengalaman berharga yang mendorong mereka terus melakukan penyempurnaan terhadap inovasi yang telah dikembangkan.

Shofia berharap SOLTRASH tidak berhenti hanya sebagai karya kompetisi, tetapi dapat diterapkan secara nyata di berbagai ruang publik seperti sekolah, kampus, taman kota, pusat perbelanjaan, hingga kawasan permukiman.

Menurutnya, penerapan teknologi sederhana berbasis energi terbarukan dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih.

“Semoga inovasi ini dapat segera diterapkan di masyarakat sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan secara langsung. Kami juga berharap semakin banyak generasi muda yang menghadirkan inovasi untuk menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan demi masa depan yang lebih bersih, hijau, dan lestari,” tuturnya.

Prestasi yang diraih dua mahasiswa UIN Saizu Purwokerto tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus berangkat dari teknologi yang rumit.

Berawal dari kepedulian terhadap persoalan sampah di sekitar, mereka mampu menghadirkan solusi yang memadukan teknologi digital, Internet of Things (IoT), serta energi surya menjadi sebuah sistem pengelolaan sampah yang lebih modern.

SOLTRASH menjadi contoh bahwa kreativitas generasi muda dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan sekaligus mendorong lahirnya kota-kota cerdas (smart city) yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Kakankemenag Dorong Madrasah Perkuat Kehumasan

Kemenag Kebumen Dorong Madrasah Aktif Publikasi Prestasi untuk Tingkatkan Kepercayaan Masyarakat