BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Jamaah haji Indonesia yang sedang dalam perjalanan menuju Makkah diimbau untuk waspada terhadap cuaca ekstrem yang menyambut kedatangan mereka. Di Makkah, suhu udara diperkirakan akan sangat tinggi, dengan rata-rata suhu harian di atas 40 derajat Celsius.
Bahkan, pada Jumat 23 Mei mendatang, suhu diperkirakan dapat mencapai 48 derajat Celsius, yang jauh lebih tinggi dibandingkan suhu terpanas di Indonesia sekalipun.
Meningkatnya suhu ini berisiko mengancam kesehatan jamaah, terutama dengan meningkatnya potensi terkena heatstroke atau serangan panas.
Menurut dr. Antonius Andi Kurniawan Sp.KO Subsp.ALK (k), seorang ahli kesehatan dari Siloam Mampang, cuaca panas di Makkah dapat memperburuk kondisi kesehatan jamaah yang sudah memiliki penyakit penyerta sebelum berangkat.
“Jamaah haji perlu hati-hati dengan heatstroke. Di cuaca panas seperti ini, tubuh mudah kehilangan cairan dan energi, yang dapat memicu dehidrasi dan gangguan kesehatan lainnya,” ujar dr. Antonius pada Jumat (16/5).
Menurut dr. Antonius, cara terbaik untuk mencegah heatstroke adalah dengan menjaga tubuh tetap terhidrasi. Ia menekankan pentingnya menghindari rasa haus sebelum minum, karena rasa haus menandakan tubuh sudah mengalami dehidrasi.
“Harus sering minum. Jangan tunggu haus dulu baru minum. Kalau sudah haus itu berarti tubuh sudah dehidrasi,” jelasnya.
Selain itu, menjaga suhu tubuh tetap dingin juga sangat penting. Salah satu cara yang direkomendasikan adalah dengan menyemprotkan air ke wajah ketika berada di bawah terik matahari langsung. Ini akan membantu mendinginkan tubuh dan mengurangi risiko terkena heatstroke.
Namun, yang tak kalah penting adalah proses adaptasi tubuh terhadap cuaca panas di Makkah. “Tubuh kita bisa beradaptasi dengan cuaca, jadi penting untuk melakukan latihan fisik sebelum berangkat,” kata dr. Antonius.
Latihan fisik seperti berjalan kaki dalam kondisi cuaca panas dapat membantu tubuh beradaptasi dengan suhu ekstrem di Makkah. Namun, tubuh memerlukan waktu lebih dari sekadar beberapa hari untuk benar-benar beradaptasi. Dr. Antonius menjelaskan bahwa tubuh memerlukan waktu sekitar dua minggu untuk bisa menyesuaikan diri dengan suhu yang sangat panas.
“Latihan sebaiknya dilakukan selama dua minggu agar tubuh bisa beradaptasi dengan suhu panas. Cukup dengan jalan kaki atau aktivitas fisik ringan lainnya,” tambahnya. Proses adaptasi ini sangat penting, terutama bagi jamaah haji yang tidak terbiasa dengan cuaca ekstrem.
Lebih jauh, dr. Antonius menjelaskan apa yang dimaksud dengan heatstroke, yang bisa menjadi ancaman serius bagi jamaah haji, pelari, atau siapa pun yang beraktivitas di luar ruangan dalam cuaca panas.
Ketika seseorang beraktivitas fisik di luar ruangan, tubuh mengeluarkan panas. Jika suhu luar sangat tinggi, tubuh berusaha mendinginkan diri dengan cara berkeringat. Namun, apabila keringat yang keluar terlalu banyak dan tidak diimbangi dengan cairan yang cukup, sistem pengatur suhu tubuh bisa rusak.
“Kondisi ini disebut heatstroke, yang terjadi ketika sistem pengatur suhu tubuh rusak. Itu seperti mobil yang radiatornya rusak. Kalau radiatornya rusak, mesin bisa panas dan mati,” jelas dr. Antonius.
Untuk itu, penting untuk menjaga tubuh agar tidak dehidrasi dan selalu melakukan pendinginan, seperti dengan menyemprotkan atau mengguyurkan air ke tubuh. Selain itu, latihan fisik sebelumnya sangat dianjurkan agar tubuh dapat beradaptasi dengan kondisi cuaca yang sangat panas di Makkah.
Dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat, diharapkan jamaah haji dapat menjalankan ibadah dengan aman dan sehat meskipun dihadapkan dengan cuaca ekstrem yang menyambut mereka di tanah suci. (*/stch)
















