BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Aktivitas masyarakat di dua kecamatan di Kabupaten Banjarnegara terganggu setelah Jembatan Gantung Purwonegoro–Kincang ambruk akibat putusnya sling baja penyangga.
Jembatan sepanjang 72 meter yang melintasi Sungai Serayu tersebut selama ini menjadi jalur utama penghubung Desa Purwonegoro, Kecamatan Purwanegara, dengan Desa Kincang, Kecamatan Rakit.
Peristiwa yang terjadi pada pekan lalu sekitar pukul 16.00 WIB itu tidak menimbulkan korban jiwa.
Saat salah satu sling baja di sisi timur jembatan putus hingga menyebabkan konstruksi ambruk, tidak ada warga yang sedang melintas.
Meski demikian, putusnya jembatan memberikan dampak besar terhadap aktivitas masyarakat.
Jalur tersebut merupakan akses utama yang setiap hari digunakan warga untuk bekerja, berdagang, bersekolah, hingga mengurus berbagai keperluan sehari-hari.
Akibat kerusakan tersebut, warga kini harus menggunakan jalur alternatif dengan jarak tempuh yang lebih jauh.
Kondisi ini membuat waktu perjalanan bertambah dan menghambat mobilitas masyarakat di kedua wilayah.
Sebelum ambruk, kondisi Jembatan Gantung Purwonegoro–Kincang sebenarnya telah menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
Salah satu sling baja penyangga diketahui mengalami penurunan kualitas akibat usia jembatan yang sudah cukup tua.
Kerusakan itu terus memburuk hingga akhirnya sling utama putus dan menyebabkan jembatan tidak lagi dapat digunakan.
Seorang warga setempat, Nasiyah, mengatakan kerusakan pada jembatan sebenarnya telah lama terlihat.
Menurutnya, sling baja sudah tampak berkarat sehingga warga khawatir jembatan sewaktu-waktu mengalami kerusakan yang lebih parah.
“Tali jembatan putus sekitar pukul empat sore. Kondisinya memang sudah tua dan berkarat. Alhamdulillah saat kejadian tidak ada warga yang sedang melintas sehingga tidak ada korban,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).
Nasiyah mengaku bersyukur tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Namun, ia menyampaikan bahwa masyarakat kini mengalami kesulitan karena kehilangan jalur penyeberangan tercepat menuju desa di seberang Sungai Serayu.
Selain mengganggu aktivitas harian warga, ambruknya jembatan juga berdampak terhadap kegiatan ekonomi masyarakat.
Banyak warga yang selama ini memanfaatkan akses tersebut untuk mengangkut hasil pertanian, berdagang, maupun melakukan aktivitas usaha lainnya.
Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Banjarnegara, Djarkasi, menilai Jembatan Purwonegoro–Kincang memiliki fungsi yang sangat strategis bagi masyarakat di Kecamatan Purwanegara dan Kecamatan Rakit.
Menurutnya, keberadaan jembatan tersebut menjadi salah satu infrastruktur penting yang menopang kelancaran aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
“Jembatan ini merupakan akses vital bagi warga. Dengan putusnya jembatan, aktivitas ekonomi masyarakat tentu sangat terganggu. Kami berharap penanganan dapat segera dilakukan agar akses masyarakat kembali normal,” katanya.
Hingga saat ini, masyarakat masih menunggu langkah pemerintah untuk melakukan perbaikan maupun pembangunan kembali jembatan yang rusak tersebut.
Warga berharap proses penanganan dapat segera direalisasikan mengingat pentingnya fungsi jembatan sebagai penghubung dua kecamatan.
Selama menunggu perbaikan, masyarakat terpaksa mengandalkan jalur alternatif yang lebih jauh untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.
Kondisi tersebut dinilai kurang efektif karena membutuhkan waktu tempuh lebih lama serta menambah biaya transportasi.
Warga berharap pembangunan kembali Jembatan Gantung Purwonegoro–Kincang dapat menjadi prioritas pemerintah daerah sehingga mobilitas masyarakat kembali lancar, aktivitas ekonomi pulih, dan akses pendidikan maupun pelayanan publik dapat berjalan normal seperti sebelumnya. (jud/stch/dda)
















