BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjarnegara terus mempercepat pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi peserta didik seiring dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027.
Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam melakukan deteksi dini berbagai masalah kesehatan pada anak usia sekolah sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda.
Tahun ini, Dinkes Banjarnegara menargetkan pemeriksaan kesehatan terhadap sekitar 173 ribu siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Banjarnegara.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Banjarnegara, Sulistyowati, menjelaskan bahwa pelaksanaan pemeriksaan kesehatan dilakukan secara bertahap sesuai jadwal yang telah disusun bersama antara puskesmas dan pihak sekolah.
Menurutnya, kegiatan skrining kesehatan umumnya dilaksanakan pada minggu pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) atau setelahnya, tergantung kesepakatan masing-masing sekolah dengan puskesmas setempat.
“Biasanya pada minggu pertama MPLS atau setelahnya, menyesuaikan jadwal dan kesepakatan antara puskesmas dengan sekolah,” katanya.
Hingga Juli 2026, pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis di Kabupaten Banjarnegara telah mencapai sekitar 33 persen dari total sasaran.
Pemerintah pusat menargetkan seluruh peserta didik yang menjadi sasaran dapat menjalani pemeriksaan kesehatan atau mencapai 100 persen hingga akhir tahun 2026. Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menetapkan target minimal sebesar 70 persen.
Sulistyowati menjelaskan bahwa target 100 persen menjadi kewajiban khusus bagi siswa jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) karena pemeriksaan kesehatan tersebut merupakan bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.
Sasaran pemeriksaan meliputi seluruh peserta didik kelas 1 hingga kelas 9.
“Kalau SD dan SMP memang harus 100 persen karena masuk Standar Pelayanan Minimal. Sedangkan untuk SMA targetnya 70 persen,” jelasnya.
Dengan dukungan seluruh puskesmas dan sekolah, Dinkes Banjarnegara optimistis target tersebut dapat tercapai sesuai jadwal yang telah disusun.
Hasil skrining kesehatan yang telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa gangguan kesehatan gigi masih menjadi masalah paling dominan pada anak sekolah di Kabupaten Banjarnegara.
Berdasarkan data tahun sebelumnya, sekitar 65 persen siswa mengalami karies atau gigi berlubang.
Menurut Sulistyowati, tingginya angka gangguan kesehatan gigi dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari kurangnya kebiasaan menjaga kebersihan mulut, minimnya perawatan gigi, hingga pola konsumsi makanan dan minuman yang mengandung kadar gula tinggi.
“Kalau yang paling banyak tetap masalah gigi di semua jenjang. Kemungkinan dipengaruhi kebersihan mulut yang kurang terjaga, perawatan gigi, serta kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman yang manis,” ujarnya.
Temuan tersebut menjadi perhatian serius karena kesehatan gigi memiliki pengaruh terhadap kualitas hidup, kemampuan belajar, hingga status gizi anak.
Selain gangguan kesehatan gigi, Dinkes Banjarnegara juga menemukan cukup banyak kasus anemia pada remaja putri.
Berdasarkan hasil pemeriksaan tahun sebelumnya, sekitar 32 persen remaja putri mengalami anemia.
Kondisi tersebut perlu mendapatkan penanganan sejak dini karena anemia dapat menurunkan konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, serta berisiko memengaruhi kesehatan reproduksi ketika memasuki usia dewasa.
Melalui Program CKG, petugas kesehatan dapat mendeteksi kondisi tersebut lebih awal sehingga penanganan dapat segera diberikan.
Dinkes Banjarnegara memastikan setiap siswa yang ditemukan mengalami gangguan kesehatan selama pemeriksaan tidak hanya dicatat, tetapi juga akan mendapatkan tindak lanjut.
Petugas puskesmas akan memberikan surat rujukan kepada siswa yang membutuhkan pemeriksaan atau pengobatan lanjutan agar dapat memperoleh pelayanan di fasilitas kesehatan sesuai kondisi yang dialami.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan setiap peserta didik memperoleh akses pelayanan kesehatan secara cepat dan tepat.
Sulistyowati mengatakan pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis sejauh ini berjalan lancar tanpa kendala berarti.
Tantangan utama hanya terletak pada penyesuaian jadwal antara kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan agenda pemeriksaan dari masing-masing puskesmas.
Meski demikian, Dinkes Banjarnegara tetap optimistis target pemeriksaan dapat tercapai hingga akhir tahun.
Optimisme tersebut didukung oleh komitmen seluruh puskesmas yang telah menyusun jadwal pelayanan secara rutin serta kerja sama aktif dari pihak sekolah dalam menyukseskan program deteksi dini kesehatan bagi siswa.
Melalui Program Cek Kesehatan Gratis, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara berharap kondisi kesehatan peserta didik dapat dipantau sejak dini sehingga berbagai penyakit dapat dicegah maupun ditangani lebih cepat.
Program ini juga menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas kesehatan anak sekolah sekaligus mendukung terwujudnya sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berkualitas di masa depan. (far/stch/dda)














